Migrasi ke TV digital? Kenapa tidak?

Saya teringat ketika 15 tahun lalu, usia saya 10 tahun, keluarga kami memiliki televisi kecil ukuran 14 inci. Ada antena di atasnya, seperti antena di kepala lebah. Terkadang ketika tayangan kurang baik, maka antena akan digeser, dinaikan atau bahkan diturunkan. Segala cara diupayakan supaya gambar bagus bisa didapatkan. Beberapa tahun kemudian televisi jenis tabung mulai hits di pasaran. Dengan rezeki yang ada, akhirnya kami membelinya. Ada yang berbeda. Ya! Tidak ada lagi antena kepala lebah, tergantikan dengan antena yang terpasang di luar rumah. Uniknya, sehabis hujan deras biasanya kualitas gambar jadi berkurang. Semua masih terekam jelas dalam ingatan. Akhirnya saya memutar bambu penyangga. Apakah berpengaruh? Memang terlihat aneh, tetapi ajaib,  itu berhasil. Dan hari ini teknologi terus berkembang, zaman berubah dan kita akan bermigrasi ke televisi digital? Wah apa tuh?

Seperti yang kita tahu jika siaran televisi analog telah mengudara hampir 60 tahun di Indonesia. Siaran ini akan digantikan oleh siaran televisi digital selambat-lambatnya pada 2 November 2022. Rencana ini akan dilakukan secara bertahap selambat-lambatnya pada 2 November 2022. Sudah saatnya masyarakat bermigrasi dari televisi analog ke digital atau Analog Switch Off (ASO).

Membincang seputar migrasi ini, pada dasarnya digital merupakan perkembangan dari sistem analog. Kebutuhan manusia terhadap informasi dan didukung dengan kemajuan teknologi membuat perkembangan teknologi informasi semakin pesat. Perubahan ini sewajarnya tidak diterima dengan rasa alergi. Karena perubahan dan perkembangan itu terus terjadi. Menurut Julia M Hildebrand  (2017) dalam jurnlannya yang berjudul Connecting Media Ecology And Mobilities Research Modal Media: Connecting Media Ecology And Mobilities Research, media dipandang sebagai sebuah lingkungan yang dapat membentuk dan mengorganisasikan sebuah budaya. Teknologi memainkan peran dalam kehidupan sehingga manusia tidak dapat melarikan diri dari pengaruh teknologi.

Keunggulan Siaran Televisi Digital

Siaran televisi digital menggunakan modulasi sinyal digital dan sistem kompresi akan menghadirkan kualitas gambar yang lebih bersih, suara yang lebih jernih dan canggih teknologinya bagi masyarakat Indonesia. Dengan begitu, akan terjadi pemerataan siaran televisi berkualitas di seluruh daerah. Jadi, masyarakat di pelosok dapat mengakses siaran televisi yang diakses oleh masyarakat yang berada di kota. Lalu apa sebenarnya manfaat TV digital selain dari kualitas gambar? Untuk kepo lebih jauh saya coba berdiskusi dengan Prof. Adit Kurniawan, pakar bidang Teknik Elektro dan Informatika. Menurutnya, kita sebagai negara berkembang perlu mengikuti global trend. Artinya kita perlu adaptif terhadap penggunaan frekuensi di TV digital karena jika kita berbeda maka akan berdampak pada inkompatibilitas dan kepada standar pada TV digital dan berdampak juga pada komponen yang lazim digunakan pada TV digital. Selain itu, menurutnya TV digital memiliki kemampuan untuk proteksi  interferensi pada negara tetangga, seperti kebocoran pada cakupan yang pada analog sulit untuk diproteksi. Artinya, manfaatnya bukan hanya sekadar kebutuhan visual tetapi juga keamanan dan kualitas isi tayangan.

Lebih jauh, migrasi ini mengefisiensikan penggunaan frekuensi. Manfaat lainnya yang dapat didapatkan adalah timbulnya keberagaman konten dan mendorong keberagaman kepemilikan media. Jangkauannya pun bisa lebih jauh sehingga teknologi 5G bagi masyarakat bisa lebih cepat terwujud. 

Menuju Era Baru

Jika kita telusuri, berbagai negara sudah menerapkan digitalisasi televisi. Belanda sudah menerapkan ASO sejak 2006. Sementara Inggris, Finlandia, Swedia dan Norwegia sudah sejak 2007. Bahkan negara di asia tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand pun sudah menerapkan aturan ini. Indonesia perlu bersiap jika ingin mengoptimalkan manfaat migrasi ini.

Jika ingin mengkonversi sinyal digital masyarakat perlu memiliki Set Top Box. Sebuah alat yang berfungsi mengubah sinyal dari digital menjadi analog. Perlu diingat, jika TV digital sama dengan TV analog saat ini, namun dengan kualitas gambar yang lebih bersih, jernih dan canggih serta disiarkan secara terestrial atau gratis tis tis.

Walaupun demikian, sebagai catatan kritis, penulis juga menekankan kesiapan pemerintah. Artinya, pertimbangan terkait sinyal bisa masuk sampai pelosok hingga subsidi STB yang dapat tepat sasaran. Hal ini perlu menjadi perhatian supaya program migrasi ini dapat terlaksana dengan baik.

Tahap awal migrasi akan dimulai di lima wilayah yaitu Banten, Provinsi Aceh (Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh), Provinsi Kepulauan Riau (Bintan, Karimun, Batam, Tanjung Pinang), Provinsi Kalimantan Timur (Kutai Kartanegara, Samarinda, Bontang), dan Provinsi Kalimantan Utara (Bulungan, Tarakan, dan Nunukan). Kita tentu berharap berbagai tahapan program migrasi ini bisa berjalan dengan lancar. Semoga!

Jadi, kembali ke cerita awal saya. Pada dasarnya kita sudah sering sekali migrasi. Berpindah karena perkembangan teknologi. Jadi, yuk migrasi lagi. Berpindah ke Televisi digital supaya kualitas tayangan yang lebih baik bisa kita nikmati.

Penulis : Musfiah Saidah (Founder Komuniasik Edu Media)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *