Menilik Bakal Sejauh Mana Emyu Dibawa Pak Ten Hag

Kisah indah yang susah move on–nya.

Setelah 27 tahun menulis kisah bersama, Sir Alex Ferguson akhirnya memutuskan pergi dari Manchester United pada tahun 2013. Dalam kurun waktu yang lama buaaanget itu, 38 gelar dipersembahkan Sir Alex kepada kekasih tercintanya, Manchester United.

Bukan hal yang mudah bagi Opa Fergie—panggilan kesayangan Sir Alex—untuk membawa 38 piala ke Manchester. Pada masa awal karirnya menangani Man. United, Sir Alex dan anak asuhnya menjadi langganan papan tengah klasemen Liga Inggris. Opa Fergie mengakhiri masa kepelatihannya di Manchester United pada 13 Mei 2013. Dengan persentase kemenangan 59% dan berbagai prestasi yang Sir Alex berikan, Ia mengakhiri karir kepelatihannya sebagai salah satu pelatih terbaik. Bagi Manchester United khususnya.

Bak pasangan yang memiliki banyak kisah indah lalu putus baik-baik, Emyu—sebutan gampang Manchester United—sampai detik ini seperti belum bisa berpaling. Satu dekade setelah Opa Fergie pergi, Emyu sudah tujuh kali gonta-ganti pelatih. Dari tujuh pelatih, hanya lima gelar yang berhasil mereka raih. Sepertiga gelar Sir Alex saja belum. Padahal, skuat Man. United bisa dibilang masih sama bagusnya seperti zaman Sir Alex. Tak tahu letak salahnya di mana, tapi masa-masa setelah Sir Alex pergi, kemenangan rasanya susah sekali. Jangankan menang, seri pun enggan. Menghadapi musim 2022/2023, pelatih ke delapan ditunjuk. Era baru dimulai.

Pelan tapi pasti. 

Erik Ten Hag menjadi pelatih ke delapan Emyu setelah ditinggal Sir Alex. Mantan pelatih Ajax tersebut dikontrak Man. United hingga 2025. Ia menjadi pelatih asal Belanda ke dua setelah Louis Van Gaal (2014-2016). Dengan ditunjuknya Erik Ten Hag sebagai pelatih, memberi harapan besar bagi Man. United dan orang-orang yang menyayanginya.

Memulai dari nol, begitulah kalimat yang dapat menggambarkan tupoksi Bapak Ten Hag. Ten Hag berusaha mengubah Manchester United menjadi Manchester United versinya sendiri. Tampaknya Ten Hag paham betul mana-mana saja yang harus dibenahi. Sebagai langkah awalnya di Manchester adalah mengubah visi tim. Definisi “Yuk! Satukan visi dan misi kita dari awal. Biar bisa sukses bareng-bareng” banget.

Usaha yang dilakukan oleh Ten Hag terlihat dari bagaimana Ia membenahi gaya latihan, strategi, visi, mental, dan pola pikir para pemainnya. Karena memang hal-hal di atas yang menjadi fondasi dasar sebuah tim. Setelah kokoh fondasinya, fokus dituang ke komposisi pemain. Skuat Emyu dirombak habis-habisan oleh Meneer Ten Hag. Beberapa pemain seperti Paul Pogba, Jesse Lingard, Cavani, Mata, dan Matic pergi karena kontraknya habis. Hal ini menimbulkan kurangnya pemain pada posisi tertentu. Tak tinggal diam, Ten Hag langsung menggaet beberapa nama di jendela transfer musim panas. Tyrell Malacia—fullback kiri—jadi rekrutan pertama Si Bos. Lalu dilanjut dengan memboyong Christian Eriksen, Lisandro Martinez, Casemiro, Dubravka, dan Antony. Komposisi tim sudah lengkap—setidaknya cukup untuk melewati paruh musim—, visi dan strategi sedang ditanam, tinggal tunggu kapan bisa dituai.

Kerja keras, harapan, dan saling percaya.

Ten Hag mulai melatih Man. United sejak Juni 2022. Lalu diberi waktu latihan satu bulan, persiapan untuk melakoni tur pramusim. Kesan pertama yang Bos berikan cukup baik. Pertandingan pramusim pertamanya meraih kemenangan meyakinkan kontra Liverpool. Begitupun dengan lima pertandingan pramusim lainnya. Emyu mengakhiri pramusim dengan baik, meski ada beberapa catatan yang masih harus dibenahi. Para pemain kembali berlatih dan fokus menatap musim ini.

Dua laga awal Ten Hag di Liga Inggris berakhir sangat menyedihkan. Manchester United takluk 1-2 di kandang, dan dibantai 4-0 saat bertandang. Mungkin para pemain lama dan baru masih belum nyetel. Atau bisa jadi faktor culture shock Pak Ten Hag.

“Perasaan Liga Belanda nggak gini, deh, mainnya”, Kayaknya Pak Ten Hag berpikir seperti ini, sambil garuk-garuk kepala.

Entah apa yang dilakukan Pak Bos, Emyu berhasil mengambil poin sempurna di empat laga berikutnya. Para pemain seperti kerasukan setan merah. Mereka benar-benar bermain dengan semangat pantang menyerah. Bukan asal tendang, para pemain kurang lebih berhasil menerapkan strategi yang diinginkan Ten Hag. Skuat besutan Ten Hag berhasil meraih lima kemenangan dari delapan pertandingan awal musim ini. Bukan hasil yang buruk. Harapan besar muncul, kepercayaan timbul.

Dilihat dari perkembangan Emyu di bawah arahan Ten Hag, agaknya tim ini sudah bisa kembali disebut sebagai pesaing utama dalam perebutan gelar. Tinggal bagaimana tim ini dapat konsisten. Konsisten dalam segi permainan, kebugaran, dan mental. Setelah jeda internasional selesai, peran Erik Ten Hag benar-benar akan dimulai.

Menarik dan penasaran bagaimana Emyu dapat menjalani sisa musim yang sebenarnya masih panjang dan penuh duri. Skuat Man. United dituntut untuk memberikan yang terbaik bagi tim oleh para pendukungnya. Sebagai pendukung layar kaca, sebaiknya tak usah banyak menuntut. Cukup tonton dan percaya, toh ini baru musim pertama Pak Ten Hag menangani kerumitan Man. United. Biarkan saja Ten Hag dan orang-orang di baliknya menanam filosofi dan hal-hal baik bagi tim. Kalau sudah waktunya, pasti akan berbuah rentetan kemenangan dan gelar. Tinggal dipetik lalu disyukuri bersama.

Zalfa Adli


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *