RETROSPEKSI MAHAKARYA BODY HORROR “VIDEODROME” (1983)

Videodrome (1983), karya David Cronenberg, merupakan film horor sci-fi yang memikat dengan kisah surrealisnya. Di dalamnya, Max Renn (diperankan oleh James Woods) mulai mengalami halusinasi setelah menonton film snuff pornografis yang mengerikan, bernama Videodrome. Ketika cerita berkembang, kita menyadari bahwa kaset tersebut memiliki kemampuan untuk memicu tumor otak dan merangsang pertumbuhan organ baru, sehingga mengubah persepsi realitas bagi para penontonnya.

Sebagaimana banyak film fiksi ilmiah, terdapat karakter seperti profesor yang terhubung erat dengan masalah utama. Dalam hal ini, kita bertemu dengan Brian O’Blivion, sosok penting dalam penciptaan Videodrome. O’Blivion akhirnya tewas setelah perselisihan dengan rekannya, yang disebabkan oleh perbedaan pandangan mereka. O’Blivion melihat fenomena teknologi ini sebagai langkah penting dalam evolusi manusia, di mana perpindahan kesadaran manusia ke layar, yang dia sebut sebagai “daging baru,” memainkan peran sentral.

Sebaliknya, rekannya ingin menjadikan Videodrome sebagai alat untuk mengendalikan tubuh dan pikiran manusia demi keuntungan pribadi. Premis ini mungkin terdengar akrab dengan zaman kita sekarang, di tengah disrupsi teknologi yang masif.

Hari ini, kebutuhan, interaksi, dan bahkan kepribadian kita berintegrasi secara mulus dalam perangkat kecil yang biasa kita sebut “smartphone.” Konsep tentang “binatang teknologi” seperti dalam Videodrome seakan-akan tengah terwujud di depan mata kita. Bayangkan jika kita kehilangan ponsel kita: kita tidak hanya kehilangan akses ke keuangan melalui mobile banking, tetapi bahkan ada produsen mobil yang menggunakan ponsel sebagai kunci kendaraan. Gadget kita, pada dasarnya, telah menjadi perpanjangan dari diri kita sendiri, “daging baru” kita.

Anda mungkin berargumen bahwa fusi teknologi dengan kemanusiaan ini sudah berlangsung sejak ditemukannya sistem tulisan. Namun, fenomena ini mewakili sesuatu yang secara kualitatif berbeda. Media audio-visual kini menawarkan kemampuan yang tidak dapat dicapai oleh teks tradisional. Kita bisa terhubung dengan orang lain seolah-olah sudah mengenal mereka secara pribadi, bahkan menjalin hubungan romantis. Fenomena ini diperparah oleh budaya oversharing di media sosial. Bagi banyak dari kita, eksistensi kita seolah-olah didefinisikan oleh kehadiran daring kita, dan gagasan tentang “menghilang” atau tidak aktif di media sosial selama lebih dari seminggu sama saja dengan kematian digital.

Di akhir film (spoiler alert), kita melihat Max Renn kehilangan kewarasannya dan didorong oleh halusinasinya tentang mantan kekasihnya untuk membuat keputusan radikal, yakni sepenuhnya bertransformasi menjadi “daging baru.” Untuk mencapai transformasi ini, dia menyadari bahwa dia harus mengorbankan tubuh fisiknya, yang pada dasarnya adalah tindakan penghancuran diri atau bunuh diri.

Perubahan dramatis dan surrealis ini menekankan eksplorasi film terhadap kekuatan media dan teknologi yang mengganggu dan mengubah eksistensi manusia, baik secara fisik maupun psikis.

Jika kita melihat ke zaman modern, refleksi Videodrome dalam masyarakat saat ini sangat mencolok, menyoroti ketergantungan kita yang begitu mendalam pada teknologi dan gadget. Fakta bahwa banyak anak muda kesulitan untuk tidak menggunakan smartphone mereka selama 10 menit saja menggambarkan betapa luasnya penetrasi teknologi dalam hidup kita.

Fenomena ini mengangkat pertanyaan penting tentang dampak teknologi modern terhadap perilaku, hubungan, dan identitas diri kita. Ini menjadi pengingat yang kuat tentang hubungan kompleks antara manusia dan alat yang mereka ciptakan—sebuah tema yang Videodrome eksplorasi dengan cara yang unik dan mengganggu.

Dan, benar adanya… Kita telah mendapatkan “daging baru” kita, secara filosofis mengorbankan daging kita yang asli.

Penulis: Rafli Januardi


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *