Jakarta – Saat ini media sosial menjadi salah satu hal yang sering digunakan orang-orang untuk mengisi kesehariannya, mulai dari Instagram, Twitter, TikTok, YouTube dan lainnya. Maka, di era sekarang rasanya sangat sedikit jika seseorang tidak memiliki akun media sosial bukan?
Berdasarkan riset Katadata, We Are Social mencatat jumlah para pengguna media sosial secara global terus meningkat tiap tahunnya. Terhitung sejak Januari 2021, angkanya mencapai 4,2 miliar atau berkembang sebesar 13,2% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Namun, dibalik pesatnya penggunaan media sosial nyatanya ada beberapa dampak negatif yang dihadirkan, salah satunya sindrom FOMO. Kini, istilah tersebut menjadi salah satu topik hangat yang sering diperbincangkan di media sosial, khususnya bagi para Gen Z.
Nah, sebenarnya apa sih FOMO itu?
FOMO atau Fear Of Missing Out merupakan suatu keadaan seseorang yang merasa panik akibat tertinggal suatu momen yang sedang terjadi atau nge-tren. Dikutip dari salah satu penelitian yang dilakukan oleh Przybylski, Murayama, DeHaan dan Gladwell (2013), FOMO merupakan fenomena ketika suatu individu merasa ketakutan saat orang lain mendapatkan pengalaman berharga.
Akibatnya, timbul suatu keinginan untuk terhubung atau mengikuti apa yang orang lain lakukan di media sosial. Hal ini tentu menjadi masalah yang mengintai anak-anak muda sehingga kesehatan mentalnya terganggu untuk mengejar pencapaian orang lain.
Mengutip Psychology Today, bahwa terjadinya FOMO menimbulkan dampak yang negatif, seperti dalam penelitian di Carlton and McGill University yang menunjukkan sindrom FOMO lekat dengan emosi negatif hingga stress, sehingga jika seseorang mengalami FOMO, maka cenderung akan lebih depresi dan cemas.
FOMO menyebabkan seorang anak lebih fokus terhadap apa yang dinilai orang lain di media sosial, tanpa memedulikan dirinya sendiri. Contoh kasusnya seperti kini banyak konten-konten anak muda yang didorong untuk terus aktif tanpa henti demi mencapai karir yang gemilang di masa depan nanti.
Memang benar bahwa menjadi siswa ataupun mahasiswa yang aktif akan menghasilkan poin penting untuk bekal karir yang cerah ketika lulus nanti. Namun, adanya fenomena ini terkadang justru membuat seseorang mengikuti standar kesuksesan orang lain yang berefek pada kecemasan dan depresi.
Seseorang yang terkena FOMO akan merasa tidak percaya diri dengan apa yang sedang ia lakukan, sehingga akan terus menekan dirinya sendiri untuk mengikuti orang lain demi pencapaian yang gemilang. Padahal, itu tidak sepenuhnya benar.
Kasus lainnya yang juga terjadi adalah maraknya keramaian di suatu tempat akibat viral di media sosial, sehingga banyak orang yang berlomba-lomba datang ataupun sekadar membuat konten agar terkesan ‘trendy’ di mata orang lain dan tidak tertinggal.
Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi FOMO?
1. Fokus pada diri sendiri
Janganlah melihat pencapaian orang lain menjadi suatu standar kesuksesan yang justru memberikan tekanan pada diri sendiri. Boleh melihatnya sebagai motivasi, tetapi jangan sampai malah memperburuk keadaan diri.
2. Berpikir positif dan bersyukur
Kedua poin ini menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi FOMO. Dengan menanamkan kedua hal tersebut maka akan membuatmu mudah percaya diri dan tidak teralihkan dengan apa yang dicapai orang lain. Selain itu, dengan bersyukur maka setiap momen yang dijalani akan selalu berharga.
3. Jangan bandingkan diri sendiri dengan orang lain
Hal terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Terkadang, apa yang dilihat belum tentu merupakan kejadian yang sebenarnya.
Nah, dengan penjabaran poin-poin di atas maka kamu diharapkan untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain karena tiap orang memiliki jalannya masing-masing.
Percayalah pada diri masing-masing serta berusahalah sebaik mungkin sesuai kapasitas diri dan jangan memaksakan untuk mengikuti orang lain. Ingat satu quotes di bawah ini, ya!
“Whatever your passion is, keep doing it. Don’t waste time chasing after success or comparing yourself to others. Every flower blooms at a different pace.” – Suzy Kassem.
Penulis: Rasya Azzahra

Leave a Reply