Waktu kecil kamu pasti pernah membuat kesalahan, mulai dari kesalahan yang dianggap sepele hingga kesalahan-kesalahan serius. Namun, apakah kamu pernah dihukum dengan didiamkan orang tuamu atas kesalahan-kesalahanmu itu? Jika memang iya, sikap mendiamkan yang dilakukan orang tuamu bisa disebut dengan istilah silent treatment. Silent treatment adalah suatu bentuk penolakan untuk berkomunikasi atau menghindari interaksi dengan seseorang. Biasanya orang tua melakukan hal ini untuk membuat anaknya jera atau sadar akan kesalahannya.
Sayangnya, alih-alih sadar akan kesalahannya, anak malah menjadi kebingungan dan merasa takut salah dalam bertindak. Hal tersebut terjadi karena kebanyakan orang tua jarang memberi penjelasan kepada anak atas sikapnya dan membiarkan masalah berlalu tanpa adanya penyelesaian. Silent treatment yang dilakukan orang tua membekas menjadi trauma pada anak hingga terbawa sampai dewasa. Tak jarang sikap ini ditiru dan diterapkan pula pada hubungan pertemanan, percintaan, atau hubungan dalam pekerjaan. Tentunya ini sangat berbahaya karena dapat mengarah pada hubungan toxic dan tidak bahagia.
Melihat kenyataan yang ada, tidak terelakan bahwa silent treatment memberikan dampak negatif. Dampak yang timbul karena sikap silent treatment tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga dapat berdampak negatif pada psikis dan fisik seseorang.
Melansir dari hellosehat.com, penelitian yang diterbitkan jurnal Frontiers in Evolutionary Neuroscience menemukan bahwa korteks cingulate anterior, bagian otak yang mencatat rasa sakit bekerja lebih keras saat mendapatkan silent treatment.
Pengaruhnya terhadap fisik diantaranya perubahan berat badan, gangguan tidur, dan peningkatan tekanan darah, sedangkan pengaruh terhadap psikis meliputi hilangnya rasa percaya, takut melakukan kesalahan, merasa diabaikan, dan merasa tidak berharga.
Tentu kita menyadari bahwa silent treatment bukanlah cara yang baik dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam hubungan, baik hubungan orang tua dengan anak, hubungan pertemanan, atau bahkan hubungan dalam pekerjaan. Diam tidak selalu baik. Jika memang seseorang melakukan kesalahan, ada baiknya langsung dibicarakan bukan malah didiamkan dan berharap orang tersebut mengerti. Trauma masa kecil yang kita alami tidak bisa terus-menerus digunakan sebagai pembelaan atas sikap kita terhadap orang lain.
Memang, menghilangkan kebiasaan silent treatment akibat trauma masa kecil tidak akan mudah dan memerlukan waktu yang lama, tetapi tidak ada salahnya untuk belajar pelan-pelan menghilangkan kebiasaan tersebut. Cara yang bisa dipakai untuk menghindari silent treatment salah satunya adalah memberitahu orangnya langsung bahwa saat ini kamu sedang marah atas kesalahan yang dilakukan orang tersebut atau sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, izin untuk menenangkan diri terlebih dahulu, jika memang sudah merasa tenang langsung komunikasikan apa masalahnya dan cari solusinya bersama-sama.
Ingat! Melakukan silent treatment ketika terjadi konflik hanya akan memperkeruh keadaan dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada. Membicarakannya langsung tanpa ada drama mendiamkan orang lain dalam waktu yang tak tentu akan terasa lebih baik. So, kalau kita bisa berkomunikasi, kenapa harus melakukan silent treatment, sih?
Penulis: Delima Luzen Ahmad
Editor: Melba Zahrani

Leave a Reply