Ada kekuatan misterius yang hanya dimiliki sebagian dosen: kemampuan membuat satu kelas tiba-tiba hening dan kantuk datang menyerang tanpa aba-aba. Slide PowerPoint terbuka, tulisannya kecil dan padat, suara dosen terdengar datar tanpa intonasi lalu abrakadabra! Separuh mahasiswa sudah menunduk, entah benar-benar mencatat atau hanya menatap kosong. Inilah “sihir ala dosen”, kemampuan langka yang bisa membuat semangat belajar menguap dalam hitungan menit.
Fenomena ini bukan hal baru di dunia kampus. Setiap semester, mahasiswa seolah ikut undian: apakah dapat dosen yang menginspirasi, atau dosen yang menyihir dengan rasa kantuk. Ironisnya, dosen dengan gaya mengajar monoton justru sering dibiarkan mengajar bertahun-tahun tanpa ada pembaruan metode. Mereka ahli di bidangnya, tapi lupa bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal menyampaikan teori, melainkan membuat orang lain memahami dan tertarik untuk belajar.
Dampaknya, kelas menjadi ruang formalitas tanpa makna. Mahasiswa hadir karena takut absen, bukan karena ingin belajar. Ketika ada yang bertanya, jawaban dosen berputar tanpa arah, membuat konsep sederhana justru tampak rumit. Situasi ini menciptakan lingkaran bosan: dosen bicara tanpa gairah, mahasiswa mendengar tanpa semangat. Pendidikan yang seharusnya menggugah justru berubah jadi rutinitas menjemukan.
Namun menyalahkan dosen saja juga tidak adil. Banyak dari mereka tidak pernah mendapat pelatihan pedagogik atau dukungan dari kampus untuk mengembangkan metode mengajar. Karena itu, perubahan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama kampus perlu membuka ruang evaluasi dan pelatihan, sementara mahasiswa juga bisa memberi masukan secara sopan dan terbuka agar proses belajar menjadi dua arah.
Sihir ala dosen sebenarnya bisa dipatahkan, bukan dengan mantra, tapi dengan keinginan untuk memperbaiki cara berkomunikasi. Dosen yang mau belajar memahami gaya belajar mahasiswa, dan mahasiswa yang berani aktif di kelas, bisa menciptakan suasana baru yang hidup. Karena sejatinya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara, melainkan siapa yang paling tulus ingin membuat orang lain mengerti.

Leave a Reply