Perkembangan sains dan teknologi saat ini banyak mengubah gaya hidup seseorang terutama pada generasi milenial. Gaya hidup modern yang menawarkan kemudahan yang serba cepat dan instan menstimulasi berkembangnya gaya hidup baru yang dalam ilmu kesehatan dikenal dengan istilah sedentary lifestyle. Sedentary Lifestyle merupakan istilah dari gaya hidup yang kurang bergerak atau bermalas-malasan. Di Indonesia sedentary lifestyle lebih dikenal dengan istilah mager alias malas gerak. Perilaku sedentary merupakan suatu aktivitas fisik pada manusia yang memerlukan pengeluaran energi tidak lebih dari energi istirahat yaitu antara (1.0- 1.5 METs). Hal ini dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring secara berkelanjutan sehingga menjadi suatu kebiasaan yang menyebabkan berkurangnya aktifitas fisik.
Menurut WHO (2010) sedentary behaviour merupakan faktor risiko utama keempat dalam kematian global sebesar 6%, diikuti dengan hipertensi 13%, penggunaan tembakau 9%, diabetes 9%, dan obesitas berjumlah 5%. Selanjutnya survey WHO (2010) menunjukkan sebanyak 81% remaja sekolah di usia 11 sampai 17 tahun kurang aktif melakukan aktivitas fisik dan remaja pada wilayah Asia Tenggara menunjukkan angka prevalensi yang terendah terhadap aktifitas fisik.
Penyakit mager ini semakin merajalela dengan kehadiran gadget sehingga banyak remaja menghabiskan waktu dengan bermain sosial media, menonton film, bermain games dan lain-lain yang menunjukkan minimnya aktifitas gerak. Selain itu kondisi ini semakin meningkat pada tahun 2020 sejalan dengan penyebaran COVID-19 yang melanda dunia. Pembatasan aktifitas seperti karantina dan isolasi mandiri sebagai salah satu upaya mitigasi dari penyebaran covid juga berkontribusi terhadap berkembangnya gaya hidup sedentary. Selain itu akibat semakin menyebarnya gaya hidup sedentary, belakangan ini muncul istilah “kaum rebahan” yaitu istilah yang merujuk pada orang-orang yang lebih memilih untuk bersantai dan berbaring di kasur dibanding melakukan kegiatan produktif. Kondisi ini jika dibiarkan akan terus menjadi habit negatif yang tentu sangat berpengaruh para perkembangan diri remaja, tidak hanya dalam aspek kesehatan melainkan berbagai aspek kehidupan terutama dalam hal pengembangan diri.
Seseorang yang sudah terbiasa hidup lalai akan menikmati hidupnya seolah hidupya aman. Dirinya bisa tidak sadar bahwa sesungguhnya dia sudah terjebak pada hal yang membahayakan. Contoh kebiasaan bermain handphone, sosial media, dan games bisa menjadi uncontrollable behaviours (gerak refleks) yang terjadi secara otomatis dalam setiap gerakan akibat banyaknya intensitas yang dilakukan berulang. Malas gerak akan mematikan fungsi sel-sel tubuh sehingga bisa memicu berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, serangan jantung dan lain-lain.
Sedentary lifestyle yang didasarkan pada aktifitas yang tidak bertujuan seperti menghabiskan waktu dalam hal-hal tidak berguna atau sekedar “rebahan” merupakan habit negatif yang harus segera diatasi. Kecenderungan untuk rebahan atau bermalas-malasan didorong oleh kesenangan. Kesenangan inilah yang menjadi gaya hambat untuk maju. Sedentary behaviour merupakan bad habit yang harus segera diatasi. Perangkat diri manusia sudah di setting untuk melakukan pergerakan atau perubahan yang dinamis, maka untuk itu dibutuhkan usaha atau energi untuk mencapai tujuan.
Penulis: Zulfia Hidayani Asra

Leave a Reply