
Kalian pernah gak sih ngerasa stress banget karena ditimpa masalah dan beban yang bertubi-tubi? Tugas satu belum selesai, eh tugas lain udah datang lagi. Pusing banget ya? Bingung mau ngerjain yang mana dulu. Sampai pada akhirnya gak ngapa-ngapain karena udah pusing duluan.
Duh, kayaknya kita perlu banget deh kenalan sama “manajemen stress”. Tapi sebenarnya, manajemen stress itu apa sih? Emang stress bisa dimanajemen ya? Eits, tentu bisa dong. Gimana tuh caranya? Sabar~ Yuk simak dulu!
Pada dasarnya, manajemen adalah sebuah proses untuk mengelola sesuatu. Sedangkan stress adalah ketegangan mental yang disebabkan karena keadaan sekitar yang membebani dan menuntut sehingga membuat seseorang merasa sangat tertekan. Jika digabungkan, secara sederhana, manajemen stress adalah upaya untuk mengelola dan menanggapi kekacauan mental dan emosional.
Mental Health Foundation, sebuah organisasi kesehatan mental di Inggris, mengemukakan beberapa indikator yang menjadi tanda seseorang sedang mengalami stress, yakni:
- Kehilangan gairah dan semangat untuk melakukan apa pun yang menurutnya sulit
- Mood sangat cepat berubah dengan drastis (mood swing)
- Mudah marah dan tersinggung jika dinasihati
- Kepercayaan diri kian berkuang bahkan hilang
- Sulit istirahat/tidur dengan nyenyak
- Mudah merasa lelah walaupun mengerjakan pekerjaan yang sedikit
- Lebih banyak menuntut kepuasan dan kesenangan yang cepat
Stress juga disebabkan oleh banyak faktor, lho. Ada faktor eksternal dan faktor internal, di antaranya:
Faktor Internal
- Pikiran negatif/overthinking.
Memikirkan apa yang tidak terlalu penting untuk dipikirkan, sering merendahkan diri sendiri atau memandang buruk orang lain sehingga mudah menyalahkan orang/lingkungan sekitar.
- Workaholic.
Yaitu seseorang yang bekerja secara terus menerus tanpa jeda, sehingga mengorbankan keluarganya, jam makannya, dan jam istirahatnya.
- Fixed Mindset
Yaitu orang yang berpikiran kaku, terlalu banyak berpikir, bahkan tidak mau berpikir sama sekali.
- Gaya hidup
Sering begadang, suka menghambur-hamburkan uang, dan kebiasaan buruk lainnya yang terus dilakukan hingga tanpa sadar menimbulkan stress setelahnya.
Faktor Eksternal
- Traumatik di masa lalu/pengalaman tidak menyenangkan.
- Lingkungan sosial yang negative vibes
Yaitu tidak saling menghargai, tetapi sebaliknya yaitu saling menjatuhkan.
- Intimidasi dan tekanan pihak luar yang menuntut penyelesaian
Contoh: deadline tugas.
Sampai sini, agaknya kalian sudah bisa mengukur, nih. Kira-kira kalian lagi ada di fase stress atau enggak ya? ha-ha-ha.
Lantas, bagaimana cara untuk memanajemen stress?
- Mengidentifikasi dan mengenali diri lebih dalam.
Catat, apa-apa saja yang biasanya menyebabkan kita stress
2. Merancang target/tujuan hidup dengan jelas dan spesifik agar hidup bisa lebih terarah.
3. Melakukan sharing dengan teman sebaya, senior, atau orang tua terdekat yang membuat dirimu merasa aman dan tenang.
4. Memperbaiki kebiasan negatif dalam hidup.
5. Mengelola waktu dengan baik
Luangkan waktu untuk beristirahat, me time, berolahraga, dan apa pun yang membuat kalian senang dan fresh kembali.
6. Memperluas networking dengan lingkungan yang produktif, aktif, dan penuh dengan semangat.
7. Melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih rileks dan tenang.
8.Selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.
Dengan melakukan sholat 5 waktu, berdzikir, dan selalu ingat bahwa Allah selalu bersama kita (para hamba-Nya). Jadi, apa yang perlu dipusingkan/dirisaukan?
Oke, guys. Itulah beberapa tips dan penjelasan yang bisa aku berikan terkait stress dan cara memanajemennya. Semoga bisa memberikan insight baru yaa untuk teman-teman!
Oh, iya. Allah nitipin satu pesan, nih, untuk kita-kita!
وَجَآءُوۡ عَلٰى قَمِيـۡصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍؕ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَـكُمۡ اَنۡفُسُكُمۡ اَمۡرًاؕ فَصَبۡرٌ جَمِيۡلٌؕ وَاللّٰهُ الۡمُسۡتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوۡنَ
“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan” (Q.S Yusuf [12]: 18)
Penulis: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)
Editor: Hilya Maylaffayza

Leave a Reply