Harga BBM Meresahkan Masyarakat Indonesia

Tepat pada 3 September lalu, masyarakat Indonesia diguncang kembali oleh pemberitahuan atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM ini jelas sangat memberatkan kalangan masyarakat ekonomi menengah kebawah. Keresahan masyarakat terkait harga BBM pun sangat berdampak kepada biaya bahan produksi seperti bahan pangan yang ikut naik dipasaran yaitu cabai, tempe, tahu, beras dan sejumlah bahan pangan lainnya. Kenaikan harga BBM ini pun berdampak pada ongkos sejumlah transportasi umum seperti angkutan umum, bus antar kota sampai ojek online.

Kenaikan harga BBM ini mengundang banyak kontra dari berbagai kalangan baik pihak buruh, pihak mahasiswa maupun pihak lainnya yang merasa keberatan atas keputusan pemerintah ini. Namun hal ini tidak menjadi suatu permasalahan besar bagi kalangan ekonomi menengah ke atas. Adanya perbedaan dari keduanya sehingga terjadinya pro dan kontra terkait naiknya harga BBM di Indonesia. Data informasi mengenai harga BBM sudah terpampang jelas dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bermerk Pertalite yang pada umumnya seharga Rp. 7.650/liter dan banyak diminati oleh masyarakat ekonomi menengah kebawah kini menjadi Rp. 10.000/liter, sedangkan pada bahan bakar minyak bermerk solar pada umumnya dengan harga Rp.5.150/liter kini menjadi Rp.6.800/liter, serta bahan bakar bermerk Pertamax pun ikut mengalami kenaikan harga yang pada awalnya Rp.12.500/liter kini berubah menjadi Rp.14.500/liter.

Keresahan ini terjadi dikarenakan sulitnya mencari pendapatan, terlebih untuk kalangan buruh seperti tukang ojek pangkalan, ojek online, uang jajan mahasiswa yang tidak terlalu besar, sampai meningkatnya angka pengangguran akibat pandemi virus Covid-19. Masyarakat yang mempunyai pendapatan tidak terlalu besar bahkan hanya mencari pekerjaan secara serabutan, membuat mereka merasa ditekan atas keputusan kenaikan BBM ini. Pendapatan yang dipakai bukan hanya untuk keperluan bensin semata tetapi kebutuhan pokok lain yang harus terpenuhi, hal ini membuat mereka kecewa akan tindakan pemerintah yang membuat keputusan kenaikan BBM sehingga berdampak pada kenaikan bahan produksi yang terjadi pada saat krisis ekonomi saat ini.

Seperti yang kita tahu bahwa pemerintah memberikan bantuan berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada beberapa masyarakat yang kurang mampu sebesar Rp.600.000. Bantuan tersebut semata-mata untuk meringankan atas naiknya harga BBM, namun, sangat disayangkan bantuan BLT ini tidak diberikan secara menyeluruh bahkan ada beberapa orang yang tidak mendapatkan bantuan BLT tersebut. Alasan kenaikan BBM ini dijelaskan oleh Presiden RI Jokowi.

Terjadinya kenaikan BBM ini dikarenakan subsidi BBM lebih banyak digunakan kelompok mampu yakni sebanyak 70%, hal itulah menyebabkan alasan kenaikan harga BBM yang menjadi pilihan terakhir pemerintah

Sumber:
https://news.detik.com/berita/d-6270546/jokowi-umumkan-harga-bbm-naik-berlaku-pukul-1430- hari-ini

Dengan adanya berbagai penjabaran, penjelasan, serta berbagai pembelaan atas naiknya harga BBM ini tidak membuat masyarakat berdiam diri. Seluruh lapisan masyarakat dari kalangan buruh, mahasiswa dari berbagai universitas dan pihak-pihak lainnya, memberikan tolakan atas kenaikan BBM dengan mengadakan demonstrasi yang disuarakan melalui berbagai media yang masih terus berlangsung hingga pemerintah dapat mendengar sorakan suara rakyat kecil yang sedang merasa kecewa atas keputusan yang memberatkan jiwa. Kalau bukan mahasiswa, para pekerja, dan masyarakat lainnya ya siapa lagi? dunia butuh penjelasan, dunia butuh keadilan, dan dunia butuh perhatian.

Penulis: Sella Febiola 
Editor: Muhammad Ezra Fannany


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *