“Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab”, ucap seorang tamu saat mengawali sebuah obrolan dengan Buya Hamka. “Oh ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York, Masya Allah, ternyata disana tidak ada pelacur”, jawab Buya Hamka. “Ah mana mungkin Buya, di Makkah saja ada kok apalagi di Amerika, pasti banyak lagi”, si tamu menimpali. Mendengar hal tersebut Buya Hamka menjawab “Kita ini memang hanya akan dipertemukan denga apa-apa yang kita cari. Meskipun kita ke Mekkah tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya. Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Lost Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi”.
Sepenggal kisah tamu dan Buya Hamka di atas selalu saya ingat jika sedang membicarakan media sosial dan dampaknya terhadap kehidupan kita. Seperti apa yang disampaikan Buya Hamka kepada sang tamu bahwa “kita akan dipertemukan dengan apa yang kita cari”, di media sosial pun bagi saya begitu. Kita akan dipertemukan dengan hal-hal yang berupa konten sesuai dengan apa yang kita cari. Konten eduktif, inspiratif, komedi, atau yang bersifat sebaliknya seperti pornografi, pelecehan, pencemaran, hoax, semuanya akan bertemu menyesuaikan dengan apa yang dicari sang pengguna.
Media sosial kini memang telah menjadi bagian hidup yang amat penting bagi masyarakat secara global. Dapat dikatakan media sosial telah banyak mengubah tatanan kehidupan sosial masyarakat. Tidak sedikit dari kita bahkan menggantungkan hidup melalui media sosial, sehingga mustahil rasanya untuk kita hidup berpisah tanpa sedikitpun berbaur dengan media sosial.
Kita tahu bahwa setiap teknologi termasuk media sosial pada awal kemunculannya dihadirkan dengan tujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Sayangnya sudah bukan menjadi rahasia lagi jika media sosial telah banyak menimbulkan kemudharatan bagi penggunanya. Telah banyak kasus yang tak terhitung jumlahnya timbul diakibatkan oleh media sosial. Tapi tentu banyak dari kita telah menyadari bahwa baik dan buruknya dampak media sosial terhadap kehidupan kita semuanya tergantung kepada self-control masing-masing.
Mudahnya hal-hal negatif ditemukan di media sosial yang bahkan sudah tergolong besar dan memiliki jutaan pengguna dari berbagai kalangan seperti Facebook, Intagram, Twitter, Youtube, dan sejenisnya menandakan bahwa masih belum bisa terkendalinya atau barangkali belum adanya keseriusan para pemilik kebijakan dalam menangani hal tersebut. Padahal jika hal seperti terus dibiarkan akan sangat berbahaya khususnya bagi perkembangan karakter dan moral anak bangsa. Sebagaimana data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang mengungkapkan bahwa dari 4.500 remaja di 12 kota di Indonesia 97% diantaranya telah melihat tayangan pornografi.
Terus Menebar Kebaikan di Media Sosial
Salah satu cara untuk kita berkontribusi dalam menutup derasnya arus konten negatif di media sosial adalah dengan terus memperbanyak menyebarkan konten positif di dalamnya. Ada begitu banyak jenis media sosial dengan berbagai jenis fitur yang dimilikinya, yang dengan begitu kita memiliki banyak cara dalam menebarkan hal-hal positif di media soaial. Tulisan, gambar, video, dan yang lainnya, semuanya kembali ke tangan kita masing-masing.
Berbicara mengenai kebaikan di media sosial pasti akan sama panjangnya dengan berbicara mengenai kemudharatannya. Kita juga pasti telah banyak menyaksikan berbagai keajaiban dan kesuksesan dari media sosial. Bisnis online, penggalangan dana, pencarian orang hilang, bahkan sampai yang terbaru memboikot salah satu artis ternama di negeri ini. Saya pun teringat akan salah satu kesuksesan program kegiatan yang pernah saya dan teman-teman lakukan melalui media sosial dalam satu proyek beberapa bulan lalu. Selama satu bulan lamanya kami melakukan online campaign di media sosial untuk mengajak teman dan seluruh lapisan masyarakat melakukan patungan oksigen untuk pejuang Covid-19 yang memiliki kesulitan dalam membeli oksigen.
Sampai detik ini saya masih tidak menyangka jika program yang tidak pernah direncanakan sama sekali sejak tahap persiapan ini justru ternyata sukses besar. Kami berhasil mengumpulkan donasi sebanyak 10 Juta Rupiah dari target awal 3 Juta Rupiah. Dan dari hasil donasi sebanyak 10 Juta Rupiah tersebut kami berhasil membeli lima tabung oksigen untuk diberikan kepada para pejuang Cobvid-19.
Keberhasilan campaign yang saya dan teman-teman lakukan di atas menyadarkan saya betapa besarnya kekuatan yang dimiliki media sosial. Bahkan melalui media sosial Instagram pula kami berhasil bekerjasama dengan Sejutates dalam pembelian dan pendistribusian oksigennya. Saya juga semakin menyadari bahwa dalam melakukan segala kebaikan baik di media sosial ataupun dalam kehidupan biasa semuanya harus diniatkan dan dimulai dari diri kita masing-masing. It’s all depens on us.
Kembali kepada banyaknya dampak negatif media sosial yang tidak dapat disangkal masih memiliki banyak ‘PR’ didalamnya ini memang memerlukan keterlibatan banyak pihak dalam penyeselesaiannya. Dan lagi, semuanya dimulai dari kesadaran diri kita sendiri, karena yang bisa mengontrol, memilih, dan menentukan apa yang akan dikonsumsi dan dibagikan di media sosial ya diri kita sendiri.
Bagi saya dengan mengetahui besarnya dampak yang dapat ditimbulkan oleh media sosial dalam kehidupan kita justru jangan membuat kita takut. Kini sudah bukan waktunya lagi bagi kita untuk menghindari bahkan meninggalkan media sosial, melainkan kita harus mengambil bagian di dalamnya dengan terus belajar bagaimana mengatur kemudi media sosial dengan tangan kita sendiri dan mengedukasi para pengguna media sosial dengan terus membagikan hal-hal positif dan bermanfaat.
Penulis: Surnawati_UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Leave a Reply