Melihat Sudut Pandang Gosip dalam Ilmu Sosiologis

Sebelum membahas apa itu bergosip dan melihat sudut pandangnya dari kacamata sosiologis, mari kita refleksikan apakah bergosip selamanya perbuatan jelek atau tidak. Selama ini konotasi bergosip adalah perbuatan yang kurang baik, padahal tidak selamanya begitu. Karena secara definisi bergosip adalah membicarakan orang lain yang tidak ada atau yang tidak hadir. Jadi secara definisi ini bergosip tidak harus tentang menyebarkan rumor jahat atau cerita memalukan seperti yang menjadi paradigma di masyarakat, melainkan bisa sekadar berbagi informasi atau sekadar interaksi dalam kehidupan. Misalnya menceritakan kepada orang lain bahwa pekan depan sepupu kita akan pergi umroh, teman dekat kita akan melanjutkan S2 di Amerika, atau anak laki-lakimu juara badminton. Jadi baik buruknya bergosip tergantung apa isi pembicaraanya.

Menurut sosiologi manusia tidak akan lepas dari yang namanya interaksi sosial, ini merupakan sebuah kebutuhan dasar manusia sebagai mahluk sosial. Interaksi sosial adalah hubungan dan pengaruh timbal balikantara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Syarat interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial atau adanya interaksi. Bergosip yang pada dasarnya adalah bentuk interaksi sosial yang jika dilihat dari sudut pandang sosiologi termasuk ke dalam Teori Konstruksi Soial. Realitas bergosip merupakan proses interaksi sosial yang menghasilkan sistem nilai dan keyakinan. Kebiasaan tersebut biasanya dilakukan berulang-ulang. Dilihat dari teori ini bergosip merupakan sikap yang awalnya merupakan cara pandang, lalu menilai dan menyebarkannya melalui interaksi dengan orang lain. Sikap ini masuk ke dalam individu melalui proses internalisasi dan dipraktikan melalui proses ekternalisasi. Misalnya, kita melihat tetangga kita membeli mobil baru kemudian informasi itu kita proses dengan internalisasi, besoknya kita belanja di pasar dan membicarakannya dengan orang lain atau ekternalisasi. Jadi, proses bergosip itu muncul karena adanya informasi yang di internalisasi terlebih dahulu. Teori Kontruksi Sosial melihat realitas tersebut sebagai produk dari konstruksi sosial.

Di sisi lain bergosip adalah cara individu ingin diterima di masyarakat.  Jadi motif orang bergosip itu banyak sekali salah satunya agar diterima di masyarakat dan juga sekadar untuk hiburan, mengetahui informasi dan ikut bergosip akan membuat orang merasa dianggap dalam satu kelompok berpartisipasi dalam suatu kelompok. Berpartisipasi dalam obrolan disebuah lingkungan dapat dijadikan modal sosial seseorang untuk diterima dengan baik dalam suatu kelompok.

Jadi secara sosiologi dengan sifat non etis yaitu tidak menilai baik buruknya sesuatu di masyarakat. Maka bergosip tidak hanya perilaku kurang baik namun juga perilaku yang wajar dilakukan di tengah masyarakat yang memang membutuhkan interaksi sosial.

Referensi  Buku Sosiologi Suatu Pengantar (Prof. Dr. Soerjono Soekanto)

Penulis: Adi Bahtiar (Komuniasik Campus Ambasador Batch 2.0)

Editor: Surnawati


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *