SALAH TANGGAP

Sebagai manusia kita menyadari bahwa kita diciptakan berbeda-beda oleh Sang Pencipta. Rupa, warna kulit, rambut, bahasa, termasuk juga tempat tinggal. Diciptakan dengan tempat yang memiliki letak geografis berbeda telah membentuk suatu budaya yang berbeda, prinsip hidup yang berbeda, cara pandang dan cara pikir yang berbeda.

 Di era digital seperti saat ini, dimana berpendapat menjadi sebuah kebebasan menjadikan media social sebagai tempat yang dirasa paling nyaman untuk mengutarakan segala isi hati. Pendapat, ilmu pengetahuan, sampai curhatan yang tidak penting sama sekali seperti “laper tengah malam” dengan sangat mudah kita temukan di media social.

Media sosial terus mengalami transformasi. Disetiap harinya terlihat selalu ada hal baru yang pasti berhubungan dengan media social. Media sosial kini juga telah bertransformasi menjadi tempat besar berlangsungnya sebuah komunikasi, bukan hanya komunikasi satu arah saja, melainkan juga komunikasi dua arah. Kita kini dengan mudahnya berinteraksi, saling membalas postingan dalam kolom komentar atau juga dalam fitur message yang tersedia.

Dalam sebuah komunikasi baik secara langsung (tatap muka) ataupun tidak, secara verbal juga non-verbal, miscommunication atau kesalahpahaman dalam hal menerima informasi sering sekali terjadi. Kesalahpahaman dalam komunikasi ini terjadi akibat adanya kesalahan dalam menafsirkan makna dari isi pesan yang disampaikan. Kesalahpaman dalam komunikasi di dalam ilmu komunikasi termasuk kedalam salah satu kendala komunikasi efektif dan sangat berpeluang menciptakan konflik.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa kesalahpahaman dalam komunikasi bisa terjadi, salah satunya yakni noise. Noise dalam ilmu komunikasi diartikan sebagai sebuah sinyal yang tidak diinginkan. Sebagaimana sebuah sistem yang akan mengalami gangguan jika terdapat sinyal yang mengganggu, sebuah komunikasi juga akan mengalami hal yang sama jika terdapat hal yang mengganggu dalam proses penyampaian dan penerimaan isi pesan.

Jika dalam komunikasi secara langsung saja kita sering mengalami miscommunication, sudah pasti bisa dibayangkan bagaimana dengan komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung dimana noise yang datang jauh lebih banyak.

Komunikasi di media sosial menjadi gambaran bagaimana kesalahpahaman dalam komunikasi terjadi. Bahkan mungkin sering. Sudah banyak kasus terjadi di media sosial akibat dari salah memahaminya seseorang terhadap makna dari pesan yang disampaikan. Hal-hal yang juga sering di salah pahami oleh seseorang di media social adalah toxic positivity.

Sejak melambungnya Instagram yang kemudian diikuti banyak bermunculannya Influencer, postingan yang mengandung Toxic positivity semakin sering menjadi topik pembahasan khususnya oleh para Influencer tadi. “Stay Positive”, “Just be Yourself”, “Love Yourself”, “Every women is Beautiful”, “You Can do it” adalah beberapa contoh dari banyaknya toxic positivity yang bertebaran di media social. Sekilas toxic positivity ini terlihat begitu baik karena tujuannya mungkin mengajak kita untuk bisa bertahan menghadapi segala masalah yang kita hadapi atau untuk selalu mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

Sayangnya, toxic positivity tidak selamanya justru memberikan solusi. Toxic positivity justru kadang menjadi alasan seseorang bersikap diluar jalurnya. Sebagai contoh kata-kata “Be Yourself”, uangkapan klise yang mungkin sering kita jadikan sebagai caption status ini dikambinghitamkan oleh orang-orang yang sebenarnya memiliki habit atau personality yang menyimpang. Mereka menjadikan kata-kata tersebut sebagai alasan untuk menyangkal bahwa mereka tidak salah. Contoh lainnya adalah kata-kata “Believe in Yourself, engga usah dengerin kata orang” sering juga menjadi alasan beberapa orang untuk menjadi menutup diri dari evaluasi yang disampaikan oleh orang lain terhadap diri sendiri. Contoh yang terakhir mengenai kata-kata “You are stronger than you think” yang juga sering menjadi alasan bahwa ketika kita tertimpa musibah kita harus selalu menghadapinya dengan keadaan posistif yang dalam artian baik-baik saja, tidak boleh ada emosi sedih, marah, atau kesal. Padahalkan its ok to not be ok dan menurut dr. Jielmi Ardian, seorang residen psikiatri di RS Muwardi Solo dalam tirto.id mengatakan bahwa setiap emosi itu punya pesan, baik itu marah, Bahagia, artaupun sedih.  

Terjadinya beberapa hal diatas merupakan akibat dari salah tanggapnya seseorang terhadap kata atau pesan yang diterimanya. Setiap orang memang memiliki cara pandangnya masing-masing terhadap segala hal yang ditemuinya di dunia ini, dan itu sah-sah saja karena memang secara fitrah kita diciptakan berbeda-beda dengan tujuan untuk saling mengenal dan bisa saling belajar dari pandangan-pandangan yang berbeda tersebut.

Dengan beberapa contoh kasus “salah tanggap” diatas, kita kini semakin menyadari dampak dari sebuah kesalahpahaman ternyata begitu besar bahkan dapat menimbulkan konflik terhadap orang lain dan terhadap diri kita sendiri. Untuk itu, mulai dari sekarang pastikan untuk selalu re-chek setiap informasi yang kita terima, lebih membuka diri terhadap pendapat orang lain dan jangan hanya mengandalkan satu sumber saja karena manipulasi media masih terjadi bahkan sampai detik saya menulis ini dan saat kamu membaca tulisan ini.

Penulis : Surnawati (Komuniasik Campus Ambassador 1.0)

Editor : Isyraqi Khairy Siregar (Tim Komuniasik)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *