Alasan Oversharing Bisa Ada dan ini Cara Mengatasinya

Media sosial kini hampir dapat dikatakan sebagai ajang drama, mengingat setiap hari baik secara langsung ataupun tidak, kita disuguhkan berbagai konten viral tentang kehidupan orang lain. Bahkan hal yang seharusnya menjadi privat seringkali menjadi bahan postingan.

Saat ini konteks viral dapat melekat dan terjadi pada apapun dan siapapun sehingga membuat batasan privasi seseorang semakin tak terarah. Karena tidak sedikit dari penggunanya menjadikan media sosial sebagai diary kehidupan bahkan akhirnya menganggap menjadi hal yang wajar. Sebab inilah menimbulkan perilaku oversharing yang mana dapat merugikan diri sendiri bahkan orang lain.

Apa itu oversharing?

Oversharing adalah perilaku berbagi informasi pribadi kepada khalayak umum tentang segala hal dalam kehidupan. Hal-hal yang semula bersifat personal, namun kini menjadi global dan menjadi wajar di media sosial. Dampak dari oversharing ini adalah khalayak umum menjadi mengetahui banyak mengenai kehidupan seseorang yang bahkan bersifat privasi.

Sebuah penelitian tentang coworking space (ruangan tempat bekerja yang dapat digunakan oleh banyak perusahaan) menyebutkan bahwa ada dua macam coworking space, yaitu open space dan closed space. Layaknya coworking space, media sosial adalah ruangan yang tersedia bagi penggunanya untuk berbagai kebutuhan. Dan kontrolnya hanya ada di dalam diri penggunya tersebut. Ketika dalam hal berbagi lebih memilih untuk membuka diri tentang kehidupannya di media sosial, maka semakin banyak pula orang yang mengetahui tentang dirinya. Dan akibatnya adalah privasinya semakin berkurang. Namun sebaliknya, apabila lebih memilih memproteksi diri dan membatasi orang-orang yang menjadi rekan di media sosial maka privasinya lebih besar.

Faktor terjadinya oversharing?

Menjadi hak setiap orang untuk memilih diantara dua sisi yang berbeda dalam menjadi pengguna sosial media. Namun, ketika tidak tau batasan dalam membagikan sesuatu di media sosial dapat berdampak tidak sehat baik untuk diri sendiri maupun orang lain bahkan menjadikan penyesalan atas unggahannya. Seseorang melakukan oversharing dapat disebebakan oleh berbagai faktor. Dan menurut riset, ada dua faktor utama yang dapat menyebabkan seseorang berperilaku oversharing, yaitu:

1. Tingkat kebutuhan yang tinggi akan perhatian

Seseorang yang merasakan bahwa kebutuhannya akan sebuah perhatian belum tercukupi, maka kemungkinan ia akan melakukan oversharing karena ia merasa memiliki tendensi untuk nge-share banyak hal tentang dirinya bahkan yang bersifat privasi sehingga yang menjadi korbannya adalah batasan dirinya sendiri menjadi berkurang.

2. Rendahnya pemahaman akan pentingnya privasi

Dari banyaknya hal-hal dalam kehidupan yang cenderung diunggah di media sosial, maka harus diketahui bahwa tidak semua perlu di-share. Tidak lain tujuannya demi kebaikan diri sendiri. Seperti halnya data-data yang bersifat privasi yang mana apabila publik mengetahui kemungkinan akan adanya kebocoran identitas diri yang akhirnya akan menjadi penyalahgunaan demi suatu kepentingan pribadi yang bahkan bersifat kriminal. Sebagai pengguna media sosial tidak ada salahnya untuk membagikan postingan bahkan menjadi sebuah keharusan dalam sebuah kebutuhan tertentu. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah ketidaksadaran akan bijaknya dalam men-share sesuatu, sebab tidak memahami apa yang menjadi batasan diri dan batasan publik serta tidak mengetahui akan konsekuensi dari oversharing-nya dan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi tersebut.

Cara menghindari oversharing?

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk meminimalisir perilaku oversharing, diantaranya:

  1. Memahami apa yang menjadi batasan privasi di media sosial

Dalam menggunakan media sosial perlu adanya kesadaran terhadap setiap tindakan yang dilakukan di dalamnya dengan memperhatikan kembali urgensi, tujuan, dan manfaat serta konsekuensi dari tindakan tersebut.

2. Menjaga privasi orang lain dan etika di media sosial

Seseorang yang tidak mengerti privasi yang perlu diproteksi, besar kemungkinan juga tidak mengetahui jenis privasi orang lain yang perlu dihormati. Sehingga ia dapat dengan mudah mem-publish privasi orang lain di media sosial. Sedangkan bisa jadi apa yang di-publish-nya menjadi masalah bagi orang tersebut.

Sama halnya di dunia nyata, di dunia maya juga harus menerapkan etika sebab media sosial menjadi sarana orang-orang berkomunikasi dan berinteraksi. Jadi, tetap pentingnya beretika di media sosial demi menjaga kebaikan untuk diri sendiri maupun orang lain.

Syarifatul Alawiyah

Editor: Ana Fauziyah


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *