Fenomena bahasa “Jaksel” atau Jakarta Selatan kini semakin menjadi perhatian di kalangan anak muda dan masyarakat urban. Bahasa yang sering kali dianggap campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ini telah menjadi bagian dari gaya hidup Gen-Z di Jakarta, khususnya di wilayah Selatan. Dengan ekspresi seperti “gue totally agree” atau “sorry, it’s like that” bahasa Jaksel tidak hanya sekadar medium komunikasi, tetapi juga penanda status sosial, simbol integrasi budaya popular dan juga sebagai sarana ekspresi diri yang mencerminkan identitas mereka sebagai generasi yang dinamis dan kosmopolitan.
Pengaruh Skena dan Kalcer
Bahasa Jaksel tumbuh dan berkembang dari lingkungan skena musik, seni, dan hiburan. Skena (scene) adalah subkultur atau komunitas kreatif yang sering diidentikkan dengan genre musik alternatif, acara-acara seni, hingga komunitas sosial di kafe-kafe atau ruang kreatif di Jakarta Selatan. Sedangkan Kalcer (culture) merujuk pada tren fashion, cara berbicara, selera musik, hingga berperilaku. Kalcer sering kali diadopsi oleh mereka yang ingin menunjukkan identitas sebagai individu yang modern, urban, dan up-to-date dengan tren global.
Bahasa yang digunakan dalam skena ini tidak hanya menunjukkan penguasaan terhadap dua bahasa, tetapi juga memberi kesan lebih “elit” dan “gaul.” Penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari mencerminkan keterbukaan terhadap pengaruh global, sesuatu yang kerap menjadi kebanggaan di kalangan anak muda yang aktif di skena seni dan kreatif.
Evolusi Bahasa dalam Media Sosial
Pertumbuhan bahasa Jaksel juga dipengaruhi oleh media sosial, di mana komunikasi dalam bentuk teks maupun lisan secara terus menerus mengadaptasi gaya bicara yang kasual dan trendi. Generasi milenial dan Gen Z, yang mendominasi platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok, adalah pelopor penggunaan bahasa campuran ini. Bahasa Jaksel di media sosial sering kali digunakan sebagai cara untuk mengekspresikan diri, berbagi lelucon, atau mengomentari isu-isu sosial dengan gaya yang lebih ringan.
Viralnya penggunaan bahasa ini di media sosial mempercepat adopsi bahasa Jaksel sebagai gaya komunikasi sehari-hari. Gen-Z juga melihat penggunaan bahasa ini sebagai cara untuk “branding” diri mereka di media sosial menjadi bagian dari tren, menunjukkan kepandaian berbahasa, serta terhubung dengan komunitas yang lebih luas.
Kritik dan Pandangan Masyarakat
Namun, fenomena ini tidak lepas dari kritik. Sebagian orang menganggap penggunaan bahasa Jaksel sebagai bentuk “pengikisan” bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka melihat fenomena ini sebagai hasil dari globalisasi yang mungkin menghilangkan identitas asli kebahasaan Indonesia. Di sisi lain, ada pula yang merasa bahwa penggunaan bahasa campuran ini cenderung eksklusif, hanya digunakan oleh kelompok tertentu yang memiliki akses lebih ke budaya global dan pendidikan tinggi.
Bagi sebagian orang, bahasa Jaksel mungkin terlihat pretensius atau “sok kebarat-baratan.” Namun, bagi mereka yang ada di dalam skena atau kultur tersebut, ini adalah bagian dari identitas dan gaya hidup mereka yang tidak hanya mencerminkan tren bahasa, tetapi juga pandangan hidup yang kosmopolitan dan modern.
Bahasa Jaksel bukan sekadar fenomena linguistik, melainkan representasi dari perubahan sosial dan budaya di kota besar seperti Jakarta. Pengaruh skena seni, musik, media sosial, dan kalcer global sangat melekat dalam pembentukan gaya bahasa ini. Meski mendapat kritik, bahasa Jaksel tetap menjadi identitas yang melekat pada generasi muda yang ingin menunjukkan keterbukaan mereka terhadap dunia dan tetap menjadi bagian dari identitas mereka sebagai generasi yang tumbuh di era digital dan budaya global.
Penulis: Diah Ajeng Septiana
Editor: Salsa Utami

Leave a Reply