Looking Glass Self: Sebuah Persepsi Yang Bisa Jadi Realitas?

https://pixabay.com/id/images/search/looking%20self/Woman portrait double exposure

Pernah gak sih ketika kita mau melakukan suatu hal tiba-tiba muncul pemikiran seperti “Nanti kalo mereka ngomongin gimana ya? Kalo mereka ngehujat gimana ya? Kalo salah gimana?” akhirnya, hal tersebut malah Cuma jadi angan-angan. Padalah mungkin itu merupakan suatu ide besar. Contohnya, ketika kita di kelas dan ada teman kita yang sedang presentasi, kita sering mempunyai keinginan untuk bertanya karena ingin mendapatkan nilai tambahan atau sekedar ingin melatih percaya diri, tapi tiba-tiba saja muncul pikiran “pertanyaan gue relevan gak ya? kalo salah nanti diketawain dan di cap pengen caper ke dosen atau pengen kelIatan di room doang.”

Itu contoh di dunia nyata, bagaimana jika di sosial media yang cakupannya lebih kompleks? Tempat dimana orang lain bisa jadi apa aja sesuai apa yang mereka inginkan. Mary Aiken, Pakar cyber psichology mengatakan bahwa diri dunia maya adalah versi dirinya yang dipilih seseorang untuk ditampilkan di platform digital.

Sebagai pengguna sosial media kita pasti sering sekali memiliki pikiran-pikiran seperti contoh diatas, sering saat kita berniat untuk membagikan konten yang menurut kita begitu bermanfaat untuk dibagikan, pikiran-pikiran itu selalu datang, “so bijak, so pinter, pencitraan”, dan sebagainya.

Sadar gak sih? bahwa apa yang dipikirkan itu merupakan sebuah persepsi dari diri sendiri, bisa saja bukan atau justru bisa jadi kenyataan. Tapi, mungkin kamu sering mendengar bahwa persepsi atau apa yang kita pikirkan itu bisa jadi sebuah realitas, dan ini disebut dengan Looking glass self.

Charles Horton Cooley dalam buku Sosiology karya John J Macionis, berpendapat bahwa “Looking glass self mean a self-image based on how we think others see us” yang jika diartikan kurang lebih “Citra diri berdasarkan bagaimana kita berpikir orang lain melihat kita.” Namun, benarkah demikian?

Terdapat tiga langkah mengapa Looking Glass Self  berpengaruh terhadap diri kita:

  1. Kita dalam situasi sosial membayangkan bagaimana penampilan kita kepada orang lain,
  2. Kita membayangkan penilaian orang lain atas penampilan kita.
  3. Kita ngebayangkan perasaan-perasaan yang mengikutinya seperti malu, gengsi, atau bisa saja perasaan bangga.

Tentu looking glass self akan berdampak pada rasa percaya diri kita, kreatifitas kita, penghargaan diri kita, bahkan citra kita didepan orang lain. Jika looking glass self yang kita lakukan adalah negatif, tentu itu akan menghancurkan kesehatan mental dan fisik kita. Lalu, bagaimana agar looking glass self ini justu semakin membuat kita lebih baik dan lebih positif? saya akan mencoba memberikan tipsnya: 1) cobalah untuk tidak berpikiran negatif terhadap orang lain apalagi sesuatu yang belum tentu realitanya, 2) coba mulai terapkan pikiran positif dan luruskan niat pada segala sesuatu yang kita lakukan, 3) jadilah versi terbaik dirimu.

Jadi, sudah siapkah menerapkan looking glass self untuk hal yang lebih positif?

Penulis: Ida Ruspita (Tim Komuniasik)

Editor: Surnawati ( Komuniasik Campus Ambassador Batch 1.0)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *