Source: kibrisdpr.org

“Namanya juga anak muda, ye gak? Kapan lagi begini”. Perkataan tersebut rasanya sudah jadi hal yang lumrah, bukan? Katanya, “Sesuatu itu jangan diberi batas nanti jadi ga bebas dan apa-apa jadi gak puas”.

“Eh, mba mau kemana ? Udah malem…”

“Main bentar mah, masih sore ini baru jam 8”

          Yap, begitulah aku, kerjaannya main, susah diatur, dan kalau ngomong asal ngelantur. Gak usah ditanya bagaimana penampilanku, gaya tomboy dengan teman sepergaulan yang mayoritas laki-laki menambah nilai kemacoanku hehe.

          Dulu, aku susah untuk memakai kerudung, yaa paling-paling kalau pergi mengaji dengan hati dongkol atau peraturan wajib berbusana muslim dihari Jum’at saja. Soal sholat pun bolong-bolong atau paling tidak ekspress kayak JNE. Apalagi kalau sholat subuh, duh rasanya males banget deh, disaat masih enak-enak tidur, 2 rakaat doang mah  gapapa lah ya.

          Walaupun begitu, aku termasuk pendiam di keluarga, tapi bisa jadi toa masjid kalau di luar rumah. Aku yang suka teriak menagih uang kas ke anak kelas jangan diragukan lagi, itu adalah profesi andalanku. Walau terkadang tak jarang umpatan kotor keluar karena uang tak kunjung keluar dari saku teman-temanku. Soal maki-memaki gak usah dilatih lagi, dijamin udah lulus uji coba. Perkataan dan perbuatanku dulu sangat jauh dari kata wanita dan tata krama. Namun, biar pun begitu, aku masih memberikan sedikit nilai positif di sekolah kok, setidaknya aku menjadi bagian dari anggota OSIS dan duta matematika IPA.

          Hmmm, kalau dilihat-lihat dari sifatku buruk banget, bukan? Gak kepikiran deh kedepannya mau gimana. Akhlak buruk, sholat kalau inget, pakaian jauh dari syari’at agama. Ilmu agama? Jangan ditanya, sangat-sangat nol, tapi aku masih hafal rukun iman dan Islam kok, tenang.

          Kala itu, tepatnya di hari Rabu ada tayangan TV program ‘Khazanah’, kamu tau? Acara berbasis Islami yang diisi dengan kajian dan pengetahuan seputar Islam. Seketika hatiku terasa sakit ketika acara itu menayangkan tentang menutup aurat beserta adzab dan ilustrasinya, sungguh pedih.

          Biasanya aku ke sekolah tetap memakai jilbab, walau hanya bermodal 1 jarum pentul, yang penting nyangkut aja. Tetapi, pagi itu rasanya berbeda, aku memutuskan untuk lebih baik lagi berpakaian dengan memakai dalaman kerudung berwarna hitam. Aku membawanya ke kelas dan meminta salah satu teman untuk membantuku memasangnya, maklum gak pernah pakai, hehe. Setelah rapi, teman-temanku memuji dan memberi support agar aku bisa berusaha lebih baik. Aku pun mulai meng-unfollow akun-akun yang tidak berfaedah dan menambah akun-akun kajian religi di akun media sosialku. Berusaha pergi mengaji dan memperbaiki sholatku, hingga aku memutuskan untuk pergi menimba ilmu di pondok pesantren Tahfidzil Qur’an, Daru tartila, keranji.

          Sebelumnya aku gak tau kalau pondok itu untuk menghafal Quran. Yang membuatku tertarik saat itu yaitu karena ada kegiatan silat yang menjadi olahraga favorit-ku. Saat awal masuk aku kaget dan shock sekali, hampir saja aku putus asa karena teman-temanku di sana mayoritas lulusan pesantren dan sudah punya hafalan yang membuatku minder, ditambah peraturan asrama dan peraturan wajib berbahasa Arab atau Inggris. Belum lagi, kami santri baru dilarang bertemu orang tua dalam kurun waktu 2 bulan, bayangin gimana tuh? Aku yang terbiasa kemah Pramuka menganggap semua ini hanyalah perkemahan berbasis Islami.

          Waktu pun terus berjalan, hingga hari pertama ketika aku bertemu orang tua, aku menangis, tapi aku gak mau bicara perihal kesusahan di sini, aku hanya bilang: “Alhamdulillah aku betah mah, teman-teman juga baik sama aku”. Aku harap jawaban itu setidaknya dapat membuat mamaku sedikit tenang. Tak lama dari penjengukan santri baru, di pondokku ada acara tahunan, yaitu wisuda juz 30, acara tersebut bertujuan untuk memacu semangat mengaji santri baru. Aku yang tidak punya hafalan hanya bisa menangis di kamar mandi. Namun lambat laun aku berpikir, kalau aku begini terus gak akan keluar dari masalah.

          Alhamdulillah atas kuasa Allah, aku berhasil mengikuti kegiatan tahunan ini, aku ngerasain banget di mana kita harus berjuang dalam peluang dan mengikuti sambil meniti. Di mana seorang aku yang gak pernah menghafal tiba-tiba dalam waktu kurang dari 1 bulan harus menghafal 1 juz. Bagiku, itu adalah sebuah tantangan besar, but i got it! Kamu tahu? Aku pernah hampir satu minggu gak pindah lembaran iqro karena salah baca terus haha, mulai dari situ aku bangkit dan aku percaya kalau aku bisa! Mindset! Itu yang utama.

          Akhirnya, di pondok aku mulai dipercaya ustadzah untuk maju mewakili almamater pesantren dalam mengikuti perlombaan public speaking. Jujur, soal bahasa Inggris aku modal percaya diri dan muka tembok aja, gimana gak grogi? Aku berdiri di atas panggung dengan banyak penonton di bawahnya.

          Hal semacam itu terus berlanjut dan aku selalu tampil untuk kolaborasi pidato 3 bahasa dalam acara ramah tamah atau penyambutan santri baru yang disaksikan oleh wali santri. Jangan salah, di pondok pun ada organisasi seperti OSIS, tetapi setiap pesantren memiliki penyebutan yang berbeda, lumrahnya mereka disebut ‘pengurus’, terkhusus di pesantrenku namanya ISTADALA (Ikatan Santri Daru Tartila) dengan panggilan mua’allim untuk laki-laki dan mua’allimah untuk perempuan. Dari ISTADALA aku belajar bagaimana menjadi ibu, kakak, dan bagaimana harus menguatkan yang lain walau sebenarnya kita pun rapuh.

          Jujur, ini adalah amanah yang paling berat karena kita bersumpah lansung kepada Allah di atas Al-Qur’an, jadi harus sungguh-sungguh dalam menjalaninya. Ustadzah aku selalu berpesan: “Disaat kamu menjadi mua’allimah, di situ pintu untuk berbuat dosa atau pelanggaran ditutup, karena kamu harus memberikan teladan bagi adik-adik kamu. Ingat, kedisiplinan ada karena adanya keteladanan”. Dalam organisasi ini, aku menjabat sebagai sekretaris jenderal atau wakil ketua. Bismillah, pelan-pelan aku belajar memahami watak anak-anak dan segala permasalahan mereka.

          Selain mengikuti ISTADALA di pondok, aku pun diamanahi menjadi bagian tabungan santri untuk mengurus pembagian uang jajan seluruh santri. Karena di pondokku para santrinya gak boleh pegang uang lebih dari 7 ribu, sedih kan huhu. Tapi gapapa, belajar hemat! Setiap hari Minggu tugasku menjaga kantor karena hari Minggu adalah hari penjengukan dan pembayaran SPPP, uang jajan atau mungkin admistrasi lainnya. Intinya, banyak banget pelajaran yang bisa aku ambil dari tugas menjaga kantor, entah kadang cerita singkat walisantri, bagaimana caranya mengahadapi walisantri, bagaimana caranya bersikap tegas.

          Banyak pengalaman, ilmu, dan teman baru yang aku dapat dari pondok, mulai dari menjadi sekretaris jenderal, bagian tabungan santri, lomba English speaking, OSN matematika, pemimpin regu teladan, moderator seminar, terbaik dalam jawara menulis dan yang paling aku suka adalah kompora darat (Kelompok teater dan drama). Dari situ aku mulai membangun rasa percaya diri, mulai dari menulis hingga membuat naskah dan Alhamdulillah aku menjadi the best script writer of Islamic drama contest. Tapi yang utama dari semua itu adalah mengaji, dan kurasa baru sekarang aku dapat menikmati bagaimana indahnya membaca Al-Qur’an, bahkan bisa menangis jika bertemu dengan ayat yang mengandung bagaimana kemurahan Allah pada hamba-Nya.

          Alhamdulillah, dari hasil mondok aku bisa punya hafalan yang mungkin tak seberapa tapi in syaa Allah bermanfaat. Karena menurutku, sukses bukan tentang rumah megah atau mobil mewah, tapi sukses yang sesungguhnya adalah bagaimana kamu bisa melawan dirimu untuk menjadi lebih baik. Al Qur’an bukanlah sebuah pilihan, tapi apapun pilihannya Al Qur’an lah pedomannya. Bismillah untuk menjadi lebih baik, bukan merasa paling baik.

Penulis: Elinda Zuhrotun Nisa_PPTQ Daru Tartila

Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador 2.0)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *