Pernah nggak sih kamu seharian duduk di depan laptop buat ngerjain tugas atau belajar, sampai lupa makan, minum, bahkan ke kamar mandi? Atau teman-temanmu mulai bilang, “Ih, kamu sibuk terus, susah diajak nongkrong,” sampai mereka jadi males ngajak kamu lagi? Kalau kamu pernah ngerasain itu, hati-hati ya! Bisa jadi kamu udah terjebak dalam toxic productivity, di mana kamu terlalu fokus buat produktif sampai lupa jaga kesehatan dan keseimbangan hidup.
Apa sih Toxic Productivity itu?
Toxic productivity atau produktivitas yang berlebih dapat diibaratkan seperti kamu ikut perlombaan tanpa garis finish. Sebenarnya, itu adalah kondisi di mana kamu merasa tertekan untuk terus bekerja tanpa henti, meski kesehatan mental dan fisik mulai terganggu. Produktif itu penting, apalagi buat mahasiswa yang harus ngatur banyak hal, tapi kalau kebablasan, bisa-bisa kamu malah kehilangan kesejahteraan, merasa tertekan, dan ujung-ujungnya burnout. Akhirnya, kamu terjebak dalam siklus kerja nonstop yang bikin capek dan nggak bahagia.
Nah, ada beberapa ciri yang bisa bikin kamu sadar kalau kamu udah terjebak di dunia toxic productivity.
Ciri-ciri kamu termasuk ke dalam Toxic Productivity :
- Selalu ingin memiliki kegiatan berlebih
Seseorang yang terjebak dalam pola toxic productivity sering kali merasa perlu memiliki kegiatan berlebih, seolah-olah waktu yang ada harus selalu diisi dengan aktivitas produktif, dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dikerjakan. Bahkan setelah menyelesaikan tugas-tugas besar, selalu ada dorongan untuk mencari pekerjaan baru, seakan-akan beristirahat atau mengambil jeda adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan, yang pada akhirnya membuat keseimbangan hidup menjadi terganggu.
- Merasa bersalah saat istirahat
Orang yang mengalami toxic productivity sering merasa bersalah saat mengambil waktu istirahat, seolah-olah berhenti sejenak adalah tanda kelemahan atau kurang produktif. Bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah lelah, ada rasa tidak nyaman jika tidak terus bekerja.
- Mengabaikan kesehatan
Pengidap toxic productivity sering kali menomorduakan kesehatan, baik fisik maupun mental. Demi ngejar produktivitas, mereka sering melewatkan istirahat yang cukup, makan teratur, bahkan waktu untuk merawat diri dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup.
- Kesulitan menolak pekerjaan baru
Mereka yang terjebak dalam toxic productivity cenderung kesulitan mengatakan “tidak” pada tugas atau proyek baru, meskipun jadwal mereka sudah penuh. Ada rasa takut dianggap nggak produktif kalau menolak, sehingga menumpuk kerjaan.
- Perfeksionisme berlebihan
Perfeksionisme juga jadi bagian toxic productivity. Setiap tugas harus sempurna, sampai-sampai habisin waktu berjam-jam buat hal-hal kecil. Bahkan ketika kerjaan udah selesai, masih aja merasa belum cukup bagus, yang akhirnya bikin stres dan nggak pernah puas.
Melihat dari ciri-ciri dari toxic productivity diatas tentunya memiliki dampak yang serius. Bukan cuma mental, tapi fisik juga bisa kena.
Dampak Toxic Productivity :
- Kesehatan menjadi taruhan
Pada dasarnya, toxic productivity telah mempertaruhkan kesehatan agar dapat menjadi lebih produktif. Perilaku ini menempatkan tidur, makan, minum, dan kebutuhan bersosialisasi menjadi prioritas kesekian. Sehingga tak heran seseorang yang mengalami toxic productivity mengalami penurunan kondisi kesehatan.
- Rentan terhadap stres
Perilaku ini juga dapat menyebabkan seseorang rentan terkena stress. Hal ini akan lebih berbahaya lagi apabila seseorang melampiaskan stress tersebut ke kebiasaan yang dapat memperparah kondisi kesehatan, seperti alkohol, rokok, atau obat-obatan terlarang.
- Burnout dan kehilangan minat
Burnout dapat berefek terhadap pekerjaan, kebiasaan, ataupun hobi yang awalnya sangat diminati. Dengan adanya keadaan ini, produktivitas malah akan menurun.
- Hilangnya keseimbangan hidup
Mahasiswa yang terjebak dalam toxic productivity sering kali mengabaikan waktu untuk diri sendiri, keluarga, teman, serta kegiatan rekreasi. Mereka merasa bersalah ketika beristirahat atau bersantai, sehingga kehidupan sosial dan pribadi menjadi terganggu.
Tapi tenang, ada cara untuk mengatasi dan lepas dari toxic productivity ini.
Bagaimana Cara Mengatasi Toxic Productivity?
- Tetapkan prioritas
Penting untuk memilah mana tugas yang benar-benar penting dan mendesak. Buatlah daftar prioritas harian atau mingguan agar tidak terbebani oleh semua tugas sekaligus.
- Hilangkan pertanyaan “Apa lagi yang harus dikerjakan?”
Pertanyaan ini menjadi pemicu toxic produktivity. Meskipun sulit, sadari bahwa tidak semua orang peduli dengan proses yang kamu jalani. Banyak yang mengagumi hasilnya, tetapi tidak memperhatikan seberapa keras usaha kamu untuk mencapainya. Jadi, kerjakan segala sesuatu dengan batas yang wajar.
- Pelajari manajemen waktu
Membagi waktu dengan baik antara belajar, bekerja, dan beristirahat adalah kunci penting. Hindari multitasking yang berlebihan karena justru dapat menurunkan efisiensi.
- Jaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi
Jalani kehidupan dengan seimbang. Jika kamu ingin menghindari produktivitas beracun, atur waktu dengan lebih baik lagi. Jalani kehidupan yang kamu sukai dan tidak perlu menganggapnya sebagai perlombaan.
- Cari dukungan
Jika kamu sudah terjebak dalam toxic productivity, carilah bantuan untuk keluar dari lingkaran ini. Konsultasi dengan ahli atau berbicara dengan orang yang kamu percayai bisa membantu. Kamu juga bisa “mengaktifkan alarm” dalam dirimu sebagai pengingat ketika kamu mulai kembali bekerja terlalu keras hingga kelelahan.
Jadi, biar kamu nggak terjebak dalam toxic productivity, jangan lupa istirahat dan kasih waktu buat diri sendiri ya. Coba atur jadwal yang seimbang antara belajar dan bersantai, dan jangan ragu bilang “tidak” kalau ada ajakan yang bikin kamu stres. Istirahat itu penting banget, loh!
Jaga kesehatanmu dengan olahraga ringan, makan yang sehat, dan cukup tidur supaya mood dan fokusmu tetap oke. Ingat, meski produktif itu penting, kesehatan dan keseimbangan hidup jauh lebih utama!
“Ingat, produktivitas yang sehat adalah investasi untuk jangka panjang.”
Penulis : Syifa Indah
Editor : Syifa Salsabila

Leave a Reply