Stop Normalisasi Silent Treatment: Konflik Butuh Diselesaikan, Bukan Diabaikan

Dalam suatu hubungan pasti pernah dihadapi oleh permasalahan atau konflik, baik hubungan pertemanan, pasangan, ataupun keluarga. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengatasi konflik. Beberapa orang mengatasi konflik dengan berdiskusi atau berkompromi, ada juga yang mengkonfrontasi secara langsung dan ada juga yang melakukan silent treatment.

Apa itu Silent Treatment?

Silent treatment atau perlakuan diam juga seringkali menjadi salah satu cara seseorang menghadapi konflik. Silent treatment merupakan sikap atau tindakan mendiamkan seseorang sebagai bentuk respon terhadap konflik. Dimana salah satu pihak memilih menolak untuk berkomunikasi yang bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, cemas, bahkan trauma emosional bagi pihak yang didiamkan.

Mengapa Silent Treatment perlu dihentikan?

Silent treatment seringkali dianggap wajar untuk dilakukan dengan alasan tindakan tersebut tidak berbahaya. Banyak juga orang yang salah kaprah tentang silent treatment dan menganggap hal itu sebagai bentuk menenangkan diri agar tidak berada di ketegangan yang terlalu emosional, namun hal tersebut merupakan hal yang berbeda.

Seperti yang kita ketahui, komunikasi merupakan sebuah kunci untuk menemukan solusi dari sebuah permasalahan. Ketika seseorang memutuskan untuk mendiamkan lawan bicaranya, masalah utama yang menyebabkan konflik tidak akan terselesaikan. Sebaliknya, masalah cenderung dibiarkan menggantung dan bisa kembali muncul di kemudian hari, bahkan sering kali dengan intensitas yang lebih besar. Konflik yang diabaikan ini berisiko memperparah keretakan hubungan.

Maka dari itu, silent treatment merupakan tindakan yang tidak bisa dinormalisasi karena akan menghambat komunikasi sehingga masalah tidak terselesaikan. Selain itu, silent treatment juga termasuk bentuk manipulasi emosional yang membuat pihak yang didiamkan merasa cemas dan bersalah.

Hadapi Konflik Tanpa Silent Treatment

Semakin sering perilaku ini dilakukan, semakin besar pula dampak negatifnya terhadap kualitas hubungan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berhenti menormalisasi perilaku ini dan mulai mencari cara yang lebih efektif dalam menyelesaikan konflik. Cara-cara yang tepat dalam mengatasi konflik antara lain, 

  1. Berkomunikasi secara terbuka dan jujur

Berkomunikasi secara terbuka dan jujur merupakan langkah awal yang bisa dilakukan untuk mengatasi sebuah konflik, dengan adanya keterbukaan, maka kedua belah pihak akan mengetahui apa yang dirasakan oleh satu sama lain.

  1. Berusaha mengerti dan memahami

Mengerti dan memahami satu sama lain sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan, meskipun komunikasi dalam suatu hubungan baik, namun tidak didampingi dengan rasa pengertian didalamnya, maka hal itu akan sia-sia.

  1. Fokus pada masalah yang dihadapi

Ketika dihadapi dengan suatu masalah, sebaiknya kedua belah pihak hanya fokus pada permasalahan tersebut, tidak merembet ke hal-hal lain yang dapat memicu terjadinya masalah baru.

  1. Berdiskusi untuk menemukan solusi yang tepat

Berdiskusi untuk mencari solusi merupakan hal yang penting dalam mengatasi konflik. Hal ini ditujukan agar solusi yang ditemukan dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat. 

Penulis: Haura Al-Insiyyah

Editor: Diah Ayu


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *