Bahasa Anti Baper

Apa sih bahasa anti baper?

Berbicara tentang bahasa anti baper, perlu sobat bahasa ketahui bahwa kata baper ini sudah ada di KBBI daring, lho. Menurut Ivan Lanin, seorang pakar bahasa Indonesia, yang beliau sampaikan di laman youtube medcom.id, bahwa baper ini sudah ada di KBBI pada Oktober 2019, dengan dibubuhkan keterangan cak, artinya digunakan hanya untuk percakapan.

Baper merupakan akronim dari terbawa perasaan. Nah, jika konteksnya bahasa anti baper, artinya bagaimana cara kita menggunakan bahasa dalam percakapan yang tidak menyulut emosi lawan bicara agar lawan bicara tidak terbawa perasaan.

Penggunaan Bahasa yang Tidak Menyulut Emosi Lawan Bicara

Tentu sebagai manusia, kita tidak bisa melihat dan membaca pikiran dan perasaan seseorang, apakah orang tersebut akan menerima apa yang kita sampaikan atau merasa tersinggung. Maka dari itu, kita perlu untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar. Baik di sini artinya sesuai dengan konteks, dan benar artinya sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak suku, ras, agama, dan bahkan memiliki 700 lebih bahasa daerah yang bisa jadi membuat perspektif kita satu sama lain berbeda dalam menyikapi sesuatu.

Jadi, kita perlu berbahasa yang baik sesuai konteks, contohnya ketika kita sedang berkumpul dengan teman-teman yang berbeda daerah, dan ada satu teman kita yang berasal dari daerah yang sama, akan lebih baik jika kita menghindari menggunakan bahasa daerah bersama teman yang satu daerah dengan kita tersebut. hal ini untuk meminimalisir teman kita yang berasal dari daerah lain merasa tidak dianggap sehingga terbawa perasaan, jadi harus sesuai konteks.

Begitu pun dengan menggunakan bahasa yang benar, yaitu menggunakan bahasa yang sesuai kaidah. Menggunakan bahasa yang umum, akan lebih dimengerti oleh orang lain, sehingga hal itu akan menghindari kita dari penggunaan bahasa yang dapat menyinggung orang lain.

Pada intinya, kita dituntut untuk mampu menganalisis lawan bicara, baik dalam segi karakteristik maupun demografisnya. Bahasa itu sifatnya dinamis, artinya sesuai dengan keinginan penuturnya, kita harus memahami cara mereka berbicara, tidak harus disamaratakan antara satu dan yang lainnya.

Ketika kita berbicara di lingkungan pertemanan, tidak apa-apa untuk menggunakan bahasa  yang santai dan tidak baku, tetapi ketika di lingkungan resmi atau dunia kerja, kita perlu berbahasa formal agar terkesan lebih  profesional. Inilah cara berbahasa yang baik sesuai konteks atau sesuai kondisi, dan benar sesuai kaidah.

Fenomena Bahasa Anti Baper Saat Ini

Dalam berbahasa terdapat bahasa lisan dan bahasa tu lisan. Di era globalisasi saat ini, di mana kita lebih banyak menggunakan media  digital, mengharuskan kita bercakap menggunakan bahasa tulisan. Misalnya berkirim pesan melalui WhatsApp, takarir di unggahan foto Instagram, atau bahkan mengirim komentar di berbagai media sosial lainnya.

Akan lebih sulit untuk kita menganalisis lawan bicara hanya dalam bentuk pesan singkat, karena kita tidak bisa melihat ekspresi mereka secara langsung. Agar pesan yang kita sampaikan tidak menyulut emosi penerima, kita perlu selalu menyisipkan kata maaf, tolong, dan terima kasih sesuai pada tempatnya. Selain itu, penggunaan tanda baca seperti koma, titik, tanda tanya, dll. akan membantu kita mengirimkan pesan sesuai tujuan. Kita juga bisa untuk menyisipkan emoji sesuai dengan apa yang ingin kita sampaikan kepada penerima.

Bahasa anti baper tidak hanya perilaku bijak kita dalam berbahasa yang baik dan benar, baik sesuai dengan konteks, dan benar sesuai dengan kaidah bahasa.  Tetapi kita juga perlu mengomunikasikan bahasa dengan jelas tanpa menyinggung perasaan lawan bicara, dan salah satu jawaban dari bahasa anti baper adalah komunikasi asertif. Komunikasi asertif merupakan cara seseorang berkomunikasi dengan jujur tapi tetap memperhatikan perasaan lawan bicara agar tidak tersinggung dengan apa yang disampaikan.

Dalam kasus lain, banyak kita temui generasi muda ketika di forum resmi atau sedang melakukan presentasi, mereka kesulitan dalam menggunakan bahasa resmi. Hal ini disebabkan karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang santai di lingkungan pergaulannya. Maka dari itu, kita juga perlu seimbang dalam berbahasa, artinya tidak melupakan bahasa resmi, bahasa Indonesia. Karena sesungguhnya, persatuan bangsa kita timbul karena bahasa, dan tugas kita adalah merawatnya.

Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing, salam literasi!

Penulis: Ida Ruspita

Editor: Hilya Maylaffayza


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *