KITA ADALAH FILTER TERBAIK DALAM MENYARING INFORMASI DI MEDIA SOSIAL

Keberadaan social media dalam kehidupan manusia sudah tidak dapat dipisahkan lagi. Mencari dan berbagi informasi, sarana hiburan, ladang berbisnis, sampai aksi sosial kini memang dapat dilakukan dengan bersosial media. Sayangnya tidak semua hal baik dapat dijumpai di social media. Informasi palsu atau biasa kita sebut dengan “Hoaks” bullying, hujatan, sampai kepada pornografi sangat mudah kita jumpai di social media.

Di Indonesia sendiri social media kini justru sepertinya sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok. Mengutip informasi dari Kumparan, dimana menurut riset dari platform menajemen media social HootSuite dan agensi marketing social We Are Social, hampir 64% penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Tepatnya mencapai angka 175,4 juta orang, dimana dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka ini menigkat sekitar 17%. Dimasa pandemic covid-19, dimana hampir seluruh kegiatan seperti sekolah, kuliah, dan juga bekerja dilakukan dari rumah dan dilakukan secara daring atau online  penggunaan internet dan social media sudah bisa dipastikan semakin meningkat.

Memiliki keunggulan berupa kecepatannya dalam menyebarkan informasi ke berbagai penjuru dunia, keberadaan social media justru terkadang menjadi ancaman tersendiri bagi beberapa penggunanya. Seringnya menampilkan hal semu seperti kemawahan, kecantikan, pencapaian dan yang lainnya justru memicu munculnya beberapa perasaan negative bagi para penggunanya. Perasaan insecure misalnya, yang kini sering menjadi topik diskusi atau juga bahasan para Influencer. Nyatanya pengaruh buruk dari media social juga sampai meciptakan Campaign yang menyeru untuk “Berpuasa media sosial”

Perasaan insecure, salah informasi, bahkan sampai harus berpuasa media sosial sepertinya tidak akan terlalu sering muncul dan tidak perlu dilakukan jika kita sebagai “pengendali” dari social media itu sendiri bisa mengendalikan social media dengan baik dan bijak.

Mengendalikan social media dengan bijak agar tetap nyaman dan aman memang tidak mudah. Tidak heran banyak tips mengenai bagaimana menggunakan social media dengan bijak bermunculan. Termasuk tulisan ini hehe.

Untuk menjadi pengendali social media yang baik, kita bisa mulai dari hal-hal yang terkadang dianggap spele seperti memilih konten dan akun yang memiliki value positif. Sebagai penikmat, pencipta, sekaligus pengendali social media, kita dapat memilih akun mana yang ingin kita ikuti, konten seperti apa yang ingin kita tonton, dan informasi mengenai apa serta sumber yang seperti apa pula  yang ingin kita serap.

Beberapa media social media memang telah memiliki fitur filter tersendiri. Seperti Twitter misalnya yang memiliki fitur Sensitive media policy, dimana postingan-postingan yang menyertakan konten sensitif seperti kekerasan, kebencian, juga konten dewasa akan akan diberikan label oleh Twitter. Seperti yang dialami oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bulan-bulan lalu.

Meskipun demikian, bagi saya pribadi diri kita adalah filter terbaik dalam menyaring informasi di social media. Karena social media besar seperti Youtube pun baru akan menangguhkan sebuah postingan jika memang postingan tersebut mendapat banyak laporan dari banyak penggunanya dan tentu juga kita sangat mengerti, media massa termasuk media social didalamnya tidak ada yang sepenuhnya dapat bersikap netral.

Sebagai manusia yang diciptakan sempurna berupa dengan diberikannya akal pikiran, kita tentu dapat membedakan mana yang baik dan juga buruk bagi diri kita sendiri termasuk dalam memfilter berbagai informasi yang masuk kedalam pikiran kita. Mengikuti tren yang sedang hype sih oke-oke saja karena kita tentu tidak mau ketinggalan informasi. Tapi ingat, jangan sampai kita merugikan diri dan membuang-buang kuota internet hanya untuk menyerap hal-hal sampah alias tidak berguna.

Mari manfaatkan social media untuk meng-upgrade diri menjadi lebih baik, dengan berbagi informasi yang bermanfaat dan belajar berbagai skill baru. Dan mari bijak bermedia sosial dengan membiasakan diri untuk membaca berita tidak berhenti hanya sampai judul, tidak menyebar informasi sembarangan, tidak mudah terprovokasi, dan terakhir kita dapat memikirkan dampak terhadap apapun yang akan dibagikan di media sosial.

Penulis : Surnawati (Komuniasik Campus Ambassador)

Editor : Isyraqi Khairy Siregar ( Tim Komuniasik)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *