Hari ini, tepat 17 Agustus 2020 Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-75. Tahun ini menjadi tahun yang paling berbeda bagi masyarakat Indonesia dalam merayakan hari kemerdekaan. Hari ini pemandangan berbeda untuk pertama kalinya kita saksikan dalam upacara kemerdekan di Istana Merdeka. Terlihat begitu sederhana. Hanya ada tiga pengibar bendera, tidak ada instrument lagu-lagu kebangsaan dengan iringan nyanyian merdu paduan suara, dan perayaan music besar-besaran. Kita tentu sudah tau, karena Covid-19.
Tahun ini memang menjadi tahun yang berbeda dalam perayaan hari kemerdekaan Indonesia, namun sejarah mengenai bagaimana berdirinya bangsa ini tetap harus kita tadaburi. Salah satunya perjuangan melalui jalur diplomasi yang digunakan oleh para pejuang kemerdekaan dulu.
Sejak di Sekolah Dasar tentu kita sudah hafal betul bahwa bangsa ini telah melalui perjalanan yang amat Panjang untuk dapat diakui sebagai sebuah negara yang merdeka. Selain berkorban nyawa berupa dengan perang senjata, Indonesia juga telah melalui jalan Panjangnya memerdekaan bangsa ini melalui jalur diplomasi.
Kongres pemuda II di Jakarta yang melahirkan Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Mohamad Hatta, Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renvilee, dan Persetujuan Meja Bundar menjadi saksi Panjang dan nyata perjuangan jalur diplomasi untuk Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai bangsa yang merdeka seutuhnya. Karena berdasarkan konvensi Montevideo 1933, syarat sebuah negara dinyatakan berdaulat tidak hanya memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintahan saja, melainkan juga adanya pengakuan dari negeri berdaulat lainnya.
Memiliki pengaruh besar dalam membuat sebuah kesepakatan, jalur diplomasi menjadi salah satu jalur perjuangan yang elegan dan bermartabat dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Selain bertujuan agar konflik dapat diselesikan secara damai, diplomasi juga menjadi salah satu ajang pembuktiaan kemampuan anak bangsa dalam berkomunikasi, bernegosiasi, menyampaikan pendapat, dan keberanian dalam melawan ketidakadilan.
Banyak tokoh diplomasi Indonesia yang telah membuktikan bahwa untuk menyeselaikan suatu konflik tidak melelu dengan Gerakan mengangkat senjata, melainkan itu dilakukan dengan berjuang dari meja ke meja. Pahlawan nasional pejuang kemerdekaan yang sudah tidak dapat diragukan lagi kemampuannya dalam berdiplomasi adalah Masyhudul Haq, kita mengenalnya sebagai seorang Agus Salim. Ditujang oleh kemampuannya menguasai banyak Bahasa asing seperti Bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan Jepang memperlancarnya dalam urusan diplomasi. Perannya sangat besar dalam menarik negara-negara Timur Tengah mengakui kemerdekakaan Republik Indonesia secara de jure.
Sejak sebelum merdeka sampai dengan sekarang dimana Negara ini telah bebas, katanya, jalur diplomasi masih tetap terus dipakai baik oleh bangsa Indonesia sendiri maupun bangsa-bangsa lainnya di seluruh dunia.
Diplomasi memang memiliki peran penting bagi terbangunnya berbagai kesepakatan antar bangsa yang bersangkutan. Saat ini, diplomasi secara gamblang dilakukan guna menciptakan dunia yang lebih damai dan menciptakan rasa aman dan sejahtera untuk masyarakat dunia.
Dalam melakukan diplomasi seorang yang diberikan tugas sebagai perwakilan suatu negara yang kita biasa sebut seorang Diplomat memiliki peran begitu penting karena selain membawa citra diri seorang diplomat juga membawa citra bangsanya. Berdiplomasi bukan sekedar “hanya ngomong saja”, kecakapan menarik perhatian lawan bicara, kecakapan bernegosiasi, mampu membaca situasi, menjaga citra dan tentunya berpengetahuan luas masuk kedalam rangkaian syarat bagaimana ketika seorang menjadi diplomat.
Kemajuan suatu bangsa tidak dapat dipungkiri tidak hanya dipengaruhi oleh aksi diplomasi saja. Sebagai seorang warga negara Indonesia, kita sama-sama memiliki hak dan juga tanggung jawab terhadap kemajuan dan keberlangssungan bangsa ini kedepannya. Yang terpenting adalah terus berkarya, entah dengan keampuan “ngomong” kita layaknya seorang diplomat, dengan tulisan tangan kita, atau aksi nyata kita dilapangan. Semuanya dapat bermanfaat asal ada esensi dan maknanya. Selamat hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75. Semoga tetap menjadi rumah yang nyaman dan hangat untuk ditinggali.
Penulis : Surnawati (Komuniasik Campus Ambassador Batch 1.0)
Editor : Isyraqi Khairy Siregar ( Tim Komuniasik)


Leave a Reply