Heboh Kasus Internship (Magang) Tak Manusiawi di Surabaya

Memiliki skill tertentu di masa serba canggih dan modern seperti saat ini merupakan sebuah hal yang sangat diperlukan dan dibutuhkan. Oleh karena itu, beragam cara untuk dapat mengupgrade skill pun mudah sekali dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan mengikuti program internship atau dengan bahasa lainnya on the job training (OJT) dan lebih familier disebut magang. Selain untuk menambah skill, manfaat lain dari mengikuti magang yaitu melatih mental dengan merasakan langsung bagaimana suasana dunia kerja yang sesungguhnya.

Program magang ini juga menjadi satu mata pelajaran wajib bagi siswa sekolah menengah kejuruan dan juga masuk dalam mata kuliah praktikum di tingkat universitas bagi yang menempuh strata 1 (S1). Mahasiswa biasanya akan mengambil mata kuliah ini saat memasuki masa-masa semester akhir sebelum skripsi. Saat-saat magang ini lah yang biasanya menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Karena melalui magang, mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan dan bagi beberapa perusahaan ada yang memberikan fee yang dapat digunakan sebagai tambahan uang saku.

Namun, harapan dan ekspektasi tentang magang yang menyenangkan dapat pula tidak sesuai dengan kenyataan yang didapatkan di lapangan. Bahkan para mahasiswa yang notabenenya hanya ingin belajar dan berkenalan dengan suasana dunia kerja justru mendapatkan beban layaknya para pegawai asli. Banyak fakta di lapangan yang menunjukkan adanya beberapa oknum yang memanfaatkan program magang ini sebagai ajang mendapatkan tenaga gratis dan dapat mengurangi beban kerja yang seharusnya diemban.

Salah satu contoh kasus mengenai magang yang tidak berprikemanusiaan ini terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Melansir dari Zonamahasiswa.id, kasus viral ini diawali dari cuitan di Twitter oleh akun @taktekbum yang berbentuk tangkapan layar berisi curhatan pada aplikasi pengirim pesan. Dalam isi curhatan tersebut, seorang anak magang menceritakan pengalaman magangnya yang bisa dibilang menyedihkan. Dirinya magang pada sebuah perusahaan startup yang belakangan diketahui nama perusahaan tersebut yakni Campuspedia yang terletak di Koridor Co-working Space dalam gedung Siola, Jalan Tunjungan Nomor 1.

Isi curhatan tersebut menceritakan tentang para pemagang disana yang hanya dibayar sebesar Rp. 100.000 setiap bulannya dengan beban kerja layaknya pegawai tetap. Parahnya, gaji tersebut dapat dipotong sesuai dengan performa yang mereka sendiri tidak mengetahui variabel penilaiannya seperti apa. Anak tersebut mengaku dirinya dan teman-temannya yang senasib diberi beban kerja 20 jam per minggu dan diberi tekanan melebihi batas wajar tanpa diberi mentoring.

Puncak dari ketidak-manusiawian ini yaitu jika mereka melakukan resign sebelum masa magang berakhir, maka mereka akan dikenakan penalti dengan wajib membayar uang sebanyak Rp. 500.000. Banyak dari teman-temannya yang resign dan rela membayar uang sebanyak Rp. 500.000 karena tidak kuat mendapatkan perlakuan seperti ini. Sontak kejadian ini memancing kemarahan para warga net dan mereka secara beramai-ramai mengunjungi laman akun Campuspedia dan meluapkan kemarahan mereka hingga akhirnya kasus ini ditangani langsung oleh pihak Pemerintah Kota Surabaya. Pihak Campupedia sendiri telah melakukan klarifikasi dengan meminta maaf dan berjanji akan mengembalikan uang yang telah dibayarkan kepada para peseta magang tersebut.

Penulis: Firhand Ali Affandy

Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *