Mengubah Cara Bicara, Mengubah Hidup

Kemampuan berbicara menjadi sebuah kebutuhan mendasar yang sudah semestinya dimiliki oleh semua orang di era saat ini. Apapun jenis pekerjaannya, kemampuan bicara yang menarik dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki daya jual yang tinggi. Setiap pendapat, gagasan dan isi pikiran akan terlihat menarik bergantung pada bagaimana seseorang menyampaikan pendapatnya tersebut. Bagaimana ia memilih diksi yang tepat, kalimat yang tersusun rapi dan indah, serta gaya bicara yang nyaman didengar oleh banyak orang. 

Mengubah cara bicara mengubah hidup seseorang. Kecakapan komunikasi yang baik inilah yang akan mendatangkan berbagai keuntungan, sehingga apabila kemampuan ini dikelola dengan baik, tentu akan mengubah pola hidup seseorang. Seseorang yang menyampaikan isi pikiran dengan baik akan terlihat lebih meyakinkan, lebih cerdas, lebih tanggap dan terpercaya. Hal ini yang akan memberi efek positif dalam suatu ruang pembicaraan.

Alison Bachdel mengatakan “whatever we say, we’re always talking about ourselves” yang artinya apapun yang kita bicarakan, kita selalu berbicara tentang diri kita. Dengan demikian, apapun yang kita katakan dan bicarakan adalah sebuah cerminan dan deskripsi dari diri. 

Membahas tentang bagaimana cara mempelajari cara gaya bicara, Buku yang berjudul Bicara Ada Seninya karangan seorang Dosen dan pakar komunikasi Korea Selatan sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh para konten edukasi Indonesia. Buku ini telah direview dan dibahas ulang oleh para konten kreator baik di Youtube maupun tik tok. Salah satu alasan mengapa buku ini cukup ramai di pasaran ialah karena buku ini berhasil menjadi jawaban bagi semua orang yang sedang ingin belajar suatu cara/seni/teknik bicara. 

Buku dengan tebal 238 halaman ini mampu membahas seni bicara yang dikemas dengan bahasa yang menarik serta lengkap dengan kisah-kisah perjalanan seseorang belajar seni cara bicara. Pembahasannya dijelaskan sangat baik, menjadikan alasan kenapa buku ini cukup ramai di pasaran. 

Pembahasan paling menarik pertama adalah mengenai topik pembahasan story telling. Untuk bisa mengasah kemampuan bicara dengan baik, salah satu caranya menurut buku ini ialah dengan rajin melakukan storytelling. Latihan storytelling atau menyampaikan cerita akan melatih otak kita terhadap apa yang hendak dibicarakan. Teknik storytelling akan mendorong otak terbiasa menjalankan tugasnya dengan saling menghubungkan antara isi kepala pikiran dan mulut tentang apa saja yang akan disampaikan. Ketika seseorang terbiasa melakukan teknik ini, kemampuan bicara seseorang akan terus meningkat, tersusun dan terlihat menarik karena pembicaraan seolah mengalir dan apa adanya. 

Storytelling yang baik menurut buku ini membutuhkan empat hal yaitu tema, konflik, simpati dan solusi. Tema, dalam melakukan storytelling harus memiliki tema yang menonjol. Cerita yang bertema menonjol banyak disukai. Selain itu, cerita yang ingin disampaikan juga harus konsisten dengan satu tema. Konflik, konflik dan klimaks merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kisah yang menarik. Pendengar akan tenggelam dari pembicaraan yang kita sampaikan berkat suatu konflik yang kita angkat dan dalami. Simpati, tema dan konflik saja tidak cukup untuk menghidupkan pembicaraan. Simpati dibutuhkan agar pendengar ikut tenggelam dalam alur sebuah pembicaraan. Solusi, pembicaraan yang dinilai bagus adalah pembicaraan yang dapat mengatasi konflik atau permasalahannya. 

Pembahasan menarik kedua ialah mengenai penyebab takut bicara.  Dalam buku ini dibahas tentang kebanyakan orang yang tidak bisa bicara dengan normal akibat trauma. Ciri-ciri gejala di antaranya :

  1. Berbicara terbata-bata
  2. Suara kecil dan bergetar
  3. Gagap berlebihan
  4. Tidak berani menatap orang lain

Seseorang yang menunjukan gejala ini merasa tidak percaya diri yang disebabkan oleh luka psikologis saat tumbuh dewasa, trauma atau merasa rendah diri. Ada yang berpendapat bahwa trauma dan rasa rendah diri sangat memengaruhi seseorang sehingga ia mengubah cara bicaranya. Namun, dalam buku juga dibahas gagasan menurut Alfred Adler  seorang Psikolog sekaligus Psikiater bahwa itu sama sekali tidak benar. Dalam the Courage to Be Hated, seorang filsuf menambah teori Freud mengatakan “Pengalaman bukanlah penyebab kegagalan ataupun kesuksesan. Kita tidak menderita karena kejutan-yakni trauma-yang kita dapatkan dari pengalaman, tetapi kita sedang mencari cara yang sesuai dengan pengalaman. Bukan pengalaman yang menentukan diri kita, tapi makna yang diberikan pengalaman yang menentukan diri kita.” Dengan demikian, cara mengatasi trauma ialah dengan cara memulihkan rasa percaya diri dan berubah menjadi orang yang mampu bicara dengan cerdas.

Pembahasan menari ketiga dalam buku ini adalah mengenai keberhasilan sebuah komunikasi yang dilambangkan dengan rumus C = QxPxR C ialah communication (komunikasi), P adalah Praise (Pujian) dan R ialah reaction (reaksi). Komunikasi akan berjalan lancar dan baik haruslah mengandung sebuah pertanyaan, pujian dan reaksi. Pertanyaan menggambarkan sebuah bentuk ketertarikan terhadap lawan bicara. Oleh karena itu, komunikasi tidak akan terwujud jika tidak ada ketertarikan sama sekali. Pembahasan menarik keempat ialah mengenai keberhasilan suatu presentasi yang dilambangkan dengan rumus P=PxSxT, P  pertama ialah persuasif (bujukan), p kedua ialah punch (pukulan), S ialah sympathize (simpati) dan T ialah Touch (sentuhan). Punch dilakukan pada saat pembukaan. Dua orang yang tidak saling kenall saat pertama kali bertemu akan bersikap waspada dan mengamati satu sama lain. Pertanyaan merupakan cara yang paling efektif untuk menjadikan suasana lebih hangat dan cair. Sympathize atau simpati membuat hati lawan bicara menyatu. Menyelaraskan perasaan, pendapat dan argumen kepada orang lain tidaklah mudah. Sampaikan kisah kita yang sebenarnya. Kisah jujur secara pribadi akan dapat meraih simpati audiens. Touch, adalah menyentuh perasaan. Setelah memberikan pukulan pada saat pembukaan dan memperoleh simpati, hal yang terakhir diperlukan adalah memberi sentuhan. Dengan menyentuh perasaan, barulah lawan bicara akan terbujuk. Dalam tahap ini , lawan bicara tidak akan ragu lagi dan kemantapan hatinya akan berubah menjadi tindakan.

Penulis: Adinda Amalia Sholihah


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *