Dakwah merupakan proses penyampaian pesan keagamaan dari seorang da’i (komunikator) kepada audiens yang dilakukan secara sadar. Beberapa tahun silam media dakwah hanya berupa mikrofon dan mimbar yang terdapat di masjid ataupun majelis taklim saja, namun seiring berkembangnya teknologi dan informasi, media dakwah menjadi sangat beragam, dakwah pun kini bisa dilakukan melalui media massa bahkan di media sosial sekali pun.
Kalimat the future is faster than you think rupanya sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Perkembangan teknologi yang hadir dengan begitu cepat dan menuntut manusia untuk beradaptasi secara cepat pula, begitu pun dengan kegiatan berdakwah. Jika masih menggunakan sistem kontemporer yang hanya berfokus pada penyebaran agama di mushola dan majelis taklim saja, umat Islam akan semakin tertinggal. Maka dari itu, banyak ulama yang memanfaatkan media massa dan media sosial sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai keislaman.
Ketika banyak media massa yang kini mulai berbondong-bondong menjajaki dunia digital dan media sosial melahirkan banyak manfaat bagi umat manusia, khususnya untuk kegiatan berdakwah. Jika dilihat dari sudut pandamg industri media (televisi), hal ini menjadi keuntungan karena yang demikian menjadi slah satu cara untuk mempertahankan audiensnya, televisi bisa dengan mudahnya mencari pendakwah yang kondang untuk mendongkrak rating dan keuntungan yang besar tanpa mengesampingkan nilai-nilai dakwah.
Jika melihat dari perspektif media sosial, kita mendapatkan ilmu dan materi dakwah secara cuma-cuma hanya dengan berselancar di media sosial, kita bisa tahu gaya ceramah dan pemikiran para ulama dunia, bisa mengikuti kajian virtual, menyambung silaturahim dengan sesama muslim dari berbagai kalangan dan secara tidak langsung dengan masuknya dakwah ke ranah digital menandakan Islam semakin maju, mampu beradaptasi, dan mengikuti perkembangan zaman.
Tetapi sadarkah kalian, jika digitalisasi ini menimbulkan beragam problematik di dunia dakwah? Contohnya yaitu banyak pendakwah saat ini yang menjadi selebriti. Dewasa ini dengan mudahnya seseorang mendapatkan label da’i padahal latar belakang pendidikan, akhlak, dan kualitas berdakwahnya tidak memadai, hanya dipoles oleh retorika belaka. Bahkan seoang da’i pun banyak yang mengubah nama aslinya dan memakai nama panggung dengan tujuan agar terlihat lebih komersil. Seseorang bisa menjadi da’i dan berdakwah di media sosial apabila memiliki banyak followers, subscribers, dan viewers.Sementara di televisi, dakwah merupakan sebuah bisnis yang menjanjikan, dengan cara membuat program dakwah yang bentuknya hiburan semata dengan tujuan rating dan keuntungan. Perkembangan teknologi dan komunikasi merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Ketika berdakwah di manapun diharapkan seorang da’i dan pihak media dapat bersikap bijaksana dalam arti mengejar keuntungan tanpa harus mengesampingkan penyampaian ajaran agama Islam secara menyeluruh, agar media di Indonesia tidak hanya sekadar menghibur namun tetap mengedukasi masyarakat.
Penulis: Diah Ayu Pramesti R. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Penyunting: Hilya Maylaffayza (Tim Redaksi Komuniasik)

Leave a Reply