Korean wave (hallyu) atau biasa disebut sebagai budaya korea tengah merebak di berbagai penjuru dunia, khususnya Indonesia. Pasalnya, keberadaannya cenderung diterima baik oleh mayoritas masyarakat dari berbagai kalangan. Korean wave merupakan istilah yang diberikan untuk menunjukkan segala hal berkaitan dengan budaya korea, seperti drama, dunia entertainment, K-Pop, acara TV, fashion, dan sebagainya.
Hadirnya perkembangan teknologi pesat yang dapat menembus ruang dan waktu menjadi salah satu faktor utama penyebab besarnya antusiasme masyarakat terhadap budaya korea. Hal tersebut juga berkaitan erat dengan adanya globalisasi. Dalam impelementasinya, seiring dengan perjalanan waktu semakin terlihat bahwa masyarakat mulai menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari gaya berbusana, pemakaian skincare, makeup, konsumsi makanan, bahkan sampai gaya bicara menggunakan kosa kata bahasa Korea seperti, annyeong, hwaiting, kiyowo, dan saranghae.
Salah satu produk korean wave yang paling banyak diminati oleh generasi milenial adalah K-Drama dan K-Pop. Hal tersebut dapat terlihat dengan pemutaran berbagai drama korea dan pertunjukan dari boyband maupun girlband di berbagai saluran TV Indonesia.
Sejak pandemi Covid-19 membuat perubahan bagi realita kehidupan. Masyarakat yang selama ini selalu disibukkan dengan aktivitas dan berbagai kegiatan di luar, kali ini dipaksa untuk melakukan segala aktivitasnya di rumah masing-masing. Tahun 2020, menjadi awal permulaan bagi masyarakat Indonesia yang mulai mencari jati dirinya guna menghilangkan segala kepenatan akibat ‘dipaksa’ untuk tetap di rumah. Hadirnya K-Drama menjadi obat bagi segala kegundahan pada saat itu. Berbondong-bondong publik mulai tertarik untuk mencoba menontonnya. Tak kalah, para selebritas asal Indonesia kala itu menjadi perbincangan publik akibat hobi barunya yang mulai memengaruhi masyarakat.
Indonesia menjadi salah satu pasar utama terbesar bagi industri musik Korea Selatan. Dilansir dari EGSA UGM, Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan peringkat ke-3 setelah Thailand dan Korea Selatan yang menjadi wadah bagi para K-Popers dalam menyalurkan hobinya. Lebih dari itu, Indonesia pun turut menjadi negara dengan posisi peringkat ke-2 dengan presentase 9.9% setelah Korea Selatan dalam kegiatan penayangan musik video K-Pop di YouTube atau biasa disebut dengan istilah streaming MV. Bahkan, tak jarang pun event-event besar diadakan guna menarik para pecinta K-Pop, seperti birthday event idol, event comeback, event noeraebang (karaoke malam bertema musik K-Pop), sampai pada berbagai konser berdatangan yang sedang marak saat ini.
Terlebih dari itu, Indonesia pun turut dikenal sebagai negara yang memiliki fanbase besar dan loyal dalam dunia K-Pop. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar utama dalam perekonomian Korea Selatan. Pasalnya, seorang K-popers rela untuk menghamburkan uangnya demi membeli berbagai merchandise group kesukaannya, seperti tiket konser, album, lightstick, photocard, vote di berbagai acara musik, sampai pada produk yang diiklankan oleh artis kesukaannya. Selain itu, tak jarang para fans turut mendirikan komunitas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Biasanya, para fans membuat sebuah fanbase yang relate dengan hobinya, seperti perkumpulan komunitas NCTzen Jakarta yang merupakan tempat berkumpulnya para fans NCT di wilayah Jakarta.
Keberadaan artis K-Pop dan para aktor juga aktris K-Drama dapat memengaruhi perspektif para kaum millenial. Salah satunya yaitu memengaruhi cara pandang seseorang dalam berbagai bidang kehidupan, seperti menjadi lebih mencintai diri sendiri, menjadi lebih bahagia dan menebarkan virus kebahagiaan tersebut, bahkan banyak dari mereka yang bisa bangkit dari keterpurukan, serta meminimalisir terganggunya kesehatan mental juga depresi.
Tak jarang para K-popers pun turut andil dalam berbagai isu dunia, seperti menaikkan tagar hashtag di twitter. K-Popers dikenal sebagai kaum yang sangat aware dan memberikan atensinya terkait isu-isu yang sedang terjadi, baik itu tentang pelecehan seksual, kesehatan mental, membantu penggalangan dana, budaya, menolak demonstrasi Omnibus Law, sampai pada politik suatu negara.
Pada tahun 2020, kaum pecinta Korea bersatu untuk mendukung gerakan sosial Black Lives Matter dengan menaikkan trending hashtag di platform twitter. Militansi kekompakan dan jumlah K-popers yang sangat banyak tersebut membuat suara mereka dipaksa harus didengar. Mereka dapat membuat perbedaan. Oleh karena itu, dengan aksinya tersebut, para K-Popers sering digadang sebagai kaum pecinta isu lingkungan.
Dengan aktualisasi dan realita di segala bidang tersebut menjadikan tanda bahwa keberadaan korean wave sangat diterima dan mendapat perhatian besar dari antusiasme masyarakat Indonesia. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam berkembangnya Korean Wave secara global.
Penulis: Syafietry Eprilliani Editor: Muhammad Ezra Fannany

Leave a Reply