Sejak awal pandemi 2021 dunia virtual semakin marak hingga seluruh lapisan masyarakat mulai aktif mengikuti arus perkembangan teknologi digital terutama dalam dunia digitalisasi marketing yang mengharuskan mereka mengubah kebiasaan dengan menggunakan gadget untuk terus dapat berinteraksi dengan satu sama lain. Media digitalisasi juga telah mengubah hidup pelaku UMKM yang digunakan sebagai inovasi berdagang model kini. Akibatnya dari 3 tahun belakangan ini adanya perubahan perilaku konsumen yang telah terbiasa melakukan transaksi online untuk membeli kebutuhan mereka sehingga implikasi toko online semakin menunjukkan tanda aktivitasnya yang bergerak naik. Konsumen mulai membaca ulasan, membandingkan harga, dan mencari rekomendasi dari media sosial. Dari meningkatnya penggunaan internet, maka anggaran iklan dari media cetak menurun karena telah beralih ke media online, seperti iklan Facebook, YouTube, dan Google ads.
Maraknya perkembangan dunia online marketing kian mengubah kebiasaan pola masyarakat dan perusahaan untuk berjualan. Bisnis ritel di pasar yang mengandalkan penjualan offline telah merasakan dampaknya dengan penurunan lalu lintas konsumen untuk datang ke toko mereka. Untuk itu, sebagian besar perusahaan yang belum terjun ke dunia online marketing telah terdorong untuk mengadopsi model bisnis online melalui platform e-commerce Shopee, Tokopedia, Lazada hingga saat ini yang sedang ramai dibicarakan yakni aplikasi media sosial yang turut menghadirkan fitur TikTok shop. Berdasarkan data yang telah dirangkum dari website TikTok shop adalah fitur untuk penjual menawarkan produknya ke pengguna TikTok secara langsung. Penjual maupun kreator dapat menjual produknya melalui in-feed videos, LIVEs, dan tab katalog produk. Fitur ini tersedia untuk pengguna TikTok dengan akun bisnis. Adanya fitur ini tentu memberikan peluang kepada penjual untuk memperluas pangsa pasar mereka hingga mencapai target pelanggan online baru.
Meskipun digitalisasi pemasaran telah memberikan dampak positif dan memberikan penargetan yang lebih efektif namun perlu diketahui adanya toko online dianggap mampu membunuh toko offline. Berbagai pertanyaan terus menggentayangi
apakah digitalisasi online marketing mampu membunuh bisnis ritel di pasar offline?
Berbagai pusat perbelanjaan dirasa cukup sepi, sehingga banyak pedagang berpendapat sepinya penjualan disebabkan oleh banyaknya konsumen yang memilih untuk melakukan belanja secara online karena harga yang jauh lebih murah dibanding toko offline, maka untuk menjawab pertanyaan di atas tentu jawabannya tidak sepenuhnya mampu mengancam keberadaan pasar toko offline karena jika dipahami seksama bahwa tidak sepenuhnya digitalisasi marketing mampu mematikan pasar offline. Ada aspek kelesuan ekonomi yang juga menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat, sehingga keberadaan toko online tidak bisa langsung dijustifikasikan negatif. Namun jika bisnis ritel di pasar offline hanya berkompetisi dengan harga jual murah, maka bisa saja digitalisasi marketing online mampu membunuh sebagian toko offline, tetapi jika toko offline mampu menjual keunikan dan kreatifitas mereka, maka digitalisasi marketing bukan ancaman karena beda wilayah persaingan.
Penulis: Amelia Putri
Editor Redaksi: Salma Aulia

Leave a Reply