Kamu pernah mengalami perasaan tiba-tiba khawatir, kesepian, tertekan, sering mempertanyakan ketidakpastian kehidupanmu di masa mendatang, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan? Bisa jadi kamu sedang mengalami Quarter Life Crisis (QLC). Quarter Life Crisis (QLC) atau krisis seperempat kehidupan adalah periode saat seseorang berusia 20–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan merasa kehidupannya tidak berjalan dengan baik. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial. Tak jarang seseorang di fase ini menjadi lebih pendiam dan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Semakin bertambah usia, perubahan diri dan mental seseorang akibat pengaruh lingkungan sekitar akan cukup terasa. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kapan wisuda? Kerja dimana? Kapan Menikah? Kapan punya momongan? Umur segini kok belum mapan?” sering dianggap ringan oleh sebagian orang, namun sebenarnya justru yang paling banyak membebani pikiran seseorang. Hal ini membuat seseorang terus-menerus memikirkan hal-hal tersebut dalam hidupnya sehingga timbullah kegelisahan, rasa tertekan, depresi, bahkan frustasi karena merasa terjebak dalam ketakutan akan masa depan.
Penyebab Quarter-Life Crisis
Tanda-Tanda Quarter Life Crisis
Seseorang yang sudah memasuki fase ini ditandai dengan timbulnya berbagai emosi negatif seperti kecemasan, frustasi, hingga merasa kehilangan arah dalam dirinya, sehingga ini mengakibatkan kondisi stres, depresi, atau gangguan psikologis lainnya. Fase quarter-life crisis umumnya berdampak pada kaum Milenial yang sering merasa tidak nyaman, kesepian, serta depresi dalam hidupnya. Lebih rinci, berikut beberapa tanda seseorang sedang mengalami quarter life crisis:
1. Perilaku Impulsif
Impulsivitas kadang terlihat pada seseorang, terutama yang mengalami quarter-life crisis. Saat seseorang menyadari bahwa sebenarnya ia membenci pekerjaan saat ini, tanpa berpikir panjang mungkin akan langsung berhenti tanpa melakukan banyak pertimbangan dan melakukan kegiatan lain yang disukainya, misalnya travelling.
2. Merasa ‘terjebak’ dan membutuhkan perubahan
Di fase ini seseorang merasa bahwa ia berada pada situasi yang membuatnya sulit berkonsentrasi dan hidupnya yang berjalan dengan “autopilot”. Dan ia membutuhkan dorongan adrenalin yang membuatnya merasa terdesak untuk melakukan suatu perubahan, walaupun tidak tahu perubahan seperti apa yang dibutuhkannya.
3. Ketidakmampuannya untuk membuat hubungan yang berkomitmen
Di periode quarter-life crisis, seseorang akan merasa bimbang dihadapkan akan ke mana rencana masa depannya yang membuatnya sulit dipahami, termasuk dalam hal komitmen terhadap hubungan dengan orang lain. Terlalu fokus pada hal-hal yang memicu krisis hubungan terkadang membuat hubungan interpersonal seseorang juga terpengaruh.
4. Sulit mengambil keputusan
Di fase ini, seseorang akan semakin banyak mengeksplorasi banyak hal yang berbeda, membuatnya melakukan banyak analisis atas pro dan kontra, sehingga tekanan untuk mengambil keputusan sering kali menjadi jauh lebih sulit. Akhirnya, ia sampai pada titik di mana sangat sulit untuk bergerak maju. Ia merasakan ketakutan yang berlebihan ketika dihadapkan dengan pilihan, takut apa yang dipilihnya itu tidak tepat.
5. Merasa terisolasi dan kesepian
Self-talk yang negatif dapat memperburuk keadaan dan malah meyakinkan diri sendiri untuk menarik dan mengisolasi diri dari orang lain. Self-talk negatif yang meyakinkan diri bahwa orang lain tidak menyukai dirinya, atau ia merasa hidupnya paling sengsara daripada orang lain, mungkin membuat seseorang menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Akibatnya, tindakan ini mendorong orang lain untuk menjauh darinya dan ia semakin merasa terisolasi dan kesepian.
6. Merasa kehilangan arah
Quarter-life crisis dipenuhi oleh perasaan hampa yang menyebabkan seseorang merasa seperti ada yang hilang dan kekurangan motivasi (ditandai kelelahan dan kurang tidur). Ia juga merasa kehilangan arah tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup dan mencoba mencari tahu apa yang hilang tersebut. Sehingga, ia sering kali mempertanyakan dirinya sendiri, termasuk siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.
