
Islam adalah agama dakwah. Islam tidak memusuhi, tidak menindas unsur-unsur fitrah. Islam mengakui adanya hak dan wujud jasad, nafsu, akal dan rasa dengan fungsinya masing-masing. Dakwah dalam pengertian amar ma’ruf nahi munkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ini merupakan kewajiban fitrah manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk ijtima’i (M. Natsir, 1977: 26). Untuk mencapai tujuan ini, perlu direnungkan betapa pentingnya dakwah dalam kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu, tidak tepat jika ada asumsi bahwa dakwah ditujukan hanya kepada orang non muslim, sedangkan orang muslim sejak lahir hidup dalam keluarga muslim, tidak lagi membutuhkan dakwah. Yang perlu dipahami bahwa dakwah harus dimulai dari diri sendiri sebelum berdakwah kepada orang lain.
Oleh karena itu, berdakwah secara berkesinambungan, bukan pekerjaan yang mudah. Berdakwah tidak cukup hanya dilakukan dengan lidah, tetapi juga harus praktekkan dalam bentuk perbuatan. Berdakwah merupakan sesuatu yang sangat penting demi tercapainya tujuan dakwah Islam. Dalam hubungan ini, seorang da’i harus benar-benar memiliki akhlak yang terpuji sehingga dapat menjadi panutan bagi yang orang-orang yang didakwahinya. Agar dakwah berhasil, diperlukan berbagai elemen yang terkait dengan unsur-unsur dakwah yang merupakan satu kesatuan konsep yang utuh .
Dakwah merupakan kewajiban umat islam, lebih – lebih mereka yang telah memiliki pengetahuan agama Islam dan dakwah sebagai proses informasi nilai-nilai keislaman membutuhkan apa yang dinamakan proses pengkomunikasian. Kandungan ajaran islam yang didakwahkan merupakan sekumpulan pesan-pesan yang dikomunikasikan kepada manusia. Disinilah berlaku pola proses dakwah dengan proses komunikasi. Apalagi bahwa ajaran-ajaran keagamaan tidak semuanya berupa bentuk keterangan yang gamblang. Sebaliknya kebanyakan pesan keagamaan justru berupa lambang-lambang atau simbol-simbol yang harus diuraikan dan diinterpretasikan, agar dapat dipahami oleh manusia. Menurut Osgood, proses komunikasi ditinjau dari peranan manusia dalam hal memberiinterpretasi (penafsiran) terhadap lambang lambang tertentu (massage/pesan). pesan-pesandisampaikan (encode) kepada komunikan (dalam bahasa dakwah disebut mad’u) untuk kemudian ditafsirkan dan selanjutnya disampaikan kembali kepada pihak komunikator, dalam bentuk pesan-pesan baik berupa feedback atau respons tertentu sebagai efek dari pesan yang dikomunikasikan. Jika dianalisa keseluruhan proses dakwah, maka dapat dilihat bahwa terjadi keselarasan antara proses komunikasi dengan proses dakwah. maka wajar saja jika banyak orang yang mengatakan bahwa proses dakwah adalah proses komunikasi itu sendiri. tentu yang dimaksud adalah proses komunikasi keagamaan.
Dakwah sudah pasti sebuah komunikasi, tepatnya komunikasi persuasif, karena hakikat dakwah adalah mengajak (da’a, yad’u, da’watan). Namun, komunikasi belum tentu mengandung pesan dakwah. Tujuan komunikasi persuasif identik dengan tujuan utama dakwah, yakni menanamkan believe (keyakinan) dan mengubah attitude (sikap/perilaku) dan mampu berintegrasi dalam masyarakat lewat akhlak . Demikianlah, dakwah, apa pun bentuk dan metodenya, merupakan komunikasi.
Penulis: Nuril Huda
Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)

Leave a Reply