Polarisasi Musikal: Mengupas Sisi Gelap Media Sosial di Era Algoritma

Sebagai seorang anggota Gen Z yang merasakan masa-masa sosial media sebelum dihantam  gelombang iklan, aku ingat banget bagaimana medsos dulu hanyalah tempat untuk berbagi  momen lucu dan estetik. Pada era golden age Tumblr, misalnya, orang-orang berburu foto-foto  keren atau quotes yang bikin mereka merasa edgy. Twitter dan Facebook menjadi tempat untuk  “misuh-misuh” atau nyindir teman, dan di masa itu Instagram dipenuhi dengan foto gaya poni  miring plus filter sepia. 

Tapi sekarang, tahun 2024, media sosial sudah jauh berubah. Platform-platform yang dulu  cuma untuk bersenang-senang, sekarang sudah jadi mesin bisnis. Ketika 15 tahun yang lalu,  iklan di YouTube saja masih minim, sekarang periklanan di media sosial sudah menjadi industri  raksasa dengan teknologi canggih. 

Social media marketing kini disebut-sebut sebagai wujud baru dari ilmu sosial modern.  Kenapa? Karena untuk membuat kampanye yang efektif, kamu butuh lebih dari sekadar  kemampuan desain atau copywriting. Kamu perlu memahami analisis data, memprediksi tren,  dan yang paling penting: memahami perilaku manusia. 

Paham soal bagaimana manusia bertindak dan bereaksi itu krusial, karena media sosial adalah  tempat di mana emosi dijadikan currency. Kamu perlu tahu isu apa yang membuat orang  bahagia, marah, atau sedih. Sebab, emosi seperti kesedihan dan kemarahan terbukti jadi pemicu  paling kuat untuk mendapatkan respons. Dengan memahami perilaku ini, kamu bisa menyusun  strategi marketing yang tepat dan relevan dengan audiens kamu. 

Namun, di balik semua itu, ada sosok besar yang mengawasi kita, yaitu: algoritma. Kamu pasti  sering dengar soal algoritma, bukan? Tapi apa sih, sebenarnya algoritma ini? 

Menurut Pew Research Center, algoritma adalah serangkaian instruksi untuk menyelesaikan  masalah—kedengarannya sederhana, kan? Tapi dalam praktiknya, algoritma inilah yang  bertanggung jawab atas konten apa saja yang muncul di layar kita. Algoritma bekerja dengan  konsep sederhana: “Jika ini terjadi, maka itu akan terjadi.” Misalnya, ketika kamu nge-like 

sebuah video, video serupa akan muncul lebih sering di timeline kamu. 

Algoritma juga merekam setiap perilaku kamu, mulai dari apa yang kamu cari, konten apa yang  kamu tonton lebih lama, sampai saat kamu iseng buka second account buat ngestalk mantan.  Algoritma secara konstan merekam semua interaksi kamu dan membentuk “bubble” di mana  kamu hanya terpapar pada topik-topik yang kamu suka. Hal ini jelas terlihat di platform seperti  TikTok, di mana kamu menonton satu video saja sudah cukup untuk mengubah isi FYP kamu. 

Yang lebih menarik (atau menakutkan), algoritma ini gak cuma mempengaruhi konten apa  yang kamu lihat, tapi juga cara pandang kamu terhadap dunia. Ini terjadi lewat satu trik  marketing yang sudah lama dikenal: repetisi. Semakin sering kamu terpapar pada sebuah  informasi, makin besar kemungkinan kamu untuk menerima informasi itu sebagai kebenaran.

Fenomena ini dikenal sebagai “surveillance capitalism”—sebuah istilah yang dijelaskan oleh  Shoshana Zuboff dari Harvard University. Dalam sistem ini, data kita dipantau dan  dimonetisasi oleh platform-platform besar. Gak heran kalau Navneet Alang dari The New  Republic menyebut era ini sebagai “Life in the Age of Algorithms.” Ia mempertanyakan etika  algoritma yang mengkurasi konten dan bagaimana ini mempengaruhi kita sebagai manusia. 

Apakah kita terlalu naif kalau berpikir algoritma ini gak punya bias? Faktanya, banyak dari  kita yang gak sadar bahwa konten yang kita lihat sehari-hari sudah sangat dipengaruhi oleh  algoritma. 

Mungkin, nasihat ibu-ibu dulu ada benarnya: jangan kebanyakan main HP. 

Kalau kamu ingin tahu lebih lanjut soal sisi lain dari media sosial dan algoritma, kamu bisa  datang ke acara Polarisasi Musikal yang bakal digelar pada 10-13 Oktober 2024 di Graha  Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.  

Show Musikalisasi yang dikemas dengan sangat cantik, selain membahas isu- isu Politik yang  dikemas menarik, show ini juga memberikan pemahaman soal bagaimana media sosial yang  berada di smartphone kita, mampu membentuk Polarisasi . 

Acara ini dibintangi oleh Andovi Da Lopez, Jovial Da Lopez, Jennifer Rengka, Kezia Aletheia,  Gerry Gerardo, Alvin Lapian, Coki Pardede, dan aktor-aktor teater lainnya. Siap-siap deh,  kamu bakal diajak buat mikir dan tertawa di saat yang sama! 

Sumber: 

https://www.pewresearch.org/internet/2017/02/08/code-dependent-pros-and-cons-of-the-algorithm-age/ 

https://newrepublic.com/article/133472/life-age

Penulis : Banin Sabrina
Editor : Arif Rahmatulhakim


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *