Mengenal Retorika Dalam Berbicara

source: qubisa.com

Pada dasarnya, setiap manusia di muka bumi ini memiliki sebuah kemampuan berinteraksi yang disebut dengan berbicara. Melalui berbicara, manusia dapat berkomunikasi dengan banyak manusia lainnya dan juga dipakai untuk memahami sebuah maksud tertentu. Namun, konsep berbicara tidak hanya dimaknai dengan mengeluarkan suara dari mulut manusia yang membentuk kata dan kalimat saja. Ada yang memaknai berbicara dapat pula berbentuk dalam lukisan, gambar atau aktivitas-aktivitas lain sebagai upaya manusia dapat berinteraksi dengan sesamanya.

Bagi seseorang yang berprofesi sebagai Public Speaker, berbicara adalah “Makanan Sehari-hari” yang harus dilakukan. Seorang Public Speaker dikatakan sukses apabila hal yang ia sampaikan dapat membekas dan dipercaya oleh pendengernya sehingga pada gilirannya dapat merubah para pendengarnya. Baik itu dalam sikap, pandangan, pilihan, maupun sifatnya. Untuk dapat mencapai keberhasilan seperti itu, maka seorang Public Speaker tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan berbicaranya saja, namun dibutuhkan sebuah seni dalam berbicara agar dapat menunjang mencapai kesuksesan yang telah disinggung di atas.

Seni dalam berbicara inilah yang disebut sebagai Retorika. Secara terminologi, retorika dapat diartikan sebagai sebuah ilmu yang mempelajari cara berbicara yang memiliki sebuah daya tarik sehingga membuat audiens dapat terpesona dan tergugah perasaannya. Retorika pertama kali dikenal di Yunani sekitar abad ke-5 sebelum masehi. Retorika berkembang pesat pada masa Socrates, Plato, dan Aristoteles hingga menjadi sebuah ilmu pengetahuan dan menjadikan Georgias (480-370 SM) sebagai guru pertama dalam Ilmu Retorika. Terdapat beberapa fungsi dan kegunaan yang didapatkan jika mempelajari retorika. Diantaranya sebagai berikut :

  1. Membimbing pembicara dapat memahami beragam psikis dari audien secara lebih baik. Sehingga mampu menempatkan diri sesuai dengan psikis dari para audiensnya.
  2. Membimbing pembicara dapat menemukan ulasan atau penjelasan yang baik dan tepat.
  3. Membimbing pembicara dapat mengambil sebuah solusi yang baik dan tepat jika menangani sebuah permasalahan.
  4. Membimbing pembicara dapat mempertahankan argumennya dengan masuk akal. Sehingga kebenaran yang diungkapkan dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh keberhasilan dalam menggunakan retorika telah banyak sekali, baik yang tertulis dalam sejarah maupun dalam rekaman – rekaman video dokumenter. Salah satunya adalah saat Bung Tomo berpidato untuk membangkitkan semangat para pejuang di Kota Surabaya agar mau mempertahankan tanah airnya dari para penjajah. Dimana pada saat itu, Bung Tomo memulai pidatonya dengan pekikan takbir yang luar bisa gemuruh. Hal ini sesuai dengan kondisi yang saat itu sedang genting dan diharuskan ada sosok tokoh yang dapat menggugah semangat para pejuang. Coba bayangkan jika saat itu Bung Tomo berpidato dengan nada yang lemah lembut, apa yang akan terjadi ? bukannya semangat pejuang akan tergugah melainkan akan membuat mereka semakin lemah.

Berkat penggunaan retorika pidato yang berapi-api oleh Bung Tomo inilah, akhirnya membawa keberhasilan berupa kemerdekaan yang masih bisa kita rasakan hingga saat ini. Itulah salah satu contoh betapa dahsyatnya retorika apabila digunakan dengan tepat dan dapat memberikan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan.

Penulis: Firhand Ali Affandy

Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *