Berikut adalah parafrase yang lebih bebas dan tidak tampak seperti sekadar terjemahan:
“Akhirnya… sebuah blockbuster orisinal dengan anggaran menengah!” Itulah yang langsung terpikirkan saat saya mendengar pengumuman tentang The Creator. Saya sadar mungkin tanggapan ini bisa memicu perdebatan, tetapi izinkan saya menjelaskan lebih lanjut.
Film ini memiliki anggaran produksi sebesar 80 juta USD. Meskipun ada yang berpendapat bahwa film beranggaran menengah di Hollywood biasanya berada di kisaran 75 juta, bagi saya ini tetap termasuk kategori tersebut, terutama jika dibandingkan dengan franchise blockbuster besar saat ini.
Walau begitu, harus diakui bahwa The Creator bukan sepenuhnya orisinal. Gareth Edwards, sutradara film ini, terbuka tentang pengaruh dari karya-karya seperti Star Wars dan Blade Runner, serta inspirasi visual dari Pinterest. Saya juga curiga ada sedikit pengaruh dari game Stray (2022), terutama karena desain lanskap kumuh dan kostum robot yang mirip.
Namun, film ini menyimpan lebih dari sekadar estetika visual. Ada lapisan komentar politik dan budaya yang lebih mendalam di dalamnya.
The Creator adalah film fiksi ilmiah yang menggambarkan peperangan di masa depan antara manusia (dalam film ini diwakili oleh Amerika Serikat) melawan kecerdasan buatan (AI) dan para pendukungnya, yang berbasis di Asia dan disebut sebagai “New Asia.” Film ini berfokus pada kampanye militer AS di wilayah Asia Tenggara, dengan misi untuk membunuh pemimpin tertinggi AI, beberapa tahun setelah manusia mengalahkan AI.
Salah satu daya tarik utama film ini adalah pembangunan dunia yang sangat detail dan realistis. Ceritanya menyajikan ketidakpastian dalam perang dan memperlihatkan kesenjangan sosial antara robot. Beberapa robot memiliki bentuk humanoid dan disebut sebagai “Simulant,” sementara yang lainnya hanya memiliki kepala berbentuk seperti laras senjata.
Latar film yang sepenuhnya di Asia, khususnya Indocina, menjadikan film ini masuk ke dalam subgenre Techno-Orientalism.
Techno-Orientalism
Techno-Orientalism adalah konsep budaya yang sering muncul dalam fiksi, menggambarkan dunia Timur sebagai tempat yang secara teknologi tertinggal atau justru sangat maju ketika dilihat dari kacamata Barat.
Film seperti Rambo menunjukkan bagaimana budaya Timur sering kali digambarkan sebagai terbelakang, sedangkan film seperti Blade Runner menggambarkan dunia Timur yang sangat futuristik. Keduanya dirilis pada tahun 1982, dan mencerminkan pandangan yang berbeda tentang bagaimana Timur diperlakukan di film Barat.
Di satu sisi, Rambo menunjukkan bagaimana Timur seringkali digambarkan dalam konteks konflik dan kekacauan, sedangkan Blade Runner menawarkan visi masa depan yang lebih kompleks, di mana teknologi canggih dan AI menjadi bagian integral dari kehidupan.
Lalu, di mana posisi The Creator? Film ini sebenarnya tidak berpihak sepenuhnya pada salah satu dari dua pandangan tersebut. Ia menawarkan perspektif yang lebih rumit dan tidak mudah dikotak-kotakkan.
Untuk benar-benar memahaminya, kita harus melihat dimensi lain yang ditawarkan film ini: kosmopolitanisme.
Kosmopolitanisme
Kosmopolitanisme adalah pandangan yang berlawanan dengan nasionalisme, menekankan keterhubungan global dan identitas yang melampaui batas negara.
Dalam The Creator, protagonis kita, Joshua (diperankan oleh John David Washington), awalnya adalah seorang mata-mata yang ditugaskan untuk mencari sosok Nirmata, pemimpin spiritual AI. Namun, setelah kematian kekasihnya, Maya (Gemma Chan), Joshua kehilangan arah dan motivasi.
Saat dia direkrut kembali oleh pemerintah AS, dengan janji bisa bertemu kembali dengan istrinya yang dianggap sudah meninggal, Joshua kembali ke Asia Tenggara untuk menjalankan misinya. Namun, pertemuannya dengan Alphie, seorang anak AI yang menyerupai manusia, memicu dilema moral dalam dirinya. Ia harus memilih antara menyelamatkan anak tersebut demi perdamaian global atau membunuhnya atas nama negara.
Konflik moral ini membuat The Creator berbeda dari film-film sci-fi lainnya. Film ini mengajak kita untuk melihat identitas Joshua yang kompleks, yang bukan hanya seorang tentara, tetapi juga bagian dari komunitas global yang lebih luas.
Beberapa mungkin membandingkan perjalanan Joshua dengan karakter Jake Sully di Avatar, yang berpindah dari penjajah ke pihak yang dijajah. Namun, Joshua menghadapi tantangan yang lebih filosofis, yakni bagaimana memahami peran dirinya dalam dunia yang semakin terhubung dan penuh dengan perbedaan budaya.
Dalam banyak hal, The Creator bisa dianggap sebagai gabungan dari Apocalypse Now dan Blade Runner, karena menawarkan pengalaman sinematik yang menggabungkan peperangan ala Perang Vietnam dengan latar fiksi ilmiah futuristik.
Satu hal lain yang patut diapresiasi adalah bagaimana film ini menggambarkan AI dengan sentuhan spiritual. Ada adegan-adegan di mana robot tampak menjalankan ritual keagamaan, sesuatu yang jarang dilihat dalam film sci-fi Barat. Sebagai orang Asia Tenggara, saya merasa terhibur ketika melihat adegan robot berceramah di depan anak-anak sambil memegang tasbih, atau robot yang mengendarai skuter.
Selain elemen emosional ini, perpaduan ide filosofis, budaya, dan politik dalam The Creator menjadikan film ini sebagai karya yang menarik, dengan potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh dalam sekuel-sekuel mendatang. Namun, semua tergantung pada arah yang akan diambil oleh Gareth Edwards dan timnya.
Penulis: Rafli Januardi

Leave a Reply