Kenalan Lebih Jauh sama Metode Blended Learning, yuk!

source: sevima.com

          Terhitung sudah hampir 2 tahun para pelajar Indonesia harus mengikuti rangkaian pembelajaran dari rumah atau BDR (Belajar dari Rumah). Kehadiran pandemi COVID-19 agaknya membawa dampak multisektoral bagi keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia, di antaranya pada sektor ekonomi, sosial, kesehatan, bahkan pendidikan. Pada akhirnya, kegiatan belajar-mengajar pun harus dilakukan via online.

          Namun di lain sisi, Prof. Dr. Gerhard Fortwengel, salah satu guru besar University of Applied Science and Arts, Hannover Germany and Senior Experten Services (SES) Germany, menyatakan bahwa kehadiran pandemi COVID-19 justru mempercepat laju teknologi informasi di era 4.0. Bagaimana tidak? Pandemi COVID-19 seakan menjadi katalis hebat yang memicu dunia pendidikan untuk berkembang maju. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi berbasis Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

          Meski begitu, PJJ pun dirasa kurang efektif sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan bagi beberapa lapisan pelajar Indonesia. Maka dari itu, pemerintah bersikeras untuk melakukan beberapa upaya pemerataan, di antaranya dengan pemberian subsidi kuota, penayangan acara Televisi berbasis pendidikan, dan penerapan metode Blended Learning.

          Pada tulisan kali ini, kita akan berusaha menyelami pembahasan terkait Blended Learning. Sudah siap, guys? Let’s go!

          Blended Learning? Apa, tuh?

Blended Learning merupakan metode pembelajaran yang megombinasikan antara pembelajaran online dengan pembelajaran offline/face to face (Graham, 2005). Metode ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan interaktif antara sesama peserta didik, dan peserta didik dengan pendidiknya tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

          Model pengembangan Blended Learning ada berapa, sih?

Haughey (1998) mengungkapkan bahwa terdapat 3 model dalam pengembangan pembelajaran blended learning, yaitu:

1. Model web course

          Yaitu menggunakan internet sepenuhnya untuk keperluan pendidikan. Pada model ini, peserta didik tidak perlu bertatap muka karena seluruh bahan ajar, konsultasi, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya akan disampaikan melalui internet.

2. Model web centric course

          Yaitu menyatupadukan penggunaan internet dengan metode konvensional (tatap muka). 50% materi akan disampaikan melalui internet dan 50% nya lagi melalui tatap muka. Dalam model ini, pendidik dapat memberikan instruksi terkait bahan ajar atau situs relevan lainnya melalui web yang telah dibuat. Sedangkan dalam proses tatap muka, lebih mengakomodir kegiatan diskusi tentang temuan bahan ajar yang telah ditemukan dan dipelajari sebelumnya.

3. Model web enhanced course

          Yaitu memanfaatkan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka di kelas. Pada model ini, peserta didik dituntut untuk menguasai literasi informasi di internet, yaitu kecakapan untuk mencari informasi secara tepat sasaran dan efisien.

          Bagaimana tahapan dalam proses Blended Learning?

Mengacu pada pembelajaran berbasis ICT/Information and Communication Technology (Ramsay, 2001), setidaknya terdapat tiga tahapan dasar dalam proses blended learning, di antaranya:

1. Seeking of information

          Yaitu tahap pencarian informasi, baik secara online maupun offline yang didasarkan pada relevansi, validitas, reliabilitas konten, dan kejelasan akademis. Pada tahapan ini, para fasilitator pendidikan memegang peranan penting untuk memberi masukan bagi peserta didik agar dapat mencari informasi yang tepat guna.

2. Acquisition of information

          Pada tahapan ini, peserta didik secara individu maupun kelompok (kolaboratif) berupaya untuk menemukan, memahami, serta menginterpretasikan berbagai informasi yang telah diperoleh dalam bentuk komunikasi dan pendayagunaan fasilitas.

3. Syntehesizing of knowledge

          Pada tahap akhir, peserta dan tenaga pendidik diharapkan mampu merekonstruksi pengetahuan yang melalui proses asimiliasi dan akomodasi yang bertolak belakang dengan hasil analisis dan kesimpulan dari informasi yang diperoleh.

Lalu, apa sih tujuan dari adanya metode blended learning?

          1. Berusaha mengentaskan masalah pembelajaran dengan menciptakan metode pembelajaran yang fleksibel, praktis, dan bervariasi

          2. Mewadahi para peserta didik untuk mengeksplor dirinya dalam hal perefensi gaya belajar

          3. Menjadikan kelas tatap muka sebagai sarana interaktif para pendidik dengan tenaga pendidik untuk berdiskusi. Sedangkan porsi online berusaha untuk menyajikan bahan ajar yang dapat diakses tanpa mengenal waktu dan tempat.

          Sampai sini sudah jelas, bukan? Singkatnya, blended learning merupakan metode campuran antara bahan ajar elektronik (e-learning) dengan pembelajaran tatap muka. Antara e-learning dan tatap muka masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Jika dalam metode e-learning, mahasiswa dapat mengakses bahan ajar secara fleksibel, kapan saja dan di mana saja, namun acap kali materi yang disampaikan kurang dapat dipahami. Sedangkan dalam pembelajaran tatap muka, para peserta didik dapat bertemu dengan guru dan teman-teman secara langsung untuk berdiskusi mengenai materi yang kurang dipahami, namun terkadang situasi kelas yang ramai/kurang kondusif justru membuat tidak fokus. Hal itulah yang pada akhirnya mendasari terbentuknya metode Blended Learning ini.

          Nah, kalian selaku peserta didik lebih prefer ke metode belajar yang mana, nih? Eits tapi tapi… yang perlu diingat yaitu, apa pun metode belajar yang disediakan, jangan pernah dijadikan ’kambing hitam’ untuk malas belajar ya, guys! Yuhuu~ semangat untuk menjadi generasi emas Indonesia~

Penulis: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador) Batch 2

Editor: Hilya Maylaffayza


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *