Problematik Da’i dalam Berdakwah di Media Massa

Media massa mengalami perkembangan yang semakin meningkat seiring dengan adanya kemajuan teknologi dan komunikasi. Media massa sebagai alat komunikasi tentunya memiliki peranan yang penting sebagai agen untuk perubahan sosial. Peranan media massa ini tidak hanya pada alat komunikasi massa, hiburan dan penyampaian infomasi/berita saja, namun juga media massa khususnya televisi telah menggunakan acara siaran yang telah diprogram untuk menyampaikan pesan-pesan agama atau ajaran agama. Maka media massa telah mengambil bagian untuk mengomunikasikan pesan atau ajaran agama kepada masyarakat luas.

Seorang da’i dalam berdakwah di media massa tentunya tak lepas dari problema-problema yang dihadapinya. Problematik dakwah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni problematik internal dan problematik eksternal. Problematik internal ini berasal dari kondisi internal dari dalam diri setiap da’i, yaitu kelemahan para da’i dalam memahami konsep agama sebagai subtansi dakwah serta kualitas keilmuan agama seorang da’i dalam berdakwah. Sedangkan problematik eksternal merupakan suatu keadaan yang menghalangi kegiatan dakwah dan berasal dari faktor luar, seperti makar yang datang dengan terus menerus dari musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, adanya upaya penghambatan, penghadangan, penghentian setiap dakwah islam oleh kelompok, organisasi, pergerakan, dan jama’ah sekali pun.

Selain itu juga terdapat problematik lain yang muncul, beberapa di antaranya yaitu: (1) Da’i kekurangan waktu dalam menyampaikan dakwahnya di media massa khususnya televisi karena adanya batasan durasi yang ditentukan sehingga materi dakwah yang disampaikannya kurang maksimal; (2) Pendakwah yang melakukan dakwahnya di media massa seperti di program acara televisi tentu dakwahnya sudah tidak murni lagi ketika disebarluaskan , karena terkadang sudah tercampur aduk dengan hiburan. Karena pada dasarnya, ketika seseorang telah masuk ke dalam dunia televisi, maka artinya sudah masuk ke lembaga bisnis yang lebih mengutamakan profit oriented yang menjadikan rating sebagai tolok ukur dalam mempertimbangkan program acara dakwah tersebut agar terus berlanjut; (3) Seseorang yang memiliki kemahiran dalam beretorika dapat dengan mudah tampil di televisi maupun radio dan dinobatkan sebagai da’i meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan dan kualitas keilmuan agama Islam uang memadai; (4) Terkadang keikhlasan seorang da’i diragukan dalam menyampaikan dakwahnya di media massa. Dalam melakukan dakwah di media massa terutama di televisi; (5) Tidak semua da’i memiliki kemampuan secara keilmuan untuk dapat mengartikulasikan bahan ajarnya depan kamera dengan singkat, padat, dan jelas. Seorang da’i bisa saja mengalami kesalahan pengucapan kata yang kemudian hal tersebut dapat menimbulkan masalah.

Penulis: Aqfifyana Balqiatus Sholechah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Penyunting: Hilya Maylaffayza (Tim Redaksi Komuniasik)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *