Kini, berbagai pusat kajian dan lembaga komunikasi didirikan dan topik penelitian terkait komunikasi antar manusia pun semakin beragam. Berbagai macam program studi dibentuk untuk mempelajari komunikasi yang cakupannya sangat luas hingga melahirkan cabang ilmu komunikasi baru seperti jurnalistik, public relations, kajian media, hingga periklanan. Besarnya cakupan ilmu komunikasi dapat kita lihat melalui konteks komunikasi, bidang komunikasi, sifat komunikasi, dan tujuan ilmu komunikasi.
Di era modern ini, arus globalisasi memberi dampak pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa yang digunakan sebagai media pendukung perkembangan budaya, pendidikan, dan komunikasi. Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa. Namun sayangnya, kemajuan teknologi terutama media sosial mengakibatkan terdesaknya keberadaan bahasa Indonesia di kalangan masyarakat. Salah satu contoh konkritnya saat ini adalah munculnya gaya baru berkomunikasi yang biasa disebut dengan “BAHASA JAKSEL”.
Bahasa Jaksel adalah bahasa yang biasa dipakai oleh remaja dari kota Jakarta Selatan, bagi gen-Z istilah bahasa Jaksel tentu sudah tidak asing lagi. Bahasa Jaksel adalah kebiasaan untuk mencampur bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Banyak anak muda yang merasa lebih keren jika menggunakan gaya bahasa Jaksel ini.
Fenomena di atas tentu menimulkan dua dampak, yakni dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya yaitu membantu seseorang untuk melatih kemampuan otaknya dalam berbicara bahasa asing. Dengan kata lain, menguasai atau mencampur beberapa bahasa untuk berkomunikasi adalah bentuk kejeniusan mutlak bagi seseorang.
Mencampur berbagai macam bahasa ketika berbicara dapat dijadikan sebagai ajang senam otak manusia. Menurut saya, fenomena ini baik untuk dijadikan trend guna memancing masyarakat agar memiliki keinginan belajar bahasa asing.
Di lain sisi, penggunaan bahasa Jaksel berdampak buruk sehingga menimbulkan penurunan
keterampilan bahasa nasional (bahasa Indonesia yang sesuai kaidah). Padahal pada realitanya, kita tidak dapat memungkiri bahwa bahasa nasional adalah faktor penyumbang yang membuat bangsa ini merdeka. Dampak buruk lainnya yang timbul adalah pesan yang ingin disampaikan kepada penerima menjadi sulit tersampaikan karena gaya bahasa yang sudah dicampur-campur.
Oleh karena itu, diperbolehkan bagi teman-teman pembaca untuk menggunakan bahasa Jaksel, asalkan tujuannya untuk belajar meningkatkan skill berbahasa saja. Satu pesan penting dari tulisan ini yaitu: Jangan pernah berniat untuk menggantikan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dengan bahasa lainnya meski bahasa di luaran sana terlihat lebih keren.
Penulis: Fira Alraen (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)

Leave a Reply