BUKAN SEKADAR BICARA

Sebagai manusia kita telah dibekali berbagai kemampuan oleh Tuhan yang maha esa, termasuk kemampuan dalam berbicara. Namun, dalam berbicara kita sering menganggap remeh lawan bicara kita yang kita anggap tidak begitu kompeten. Biasanya kepada orang yang lebih muda atau yang kita anggap sebagai bawahan kita. Kita seolah merasa paling benar dan hebat diantara mereka. Sering juga kita menggunakan gaya Bahasa yang kurang beretika, yang pada akhirnya bisa melukai hati orang disekeliling kita. Maka dari itu, mulai dari sekarang kita perlu membenahi tutur dan tatanan bahasa kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai dalam segi akademis tapi lupa untuk menghormati orang lain.

Melalui tulisan ini, Saya akan memberikan beberapa pedoman untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dan santun:

  1. Berkomunikasi dengan berpedoman pada norma yang ada, tanpa menghilangkan nilai kebudayaan yang telah dijunjung tinggi oleh nenek moyang kita, karena sejak dulu Indonesia terkenal akan keramahannya terhadap siapapun bahkan hingga mancanegara.
  2. Setiap kegiatan komunikasi memiliki keunikan tersendiri, tergantung bagaimana cara kita mengemas komunikasi tersebut agar audien yang diajak bicara tertarik dengan apa yang kita bahas.
  3. Keberhasil dalam sebuah komunikasi adalah Feedback, atau umpan balik. Ketika kita menghargai pembicaraan setiap orang kemudian mencoba untuk menjadi pendengar yang baik tanpa memotong pembicaraan sang audien serta dengan lapang dada kita harus menerima kritikan dari mereka untuk kebaikan kita kedepannya, alhasil ketika kita melakukan suatu kebaikan kepada orang lain dengan  tutur sopan kita, maka orang yang mendengarkan kita akan memperlakukan seperti kebaikan yang pernah kita lakukan pada mereka.
  4. Selalu gunakan “komunikasi bersemuka” atau biasa orang menyebut berbicara dengan tatap muka. Generasi milenial saat ini lebih dari 12 jam mereka menghabiskan waktu Bersama dengan gadget/telepon genggam yang dimilikinya, terumata saya sendiri. Kebanyakan mereka lebih banyak interaksi dengan media sosial seperti WA, Telegram, Line dan sejenisnya, alhasil secara tidak sadar kita telah menanamkan pada diri kita untuk menjadi manusia individualis. Seringkali masalah yang saya jumpai pada teman kuliah saya, ketika kita sedang acara kumpul bareng, mereka sibuk dengan mementingkan gadgetnya dibanding dengan teman yang ada disekitar kita, sehingga yang awalnya hubungan kita mendekat malah menjauh karena mereka asyik dengan dunianya sendiri.
  5. Selalu bersikap open minded. Ketika terjadi perbedaan persepsi dalam berkomunikasi, kita juga harus mengenyampingkan ego kita masing-masing. Selalu mencari jalan tengahnya dalam setiap permasalahan, agar sebuah komunikasi bisa menjadi sebuah solusi dalam mengatasi sebuah permasalahan.
  6. Terakhir yang paling penting adalah, selalu gunakan Bahasa yang santun, saya ambil contoh pada masyarakat jawa ada istilah “unggah-ungguh boso” dimana setiap orang akan diajrakan tentang sopan santun, tatasusila antara orang yang muda terhadap orang yang lebih tua harus menggunakan Bahasa “krama alus” dan orang yang lebih tua ke yang lebih muda “harus menggunakan Bahasa “ngoko”, dan dari situ kita bisa menghargai serta menghormati kepada siapapun.

Penulis: Nuril Huda (Komuniasik Campus Ambassador Batch 1.0)

Editor: Surnawati (Komuniasik Campus Ambassador Batch 1.0)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *