1. Media Konvensional Di Era Konvergensi Media
Media massa merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mengistilahkan sebuah media
yang mampu mencakup dan memberikan informasi langsung kepada masyarakat luas.
Media massa dapat dibagi atas tiga jenis yang selama ini sudah tidak asing lagi dimata
masyarakat, yaitu media elektronik seperti televisi dan radio, media cetak yaitu koran dan
majalah dan terakhir merupakan suatu hal yang sangat populer dan sedang menjadi alat yang
dikonsumsi hampir semua masyarakat di era globalisasi yang maju saat ini yaitu media
online seperti internet, streamingt elevise dan informasi yang dapat diakses melalui
internet.
Pada Tahun 2018, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) berkolaborasi
dengan Polling Indonesia melakukan survei tentang gambaran terkini dan kemajuan serta
2019 pertumbuhan internet di Tanah Air. Hasilnya, pengguna internet Indonesia bertambah
10,12 persen pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya. Secara total, pengguna internet
mencapai 171,17 juta pengguna dari populasi 264,16 juta jiwa (APJII, 2018). Jumlah
pengguna internet yang begitu cepat bertambah ini menjadi semakin meningkat seiring
dengan berkembangnya variasi media komunikasi berbasis internet. Pemanfaatannya yang
begitu mudah dan dapat diakses dimana saja menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat,
Media cetak pun nyaris tersingkir dengan kehadiran media online.
Dalam bukunya The Vanishing News paper terbitan 2006, Philip Meyer meramalkan bahwa
pada Tahun 2044 mendatang hanya akan terdapat satu eksemplar surat kabar. Masa depan
surat kabar belakangan ini menjadi pertanyaan besar di tengah gempuran media TV, radio,
terutama internet. Menyikapi hal itu, media cetak perlu untuk berbenah diri menyesuaikan
arus besar yang memaksa setiap media massa melakukan revolusi besar-besaran agar tak
ketinggalan zaman dan menjadi bagian sejarah peradaban manusia. Karena jika tidak, ramalan
Philip Meyer bisa jadi kenyataan kalau tak ada inovasi baru dari pimpinan media massa untuk
menyikapi perkembangan yang ada. Ramalan itu bukan tanpa alasan dan dapat terbukti jika
pihak media massa tak mengantisipasi segala perubahan yang terjadi di dunia jurnalistik.
2. Eksistensi Media Dalam Perkembangan Digital
Industri media massadi Indonesia dituntut untuk menyesuaikan dirinya pada era globalisasi
berbasis teknologi digital pada saat ini. Fenomena perkembangan era teknologi digital saat
ini menuntut media massa di Indonesia untuk melakukan sebuah inovasi terbaru, agar
media massa dapat diakses secara cepat dan praktis oleh masyarakat, sebagai pemenuh
kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat tepat dan akurat. Maka terciptalah sebuah media massa terbaru yang mampu menjawab tantangan tersebut dan dianggap mampu
menjadi solusi bagi media massa agar tetap memiliki eksistensi dalam masyarakat. Salah
satu jenis media massa yang saat ini bergerak dan mulai menyesuaikan dengan era
globalisasi berbasis teknologi digital dan mulai masuk kedalam konvergensi media saat ini
adalah media cetak seperti surat kabar, majalah dan tabloid.
Akhirnya memang saat ini media cetak sedang ditantang eksistensinya di era konvergensi
media saat ini, selanjutnya bagaimana media cetak tersebut dapat tetap mempertahankan apa
yang menjadi nilai lebih dari media cetak tersebut yang tidak bisa didapatkan masyarakat pada
teknologi canggih sekalipun di era yang teknologinya sudah canggih seperti ini. Di masa depan
tantangan media cetak akan semakin besar dengan terus bertambahnya inovasi-inovasi terbaru
yang akan menjadi pilihan dalam membantu masyarakat pada bidang media massa dan
informasi. Namun jika media cetak dapat mempertahankan keutamaan informasi dan
profesionalitas maka media cetak akan senantiasa hadir dan eksis di tengah masyarakat.
3. Era Post Truth dan Disinformasi
Perkembangan media digital membuat arus informasi semakin deras hal ini menimbulkan
permasalahan baru mengingat tingkat literasi media masyarakat yang masih rendah.
Konsumsi informasi yang begitu massif membuat kebenaran sulit dipastikan vaiditasnya.
Bahkan realitas atau peristiwa yang belum jelas dapat diyakini sebagai suatu kebenaran
karena konstruksi media yang dilakukan secara terus menerus melalui informasi yang
diinformasikan akibatnya media menciptakan bias realitas yang sulit di kontrol oleh
masyarakat.
Kehadiran media digital menjadi salah satu kanal yang digunakan masyarakat untuk
mengakses berbagai informasi, namun control terhadap media digital yang amasih sangat
terbatas membuat informasi begitu sangat mudah di produksi dan distribusikan. Hal ini
menyebabkan munculkan informasi yang seringkali dimanipulasi untuk kepentingan tertentu,
akibatnya masyarakat mudah terprovokasi akibat terpapar konten atau informasi yang
memuat berita bohong (hoaxs) atau konten berisi informasi yang menyesatkan.
Post Truth dan Disinformasi bukan hanya sebuah tantangan tetapi juga dapat menjadi acaman
oleh karena itu diperlukan penguatan literasi digital dan pengawasan yang lebih serius agar
informasi yang diterima masyarakat dapat mencerdaskan
By: Maulana Malik

Leave a Reply