Fenomena “pick me” akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan anak muda. Istilah ini mengacu pada individu, baik pria maupun wanita, yang berupaya keras menarik perhatian orang lain dengan menonjolkan diri sebagai pilihan terbaik. Sering kali, perilaku ini muncul dari rasa tidak percaya diri dan keinginan untuk mendapatkan validasi dari orang-orang di sekitar mereka. Misalnya, seseorang mungkin berkata, “Gue mah cewek apa, cewek lain pada ke salon, gue mah enggak,” berusaha menunjukkan bahwa mereka berbeda dan lebih menarik dibandingkan teman-teman lainnya.

Di sisi lain, ada fenomena “caper” atau “cari perhatian,” yang sering kali terjadi bersamaan dengan perilaku “pick me”. Seseorang yang terjebak dalam perilaku ini mungkin berusaha menjadi pusat perhatian dengan cara yang berlebihan atau dramatis. Di era media sosial, hal ini sering kali terlihat dari unggahan-unggahan yang mencolok, dengan harapan mendapatkan banyak like dan komentar. Seseorang mungkin memposting foto dengan caption yang berlebihan atau menggunakan filter yang berlebihan untuk menarik perhatian. Dalam konteks tersebut “pick me” menjadi cara untuk menunjukkan bahwa mereka lebih menarik daripada orang lain.
Menariknya, perilaku “pick me” dan “caper” tidak hanya terjadi di kalangan Gen Z. Banyak orang dewasa juga terjebak dalam pola pikir yang sama. Misalnya, seorang ibu mungkin merasa perlu menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ia dapat mengurus anak sambil bekerja dan berkata, “Saya bisa kok masak, merawat anak, dan tetap terlihat baik.” Padahal dia menggunakan jasa asisten rumah tangga. Dalam hal ini, perilaku tersebut menciptakan citra diri yang ideal, dan individu merasa tertekan untuk terus mempertahankan citra tersebut agar dianggap sukses dan menarik.
Dampak Pick Me dan Caper
Perilaku “pick me” dan “caper” memiliki dampak yang signifikan terhadap komunikasi dalam hubungan sosial. Ketika individu lebih fokus pada bagaimana mereka dipandang oleh orang lain, mereka cenderung kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi secara autentik. Hal ini bisa menciptakan ketegangan dalam hubungan, baik di lingkungan sosial maupun profesional. Di tempat kerja, keinginan untuk menjadi pilihan terbaik dapat mengarah pada kompetisi yang tidak sehat, di mana individu merasa harus bersaing satu sama lain alih-alih bekerja sama.
Menariknya, fenomena ini juga menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemahaman antara generasi. Meskipun perilaku “pick me” sering diasosiasikan dengan remaja dan anak muda, orang dewasa pun mengalami tekanan serupa dalam masyarakat. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi pendidik dan orang tua untuk membantu anak-anak dan remaja mengembangkan pemahaman yang lebih sehat tentang diri mereka sendiri tanpa merasa perlu berkompetisi untuk mendapatkan perhatian.
Kita perlu memahami bahwa perilaku “pick me” dan “caper” adalah refleksi dari kebutuhan manusia untuk diterima dan dihargai. Namun, penting bagi kita untuk menciptakan ruang di mana setiap individu merasa dihargai tanpa harus bersaing satu sama lain. Dengan menciptakan lingkungan yang positif, kita dapat mengurangi tekanan untuk selalu tampil sempurna dan belajar menghargai diri kita sendiri tanpa harus berusaha menunjukkan perbedaan yang kadang-kadang dibuat-buat.
Kesadaran ini sangat penting dalam era di mana media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan identitas dan interaksi sosial. Jika kita dapat mengubah cara kita berkomunikasi dan berinteraksi, maka kita bisa mengembangkan relasi yang lebih sehat, tidak terjebak dalam perangkap perilaku “pick me” yang menguras energi dan kepercayaan diri.
“Pick me” bukan hanya sekadar perilaku yang muncul di kalangan anak muda, tetapi juga menggambarkan ketidakamanan yang dapat dialami oleh siapa saja. Mari kita berupaya untuk menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dan jujur, sehingga kita dapat mendukung satu sama lain dalam perjalanan untuk menemukan nilai diri yang sebenarnya, tanpa perlu berpura-pura atau berkompetisi untuk menjadi pilihan yang terbaik.
Penulis : Bilal Irfani
Editor : Maya Maulidia

Leave a Reply