Perkembangan manusia yang ditunjang dengan perkembangan berbagai pengetahuan serta teknologi memudahkan segala bentuk pekerjaan juga penelitian yang dilakukan manusia. Di era ini, bentuk pekerjaan apapun hampir semuanya dibantu oleh pengendalian melalui sebuah teknologi yang dibangun oleh manusia itu sendiri, namun perlu diketahui, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan juga teknologi, maka semakin meningkatnya angka stress akibat tekanan yang dialami manusia dalam menciptakan teknologi tersebut. manusia harus menyelaraskan kecepatan serta kemampuan bekerja mereka dengan teknologi yang berkembang agar tidak tertinggal dan tetap produktif, hal itulah yang sering menyebabkan mereka mudah terkena depresi.
Depresi merupakan salah satu gangguan mood atau biasa disebut dengan mood disorder, yaitu keadaan emosial seseorang yang berlangsung cukup lama, gangguan ini ditandai dengan perubahan mood yang ekstrem dan sulit untuk dikendalikan. Depresi merupakan suatu diagnose yang perlu di ketahui oleh ahli untuk menentukan apakah seorang manusia bergejala atau tidak, Menurut buku DMS 5 atau Diagnostic Statisctical Manual Five, depresi merupakan periode di mana seseorang mengalami suasana hati tertekan sekaligus kehilangan minat setidaknya selama 2 minggu.
Ada beberapa kriteria gejala yang perlu dicapai untuk mengetahui orang tersebut terkena depresi atau tidak, Gejala yang sering muncul ketika depresi menyerang seseorang ialah berat badan yang naik turun secara drastis, jam tidur yang kurang atau bahkan berlebihan, merasa lelah setiap hari, bahkan merasa tertekan dan sedih berlarut-larut. Namun bukan berarti sebuah rasa sedih dapat langsung dikatakan sebagai depresi, karena rasa sedih adalah hal yang wajar dirasakan oleh manusia, hanya saja yang membedakan rasa sedih dengan depresi ialah durasi dari perasaan itu berlangsung.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh WHO di tahun 2017 sebanyak 320 juta orang didunia mengalami depresi , sedangkan di Indonesia sendiri sebanyak 15,6, juta orang mengalami depresi, maka bisa diprediksi jika jumlah orang yang mengalami depresi di tahun 2022 ini bisa bertambah karena ada beberapa faktor yang seperti pandemic, lapangan kerja, naiknya harga pangan, tekanan pola kerja baru, sosial media dan lainnya.
Generasi Z atau biasa disebut dengan Gen Z merupakan sebuah generasi yang lahir di tahun 1995 – 2010, generasi mereka lah yang sepenuhnya didukung oleh perkembangan teknologi serta internet untuk pertama kalinya, namun apakah hal tersebut membuat generasi z terlepas dari masalah depresi? Tentu jawabannya adalah tidak.
Dapat dikatakan jika generasi Z justru berpotensi lebih besar untuk mengalami depresi karena pada era mereka ada banyak kejadian besar yang sebelumnya tidak pernah terjadi, seperti pandemic yang merubah kebiasaan manusia menjadi sebuah pola kebiasaan yang baru. Depresi di antara generasi z mungkin bukan hal yang aneh lagi dikalangan mereka, justru mereka lebih terbuka berbicara mengenai depresi dan kesehatan mental dari pada generasi sebelumnya yang masih sering menganggap depresi sebagai sebuah penyakit.
Depresi di antara generasi Z justru lebih sering dibahas, hal itu terjadi karena kedekatan generasi z dengan internet dan media sosial yang memudahkan mereka untuk mencari tahu bagaimana pengobatan, pencegahan, bahkan diagnose sekalipun. Adanya internet dan sosial media juga menfasilitasi mereka untuk berbicara mengenai perasaan mereka, ataupun mendengar kisah depresi orang lain, sehingga generasi z lebih sering menormalisasi depresi yang dialami dan melanjutkan hidup mereka. Adanya depresi di antara generasi Z justru membuka pola pikir yang lebih maju dan terbuka mengenai kesehatan mental.
Kedekatan generasi Z dengan internet ini akhirnya membuahkan sebuah gerakan bagaimana kesehatan mental itu bukan hal yang aneh lagi, hal tersebut didukung oleh beberapa platform media sosial yang memiliki grup grup atau akun khusus yang menyuarakan mengenai depresi dan kesehatan mental sebagai suatu hal yang normal dan bukan aib, mereka juga membantu para penderitanya untuk lebih baik dan sembuh dengan gerakan gerakan dan semangat yang dibuat, contoh seperti akun Instagram rethinkmentalillnes yang mengkampanyekan hal depresi dan kesehatan mental di International. Generasi Z dirasa lebih paham dalam menyikapi permasalahan depresi yang mereka atau orang lain alami, generasi ini adalah salah satu generasi yang mementingkan kesehatan mental mereka, terlihat dari banyaknya istilah yang mereka gunakan untuk menghibur diri dan melepaskan stress yang mereka alami, seperti istilah Healing yang merajalela di era sekarang.
Ada banyak cara bagi generasi z untuk menyembuhkan luka yang menyebabkan mereka mengalami depresi, namun ada banyak pula hal yang justru membuat mereka lebih rentan untuk mengalami depresi, hal itu kembali lagi pada penanganan masalah setiap individu dan bagaimana cara mereka untuk menyikapi hal itu semua. Ada baiknya jika keberadaan depresi di kalangan generasi Z menjadi sebuah ulasan penting, karena semakin terbukaya sebuah generasi membahas mengenai suatu permasalahan maka akan semakin banyak solusi yang ditemukan, orang-orang yang mengalami depresi hendaknya memang didampingi oleh orang orang yang mengasihi mereka agar kondisi mereka kembali pulih, semakin banyak orang yang menganggap bahwasanya depresi merupakan suatu aib, makan akan semakin banyak pula orang yang berusaha menutup diri mereka dari kenyataan jika mereka terkena depresi dan akan menjadi sulit untuk dipulihkan. Oleh sebab itu sebagai manusia penting bagi kita untuk selalu memahami setiap keadaan dan permasalahan hidup yang dilewati.
Penulis: Rizqia Yuni Maulidha

Leave a Reply