Istilah “perguruan tinggi” seharusnya melambangkan tempat dengan nilai luhur, tempat di mana ilmu dan moralitas tumbuh bersama. Namun realitasnya, banyak kampus hari ini justru kehilangan makna kata “tinggi” itu sendiri. Bukan tinggi dalam hal ilmu, melainkan dalam jarak antara idealisme dan kenyataan. Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembebasan justru kadang terasa seperti pabrik nilai dan sertifikat.
Kita sering mendengar jargon “mencetak generasi kritis dan berintegritas,” tapi di lapangan, mahasiswa justru diajarkan untuk patuh tanpa berpikir. Banyak dosen yang alergi pada perdebatan, birokrasi yang kaku menekan kreativitas, dan sistem penilaian yang hanya menghargai kepatuhan, bukan keberanian berpikir. Perguruan tinggi kehilangan fungsinya sebagai laboratorium ide, berubah menjadi sekadar tempat formalitas akademik demi selembar ijazah.
Tak jarang pula kampus sibuk membangun gedung megah dan fasilitas modern, tapi lupa membangun kualitas manusia di dalamnya. Mahasiswa berprestasi kadang tak mendapat ruang, sementara yang pandai “menyenangkan atasan” justru diistimewakan. Dosen sibuk dengan jabatan struktural, mahasiswa sibuk mencari nilai, sementara proses pendidikan berubah menjadi transaksi kepentingan. “Tinggi” secara gedung, tapi rendah dalam nurani dan integritas.
Namun, menuding kampus saja tidak cukup. Mahasiswa pun sering ikut berperan dalam menjatuhkan makna pendidikan. Mereka datang kuliah sekadar menggugurkan absensi, menyontek saat ujian, dan enggan berpikir kritis. Jika kampus kehilangan semangat idealismenya, maka mahasiswa juga kehilangan keberanian untuk mempertahankannya. Dunia pendidikan tidak akan pernah tinggi jika penghuninya justru nyaman hidup dalam rendahnya standar moral dan intelektual.
Sudah saatnya perguruan tinggi kembali berdiri di atas nilai yang sesungguhnya: kejujuran, kebebasan berpikir, dan kepedulian sosial. Gelar sarjana seharusnya bukan tanda lulus ujian, melainkan bukti bahwa seseorang telah naik derajat dalam berpikir dan berperilaku. Karena tinggi yang sejati bukan diukur dari seberapa tinggi menara kampus menjulang, tapi seberapa tinggi ilmu dan akhlak penghuninya melampaui ego dan kepentingan pribadi.

Leave a Reply