“Ketika kita menyampaikan pesan kepada orang lain, maka kita tidak dapat mengontrol
penyebaran informasi dan efek pesan tersebut kepada khalayak”. Ini merupakan gambaran singkat
dari “Komunikasi bersifat irreversible“,sebab apabila kita mengatakan sesuatu yang kurang berkenan bagi lawan bicara, perkataan tersebut bisa saja selalu menari-nari di kepalanya meski sudah dimaafkan.
Yap, salah satu prinsip komunikasi adalah: Komunikasi bersifat Irreversible (Deddy
Mulyana, 2007), artinya sekali kita mengirimkan pesan dalam komunikasi, kita tidak memiliki kendali terkait pengaruh pesan tersebut kepada lawan bicara. Jika kita analogikan, hal ini bak peluru yang ditembakkan dari sepucuk pistol atau bak anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Kita tidak bisa menarik kembali peluru atau anak panah yang telah dilepaskan.
Komunikasi yang bersifat irreversible memiliki keterakitan dengan esensi komunikasi (sebagai suatu proses yang dinamis). Ada satu hal menarik yang dapat diambil dari prinsip ini, yaitu kita harus berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada orang lain sebab kita tidak dapat meralat efek pesan yang telah sampai. Kita tidak memiliki otoritas sedikit pun untuk mengontrol perasaan orang lain terhadap pesan yang kita beri. Jika seseorang sudah tersakiti dengan perkataan kita, maka efek sakit hati tersebut sulit dihilangkan dari dirinya.
Contoh implementasi dari komunikasi yang bersifat irreversibel: Once yang berprofesi sebagai penyanyi meluncurkan sebuah lagu, ia mengatakan bahwa judul lagu tersebut masih belum pasti, namun karena di bagian refrain lagu tersebut terdapat banyak kata-kata “Aku Mau” akhirnya Once pun mengizinkan masyarakat menyebut judul lagu tersebut dengan “Aku Mau”.
Tetapi setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya Once mengatakan bahwa lagu tersebut berjudul, “Aku Cinta Kau Apa Adanya”, tetapi masyarakat tetap merasa bahwa lagu itu berjudul “Aku mau” sebab pesan itu sudah sangat melekat di pikiran masyarakat. Akhirnya Once tidak mempermasalahkan tentang judul sebenarnya dari lagu itu, sebab ia sudah pernah memberi izin masyarakat untuk menyebut judul lagunya sebagai “Aku Mau”, dan izin yang telah diberikan oleh Once kepada masyarakat sebelumnya sudah tidak bisa ditarik kembali.
Penulis: Adella Zahra (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)

Leave a Reply