Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejak lama memikat para pendaki tidak hanya karena keelokannya tetapi juga karena kisah-kisah mistis yang melekat di berbagai sudutnya. Kali ini, lima remaja yang telah bersahabat sejak masa sekolah memutuskan untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Lawu. Mereka menyiapkan ransel, perlengkapan mendaki, dan tekad yang bulat—namun di balik kegembiraan petualangan, terselip ketegangan atas mitos-mitos yang mengiringi gunung ini.
Sejak awal pendakian, suasana tampak biasa: jejak jalur, udara sejuk, dan pepohonan yang rindang. Namun memasuki pos-pos lanjut, salah satu mitos mulai terasa nyata. Konon, para pendaki dianjurkan untuk bergerak dalam kelompok berjumlah genap karena kepercayaan bahwa jika jumlahnya ganjil, makhluk gaib akan “menggenapi” rombongan tersebut. Karena itu mereka memastikan berjumlah lima—yang artinya ganjil lalu salah satu merasa tergugah untuk berinisiatif mengajak teman keempatnya ikut agar jumlah rombongan menjadi enam.
Saat malam tiba di kawasan lereng, udara semakin dingin dan sunyi. Seorang remaja mendengar suara-suara berbisik di tengah hutan, padahal tak ada pendaki lain di dekatnya. Cerita tentang keberadaan “Pasar Setan” di lokasi tertentu pada jalur Cetho juga beredar: tempat gaib di mana makhluk tak kasat mata diyakini melakukan transaksi dengan simbolis. Sebuah rasa takut halus menyelimuti mereka—kepercayaan lokal menyebut bahwa jika mendengar suara orang menawar barang dari Pasar Setan, maka pendaki sebaiknya tidak membeli, melainkan melempar uang ke arah sumber suara.
Malam itu, kelompok tersebut memutuskan untuk mendirikan tenda agak jauh dari pos yang dikenal angker. Beberapa dari mereka mulai merasakan bahwa perilaku, perkataan, dan sikap selama mendaki ternyata memiliki “audience” tak terlihat — mitos menyebut bahwa Gunung Lawu “bisa mendengar” ucapan manusia. Mereka pun saling berpesan agar menjaga sopan santun dan menghormati alam, sebagai bentuk penghormatan terhadap gunung dan warisan cerita yang ada di sana.
Keesokan pagi, ketika sinar pertama matahari menyentuh puncak, lima remaja tersebut mencapai titik tertinggi. Meski ada rasa lega karena berhasil menaklukkan ketinggian, masing-masing menyadari bahwa pengalaman itu lebih dari sekadar prestasi fisik: mereka telah berhadapan dengan sisi spiritual, budaya, dan mitos yang tak terlihat. Saat turun, mereka memutuskan untuk berbagi kisah mereka dengan keluarga dan teman—menjadi saksi bahwa petualangan di Gunung Lawu bukan hanya soal mendaki, melainkan juga penghormatan terhadap alam dan cerita leluhur.
Source:
https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/cerita-mistis-di-gunung-lawu-00-v8jyb-1171yh
https://www.inilah.com/kumpulan-cerita-mistis-di-gunung-lawu

Leave a Reply