
Ada beberapa jenis hoax yang beredar saat ini, seperti hoax Proper yang artinya berita yang dibuat secara sengaja, dan memiliki maksud untuk menipu orang dengan beritanya. Selanjutnya ada bentuk hoax dengan judul yang provokatif , berita benar dalam konteks menyesatkan, maksud dari jenis hoax ini adalah berita benar yang sudah lama diterbitkan, namun diterbitkan kembali sehingga terkesan kejadian itu baru saja terjadi,karena kita sebagai calon Da’i yang pertama-tama kita lakukan adalah memberi edukasi dan ceramah ringan, tetapi tetap santai kepada masyarakat dan kaum milenaial saat ini. Dalam menanggapi berita yang belum jelas sumbernya, kita bias melakukan langkah-langkah sebagai berikut untuk mengidentifikasi bahwa berita tersebut hoax/tidak antara lain:
1). Hati-hati dengan judul yang provokatif, langkah pertama yang dapat diambil yaitu mencari referensi berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isi beritanya. Dengan demikian, setidaknya pembaca dapat memperoleh kesimpulan yang berimbang.
2). Cek kembali gambar yang didapat, langkah yang harus dilakukan adalah cek gambar tersebut di Google Image. Fitur pencarian gambar serupa yang dimiliki Google Image bisa membuat pembaca tahu gambar yang serupa sebenarnya memuat tentang kejadian apa.
3). Cermati alamat situs. Cermatilah alamat URL situs apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi resmi, maka informasi yang disebarkan bisa disebut informasi yang meragukan pembaca.
4). Teliti dalam membaca informasi. Hal yang sangat amat mungkin terpikir oleh pembaca dalam menentukan berita sungguhan atau hoax adalah dengan mengecek validitas sebuah informasi dengan teliti membaca informasi yang disebar tersebut.
5). Periksa fakta/ Langkah yang harus diambil adalah dengan memperhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Pembaca pun perlu mengamati perbedaan berita yang dibuat berdasarkan fakta atau opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan bukti, berbeda dengan opini yang hanya berupa pendapat dan kesan dari penulis sehingga akan lebih memiliki sifat subjektif.
6). Jangan share artikel, foto, ataupun pesan berantai tanpa membaca sepenuhnya dan yakin akan kebenarannya. Karena membagikan artikel, foto, ataupun pesan berantai akan mempercepat berkembangnya berita hoax.
7). Kini, pemerintah dan Dewan Pers, juga polisi memantau media-media online pembuat dan penyebar berita hoax. Hoax yang menjadi perhatian serius polisi adalah hoax yang sifatnya berbau politik, seperti memojokan pemerintah, atau mengancam stabilitas negara, serta merusak citra pemerintah.
Nah beberapa contoh di atas, sedikit informasi bagaimana cara kita menyikapi banyaknya pesan hoax dalam bermedia sosial ataupun di kehidupan sekitar, karena Hoaks seperti inilah yang merugikan pihak tertentu dan membodohi masyarakat awam. Dalam Al-Quran, dinyatakan dengan tegas, ”…Maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (Qs. Al-Hajj: 30). Kemudian di ayat lainnya, para penyebar hoaks digolongkan bersama orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya berpenyakit. “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan berita bohong di Madinah, niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan waktu yang sebentar” (Qs. al-Ahzab: 60).
Penyebar berita hoaks juga dibenci Allah swt. Dari Mughirah bin Syu’bah, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada kalian: menyebarkan kabar burung, pemborosan harta dan banyak bertanya” (HR. Bukhari). Dalam hadis yang tercantum dalam Bulughul Maram, menyebar berita hoaks termasuk dosa besar! Dari Abu bakrah RA, “Beliau (Nabi saw) menganggap kesaksian palsu termasuk diantara dosa-dosa yang paling besar” (Muttafaq ‘Alaihi)
Penulis: Nuril Huda
Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)

Leave a Reply