7. Cemas dan depresi
Selama fase krisis, seseorang merasa seluruh dunianya terasa gelap dan tidak menyenangkan, yang menimbulkan perasaan cemas tentang garis waktu dan rencana kehidupannya di masa depan, serta pertanyaan apakah hal yang ia lakukan sudah benar dan cukup. Selain itu, perasaan putus asa dan kurangnya motivasi atau minat pada hal-hal yang pernah diminati dapat mengarah kepada gejala depresi.
8. Insecure
Kecenderungan untuk membandingkan hidup dengan orang lain dan merasa bahwa kehidupan mereka lebih baik dapat dialami oleh semua orang, namun di fase ini sangat dirasakan oleh seseorang. Ia cenderung khawatir akan ketertinggalan dirinya dari teman-temannya dalam hal kesusksesan. Timbul perasaan bahwa apa yang ia miliki saat ini tidak cukup baik, misalnya dalam hal karier, pendapatan, penampilan, hingga hubungan romantis.
9. Merasa kehabisan waktu
Ketika dewasa, seseorang mungkin merasa bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan tetapi ia tidak memiliki cukup waktu untuk itu. Ketika masih kecil, seringkali membayangkan bahwa ia akan memiliki dan melakukan banyak hal pada usia 25 atau 30 tahun. Ketika ia sudah mencapai usia tersebut tetapi belum berhasil mendapatkannya, maka ia akan merasa kehabisan waktu.
Fase Quarter-Life Crisis
Dr. Oliver Robinson, peneliti dan pengajar psikologi universitas Greenwich, London, menjelaskan terdapat empat fase yang dilalui oleh seseorang dalam masa quarter-life crisis, yaitu:
1. Fase pertama, seseorang akan merasa terjebak dalam situasi yang merupakan pilihan hidupnya dalam pendidikan, pekerjaan, hubungan komitmen, dan lainnya. Ia merasa dalam mode “autopilot” dan merasa sulit untuk keluar dari zona tersebut.
2. Fase kedua, seseorang mendapat dorongan kuat untuk mengubah situasi dan merasa bahwa perubahan itu hanya akan terjadi jika ia melakukan sebuah “movement”. Saat menyadari posisinya dalam kritis, ia akan berusaha keras untuk mengubah keadaan dan berhati-hati agar tidak gagal. Di fase ini, terjadi tindakan yang sangat krusial yaitu keinginan untuk keluar dari komitmen yang sudah dijalani dan membuatnya merasa terjebak. Hal ini menimbulkan kebingungan peran internal dan eksternal yang memunculkan motivasi untuk melarikan diri. Kemudian, ia melepaskan diri dari komitmen tersebut dan mengalami periode ‘menyendiri’ untuk mencari tahu siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.
3. Fase ketiga, muncul keinginan untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik. Ini dapat terjadi ketika seseorang telah berhasil mencapai suatu target dalam hidupnya. Misalnya saat seseorang mendapatkan gelar sarjana setelah berjuang keras mengerjakan skripsi berbulan-bulan. Akan timbul perasaan bangga, lega, dan puas setelah melewati masa perkuliahan dan skripsi. Namun ia tidak boleh berlama-lama dalam kesenangan itu, sebab ia harus melanjutkan rencana hidup lainnya yang masih berjalan.
4. Fase keempat, membangun komitmen baru yang sesuai dengan minat dan nilai moral yang dipercaya oleh seseorang, baik dalam hal pendidikan, pekerjaan, hubungan komitmen, dan lainnya. Di fase ini, seseorang harus siap menghadapi tantangan dan kehidupan barunya yang tentunya jauh berbeda dari sebelumnya.
Sebenarnya wajar saat seseorang sedang di fase Quarter Life Crisis. Meskipun terasa sangat berat, quarter-life crisis merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi kembali hidup yang dijalani individu dan mulai membuat keputusan yang lebih baik, juga untuk mengenali dirinya sendiri secara lebih mendalam serta mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Alih-alih memikirkan kegagalan yang kita alami dan membandingkannya dengan orang lain, kita dapat mulai mencari tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup. Fokus pada proses melewatinya satu per satu dengan baik, dan yakin bahwa apa yang kita inginkan akan tercapai meskipun tidak dalam waktu yang singkat. Bersama orang-orang yang bisa mendukung impian dan cita-cita, kita dapat mencapai tujuan dengan perasaan senang dan lebih baik. Temukan orang-orang yang dapat menginspirasi diri sendiri dalam mencapai tujuan.
Dan yang terpenting, mulai perhatikan kebutuhan diri sendiri. Menyingkirkan pikiran-pikiran negatif akan ketidakmampuan untuk mencapai tujuan merupakan salah satu bentuk self-love untuk diri sendiri. Dengan memenuhi kebutuhan kita, tentu melewati target demi target yang akan kita capai akan menjadi lebih mudah.
Penulis: Ana Fauziyah
Editor: Ana Fauziyah

Leave a Reply