Menjamurnya Fenomena Self Disclosure di Media Sosial

Setiap individu dalam jejaring media sosial tentunya terdorong dengan kebutuhan untuk menjalin hubungan interpersonal dengan pengguna lainnya. Dalam hubungan interpersonal tentunya akan ada komunikasi dimana akan ada pernyampaian informasi tentang dirinya. Salah satu fenomena yang saat ini menjamur di media sosial yaitu mengenai self disclosure. Self disclosure adalah jenis komunikasi dimana seseorang mengungkapkan informasi tentang dirinya sendiri yang biasanya disembunyikan. Hal lainnya bahwa self disclosure yaitu kegiatan membagi informasi diri kepada orang lain berupa informasi perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, serta ide yang terdapat dalam diri individu. Dalam hal tersebut terdapat dua kemungkinan respon yang di terima yaitu respon positif atau respon negatif. Respon atau tanggapan orang lain terhadap curahan seseorang di media sosial tentunya berbeda-beda, ada yang memberikan respon positif berupa dukungan, saran, nasihat namun disisi lain pengungkapan diri juga bisa menerima respon yang tidak sesuai harapan seperti menerima tanggapan yang negatif seperti dihina.

Masa remaja dikatakan sebagai masa pencarian identitas diri. Pada anak yang menginjak usia remaja, sejatinya peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mendampingi perkembangan anak. Hubungan harmonis antara orang tua dengan anak yang berada di fase remaja dapat menumbuhkan self disclosure pada diri anak kepada orang tuanya. Menurut Ali & Asrori (2010), pengungkapan diri dimulai dari lingkungan rumah, kemudian berkembang ke lingkungan sekolah, dan dilanjutkan pada lingkungan yang lebih luas lagi yaitu teman sebaya. Disaat seorang anak berani self disclosure kepada orang tua, tentunya di sini orang tua berperan untuk menjadi pendengar yang baik serta memberikan pengarahan kepada anaknya. Kemampuan orang tua untuk membangun komunikasi interpersonal dengan seorang anak. Melalui intensitas komunikasi yang terjalin dengan baik antara orang tua dengan anak maka dapat menumbuhkan hubungan yang ideal antara orang tua dengan anak.

Akan tetapi di era digital saat ini peran orang tua sebagai pendengar permasalahan dan perasaan anak cenderung terabaikan, karena anak lebih aktif dengan media sosial. Fenomena self disclosure di media sosial saat ini dirasa sudah menjamur di berbagai platform media sosial. Self disclosure terjadi tidak hanya melalui interaksi dan komunikasi secara tatap muka langsung, akan tetapi juga bisa melalui media sosial. Saat ini pun banyak pengguna media sosial yang cenderung bebas dan berani melakukan self disclosure melaui media sosial. Media sosial beralih fungsi juga sebagai sarana me­menuhi kebutuhan individu seperti membangun hubungan sosial melalui dunia maya, menyampaikan apa yang dialami dan dirasakan individu, serta segala hal yang dapat dituangkan di jejaring sosial.

Pihak orang tua pun cenderung tidak menyadari kerenggangan hubungan dan komunikasi dengan anak. Orang tua pun biasanya tidak mengontrol aktivitas media sosial anaknya, apalagi sudah menginjak usia remaja. Intensitas penggunaan media sosial di kalangan remaja cenderung akan mempengaruhi hubungan komunikasi dengan orang lain. Self disclosure di media sosial sering terjadi pada pengguna usia remaja. Di usia remaja, biasanya mereka sudah merasakan berbagai situasi, perasaan dan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Tentunya ada berbagai motivasi yang mendorong pengguna mampu melakukan self disclosure meskipun tentang hal tabu atau negatif dalam hidupnya sendiri. Di saat remaja di kehidupan sosial merasa tidak mempunyai seseorang yang dirasa mampu menjadi pendengar dan penasehat yang baik, bagi mereka platform media sosial menjadi tempat yang tepat untuk mengungkapkan segala perasaan dan permasalahan mereka. Bentuk self disclosure atau pengungkapan diri yang dilakukan seperti menceritakan melalui kolom komentar, mencurahkan melalui postingan atau update story bahkan dijadikan sebuah konten. Menurut Boyd dan Heer (2006) self-disclosure dalam media sosial bermanfaat sebagai sarana dalam mempresentasikan identitas diri. Intensitas yang tinggi dalam self disclosure atau pengungkapan diri melaui platform media sosial akan berdampak pada privasi pengguna yang terenggut karena informasi tentang dirinya telah menja­di rahasia publik. Aktifnya pengguna media sosial namun cenderung mengabaikan mengenai hal privasi tentang dirinya

Penulis : Reni Safitri


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *