Di zaman ketika semua orang terlihat sibuk, bahagia, dan produktif di media sosial, rasa takut tertinggal jadi hal yang hampir setiap orang rasakan. Cukup buka Instagram atau TikTok sebentar ada teman yang liburan ke luar kota, baru dapat kerjaan baru, atau upload “productive day” di kafe estetik. Tanpa sadar, kita mulai merasa harus seperti mereka. Harus keren, harus sibuk, harus punya pencapaian yang bisa dibagikan.
FOMO (Fear of Missing Out) merupakan perasaan cemas atau takut tertinggal dari suatu aktivitas, tren, maupun informasi baru yang sedang berkembang. Rasa takut ini muncul karena seseorang memiliki pandangan bahwa orang lain hidupnya lebih bahagia, lebih menarik, dan lebih sukses, baik dalam hal karier maupun kehidupan pribadi. Perasaan FOMO dapat dialami oleh siapa pun, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Individu yang mengalami FOMO umumnya kurang merasa puas terhadap kehidupannya sendiri karena sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Fenomena ini kian meningkat seiring dengan perkembangan media sosial yang memudahkan seseorang menampilkan sisi terbaik dari hidupnya. Sayangnya, tidak semua yang tampak di layar mencerminkan kenyataan sepenuhnya. Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal meskipun sebenarnya berada dalam posisi yang cukup baik. FOMO juga dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti menurunnya rasa percaya diri, munculnya kecemasan sosial, hingga kebiasaan berlebihan dalam menggunakan media sosial hanya untuk merasa “terhubung” dengan orang lain.
Untuk mengatasi FOMO, seseorang perlu belajar membatasi eksposur terhadap media sosial dan mulai menghargai proses hidupnya sendiri. Menyadari bahwa setiap individu memiliki waktu dan jalan yang berbeda merupakan langkah awal untuk hidup lebih tenang dan autentik. Dengan begitu, kita tidak lagi merasa harus selalu mengikuti setiap tren, melainkan fokus pada kebahagiaan dan pencapaian yang benar-benar berarti bagi diri sendiri.
By: Intan Siti Salma

Leave a Reply