Berdakwah via Tiktok? Why Not?

Problem yang dihadapi pendakwah saat ini tidak hanya terjadi dalam media konvensional yang kita kenali seperti televisi dan radio saja. Seiring dengan perkembangan teknologi, muncul media baru seperti Youtube, Instagram, dan yang beberapa tahun kebelakang sangat menarik perhatian banyak kalangan terutama anak muda, yakni TikTok.

Tiktok menjadi platform yang pada awal kemunculannya dianggap negatif karena hanya ada konten unfaedah saja. TikTok bertransformasi menjadi salah satu media sosial yang banyak menyediakan informasi positif seperti berita yang sedang happening, tips and trik, dan masih banyak lagi konten bermanfaat yang ada di TikTok. TikTok juga dimanfaatkan sebagai media dakwah saat ini, beberapa Tiktokers (sebutan dari konten kreator di TikTok) bahkan Ustadz yang memang sudah terkenal di media massa, memanfaatkan aplikasi ini untuk menyampaikan pesan dakwah dan nilai-nilai Islami, mereka juga banyak mendapat perhatian pengguna TikTok.

Beberapa di antaranya seperti Husain Basyaiban, Zahid Samosir, Habib Husein Ja’far, Ustadz Syam, dan masih banyak lagi dengan insight followers ratusan ribu sampai jutaan orang. Beberapa ceramah dari Ustadz terkemuka yang biasanya ditampilkan di youtube, ditampilkan ulang atau di share ulang di TikTok dan mendapat banyak likes serta comment. Hal ini membuktikan bahwa berdakwah di TikTok cukup efektif untuk dilakukan. Konten bernilai keislaman yang disampaikan lewat TikTok memiliki sisi positif, di mana banyak konten yang menyajikan bagaimana cara membaca Al Quran yang benar, tajwid dan pelafalannya, berbagai akidah dan hukum agama, fiqih, bagaimana adab dalam Islam, amalan-amalan baik, bagaimana menyikapi sesuatu berdasarkan sudut pandang Islam menurut Al Quran dan hadis, dan lain sebagainya.Penyampaiannya pun jelas, mudah dipahami, dan kreatif, membuat mad’u nya tidak cepat bosan dan lebih mudah menangkap maksud dari video tersebut, adanya fitur komentar juga bisa menjadi tempat diskusi mad’u untuk menanyakan sesuatu, jadi diskusi dapat berjalan secara dua arah.

Penulis: Nurlalila Azzahra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Penyunting: Hilya Maylaffayza (Tim Redaksi Komuniasik)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *