
Tanah yang mendapat julukan Gordang Sambilan ini dikenal dengan nama Mandailing Natal, terletak di Sumatera Utara yang hampir berbatasan dengan Sumatera Barat. Meskipun orang-orang di luar Sumatera akan beranggapan bahwa Mandailing Natal mayoritas Kristen karena kata “Natal”, faktanya Mandailing Natal merupakan daerah yang diduduki oleh mayoritas muslim. Apalagi Mandailing Natal terkenal akan pesantrennya, yaitu Pesantren Musthafawiyyah.
Pesantren Musthafawiyyah yang dibangun sekitar tahun 1912-an oleh Syekh Musthafa Husein ini memiliki keunikannya sendiri, yaitu tempat tinggal para santrinya. Dalam sebuah pesantren, untuk tempat tinggal para santri dan santriwati akan di arahkan dalam sebuah asrama, agar terkontrol dan sistematis dalam penjadwalan santri dan santriwati, beda halnya dengan pesantren Musthafawiyyah, meskipun santriwati tinggal di asrama Putri, tapi untuk santri pihak pesantren menyediakan pondok kecil dengan luas 3×4 m dan menyebar di seluruh desa Purba Baru. Pondok ini biasa diisi dua sampai tiga santri, bahkan bisa sampai empat orang untuk pondok yang sedikit luas.
Jika ditanya, apa mereka mengalami kesulitan dalam aktifitasnya sehari-hari? Kebanyakan dari santri tidak mengalami kesulitan apapun, tapi untuk pertama kali kedatangan para santri di pondok butuh penyesuaian hingga akhirnya terbiasa, begitulah pengakuannya dari beberapa santri. Perlu diketahui bahwa pihak pesantren juga menyediakan pondok ini secara cuma-cuma alias gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun, akan tetapi listrik dan biaya hidup ditanggung masing-masing.
Di dalam pondok ini santri hampir melakukan semua kegiatan sehari-hari baik mengaji, sholat, memasak, muhadroh, hingga sholawatan bersama.
Tahun ini, pasantren juga mulai membenahi asrama Putra setelah kebakaran beberapa waktu lalu, bahkan menambah beberapa pondok baru untuk tempat tinggal santri sekaligus pemindahan tempat di beberapa titik. Pemindahan ini disebabkan karena beberapa faktor, baik itu jangkauan kontrol oleh pihak pesantren ataupun tempat yang sering banjir saat musim hujan.
Keunikan pondok ini sering memikat orang-orang di luar daerah. Sekedar ingin tahu, atau mensurvei lebih dalam, bahkan tak luput dari tulisan beberapa jurnalis.
Sayangnya, dibalik keunikan pondok pesantren ini pasti memiliki kekurangannya. Sering didapati didapati sampah berserakan dimana-mana yang menyebabkan banyak santri sakit, baik itu gatal-gatal, demam berdarah dan lain-lain. Bahkan kunjungan untuk orang tua santri dan santriwati juga dibatasi, ataupun paket makanan yang tidak diperbolehkan. Akibatnya banyak santri yang bolos dan kabur ke rumahnya, aturan yang tiba-tiba ini justru mengalami banyak penolakan dari santri dan santriwati.
Setiap pesantren ataupun setiap instansi pasti menginginkan hal terbaik untuk murid-muridnya. Meskipun beberapa aturan sedikit berlebihan, mungkin butuh waktu untuk penyesuaian, tapi tidak ada yang menginginkan keburukan. Setiap hal pasti punya keunikan, tanah santri Gordang Sambilan dengan ratusan pondok kecil dengan banyak kegiatan di dalamnya.
Penulis: Efani Angreini Editor : Shonia Shifwah Aqiilah

Leave a Reply