Bagaimanakah Cara Agar Paham?

Paham. Kata yang seringkali dimanipulasi diri sendiri. Apalagi mahasiswa di era saat ini. Entah kenapa, kata tersebut keluar spontan setelah dosen bertanya. Padahal, penjelasan yang diberikan olehnya belum dapat dipahami sepenuhnya oleh mahasiswa. Apalagi belum dapat dipahami sama sekali. Alhasil, muncullah pertanyaan. “Apakah mahasiswa zaman sekarang malas memahami?” Atau, “Apakah mahasiswa saat ini sulit untuk memahami?” Dua pertanyaan di atas punya satu permasalahan. “Paham.” Tuntutan ini menjadi sebuah permasalahan bagi pelajar maupun mahasiswa. Walaupun sebatas pertanyaan, “Apakah kamu paham?,” ini menjadi sebuah beban bagi mereka untuk memahami yang memakan waktu banyak. Jelas di sini bahwa memahami bukan perkara yang mudah. Tapi, di sini akan membuat kalian menemukan trik dalam kemudahan untuk memahami.

Salah satu solusi yang diberikan dari permasalahan ini adalah kita dapat menggunakan rumusan teori dari Schleiermacher, bapak hermeneutic modern. Namun, baiknya kita mengetahui siapakah dia? namanya adalah Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834). Tokoh yang dilahirkan di Polandia ini menempuh pendidikannya di Universitas Halle. Dia memutuskan untuk studi filsafat, teologi, dan filologi walaupun ia mempunyai bakat menjadi pengkotbah di gereja. Namun, tetap saja ia lebih dikenal sebagai teolog ataupun pengkotbah dibandingkan filsuf. Namun, fokusnya dengan hermeneutik sangat besar. Tulisan-tulisan tentang hermeneutika ia susun dalam sketsa-sketsa dan catatan-catatan kuliah. Bahkan, ia tidak pernah puas dengan tulisannya sendiri. Ia pernah menyatakan bahwa memahami adalah sebuah tugas yang tidak pernah berkesudahan.

Selanjutnya, ia memberikan sebuah pembahasan tentang seni memahami. Kata tersebut merupakan terjemahan dari sebuah istilah Jerman, Kunstslehre des Vertehens. Seperti yang diketahui, memahami merupakan proses dalam menangkap maksud maupun makna kata-kata yang diucupkan pembicara. Sehingga, objek dalam memahami adalah bahasa dan itu tak akan terlepas dari pikiran penuturnya. Namun, terkadang pembicara menuturkan kata yang sama namun tidak dengan pemikirannya. Sehingga hal tersebut menimbulkan ketidakpahaman dari apa yang dituturkan. Dan, hermeneutic Schleiermacher didasari dari ketidakpahaman maupun kesalahpahaman tersebut. Ia menyatakan bahwa kesalahpahaman muncul karena perasangka dan bila kita mementingkan perspektif kita sendiri hingga salah memahami maksud penulis, maka kita telah berprasangka terhadapnya. Oleh karena itu, kita perlu membedakan dua hal. Yakni, antara “Memahami apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dengan kemungkinan-kemungkinannya” dan “Memahami perkataan yang diucapkan sebagai sebuah fakta di dalam pemikiran si penuturnya.” Alhasil, hermeneutika dapat dikatakan seni sebab ia muncul dari ketidakpahaman atau kesalahpahaman sehingga memerlukan cara luar biasa dan tidak spontan serta dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu. Ia juga mengungkapkan pernyataannya bahwa hermeneutic merupakan suatu bagian dari seni berpikir dank arena itu bersifat filosofis.

Selanjutnya, bila pembahasan di atas  menjelaskan bagaimana kita memahami pesan yang dibawakan secara verbal, bagaimana kita memahami pesan yang dibawakan secara non-verbal atau tulisan? Bertolak dari Friedrich Ast dan Friedrich August Wolf, Schleiermacher menyutujui bahwa hermeneutik adalah upaya menagkap dunia mental yang tervermin di dalam teks dengan cara menempatkan diri di dalam situasi penulis. Selain dengan intepretasi gramatis, kita juga harus memahami dengan intepretasi psikologis. Makasud dari intpretasi gramatis adalah proses memahami sebuah teks berdasarkan Bahasa, struktur kalimat-kalimat, dan hubungan antara teks yang dipilih dengan karya-karya lain yang sejenis. Kemudian, intepretasi psikologis merupakan upaya memahami teks dengan memusatkan diri pada sisi subjektif teks itu. Target dari sisi subjektif itu adalah pikiran pengarang. Sehingga, kita akan tau bagaimana isi pikiran di balik karangan-karangan yang ditulisnya.

Jadi, untuk memahami, dapat terbagi menjadi dua bagian, yakni memahami pesan yang diucapkan dan memahami pesan yang ditulis. Untuk memahami bagian pertama, kita memahami apa yang dikatakan pembicara dalam konteks bahasa dengan kemungkinan-kemungkinannya dan memahami perkataan yang diucapkan sebagai sebuah fakta di dalam pemikiran si penuturnya. Untuk memahami bagian kedua, kita dapat mehamahi melalui interpretasi gramatis penulis dan intepretasi piskologis terhadap isi pikiran penulis teks. Dengan mengimplementasikan solusi tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana caranya untuk memhami pesan verbal maupun tulisan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *