Di era yang modern ini, pendidikan sudah menjadi bagian dari kebutuhan setiap individu, bahkan hal itu didukung oleh pemerintah yang mewajibkan warga negaranya memiliki hak pendidikan selama 12 tahun. Maka dengan itu tidak boleh ada diskriminasi kepada warga negara mengenai hak pendidikan ini. Pada saat ini banyak sekali fenomena bullying yang terjadi di dunia pendidikan seperti saat di sekolah. Fenomena bullying ini harus menjadi perhatian khusus untuk para guru dan juga orang tua dikarenakan dapat mengganggu kesehatan mental pelajar. Perlu dicatat bahwasannya pendidikan tidak hanya selalu tentang akademik namun juga tentang perkembangan pribadi dan sosial dari pelajar tersebut.
Menaiknya kasus-kasus kenakalan remaja di Indonesia seperti tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan lainnya yang menjadi faktor gangguan emosional maupun mental pada pelajar, oleh karena itu pentingnya memahami perkembangan pelajar dari segala aspek terutama pada emosional, sosial, fisik, dan juga karakter pelajar tersebut,
Dilansir dari Kompas bahwasannya krisis mental telah menyerang orang dewasa, remaja, dan anak-anak semenjak adanya isolasi pandemi Covid-19. Selain itu menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey yang dilakukan pada tahun 2022 menunjukan sebanyak 15,5 juta (34,9%) remaja mengalami masalah mental dan sebanyak 2,45 juta (5,5%) mengalami gangguan mental. Menurut survei tersebut gangguan mental banyak dialami pada remaja yang berumur sekitar 10-17 tahun. Berdasarkan pada data yang ada perlu untuk membangun lingkungan yang mendukung emosional dari para pelajar yang bisa diciptakan baik di rumah maupun di sekolah. Dikutip dari BaliPost setidaknya terdapat dua implikasi pemberian dukungan sosial emosional kepada siswa yaitu, terbentuknya kepercayaan diri dan membuka kesempatan bagi pelajar untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang mereka miliki sebagai bentuk dari dukungan sosial emosional yang dapat diberikan oleh guru.
Pemberian wadah berekspresi untuk para pelajar akan menumbuhkan beberapa hal positif antara lain pujian, menghargai sesama, atau terasahnya kemampuan pelajar untuk mengoreksi sesama atau bisa dibilang sebagai saran untuk memacu perkembangan siswa lainnya. Namun, perlu untuk guru memberikan pemahaman terhadap siswa bahwasannya kegagalan merupakan suatu proses pembelajaran yang baik.
Pembentukan sikap positif juga menjadi salah satu bentuk dukungan sosial emosional dikarenakan siswa diajarkan untuk tidak berprasangka buruk dan menumbuhkan pola pikir kesetaraan perlakuan bagi siswa lainnya. Pengaplikasian dukungan emosional ini dengan cara melibatkan seluruh siswa tanpa terkecuali agar siswa merasa dihargai dan setara dengan siswa lainnya. Perlakuan setara yang dimaksud bukan untuk menyamaratakan tetapi untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya menghargai adanya perbedaan seperti suku, ras, agama, dan lainnya.
Tidak hanya di lingkungan sekolah, perlu adanya juga dukungan emosional dari lingkungan keluarga dan juga lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga menjadi pendidikan pertama bagi anak. Dalam keluarga, orang tua memiliki peran yang penting dikarenakan anak akan menjadikan orang tuanya sebagai role model mereka dalam melakukan sesuatu di kehidupannya nanti. Pendidikan keluarga yang maksimal akan menumbuhkan tingginya minat anak dalam belajar dan begitu juga sebaliknya.
Selain itu terdapat lingkungan pendidikan yang tidak kalah penting yaitu lingkungan masyarakat. Di masyarakat tempat tinggal para siswa terdapat norma-norma sosial budaya yang secara tidak langsung harus diikuti oleh warga yang tinggal di lingkungan tersebut.
Maka demikian, Krisis kesehatan mental di kalangan pelajar telah menjadi perhatian global. Tekanan akademis, perubahan sosial, dan tuntutan lingkungan digital mempengaruhi kesejahteraan mental mereka. Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan seperti kecemasan, depresi, hingga burnout. Oleh karena itu, dukungan emosional dari keluarga, guru, serta lingkungan sekolah sangat penting. Pendekatan holistik yang menggabungkan pembelajaran akademis dengan dukungan kesehatan mental terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja akademis dan kebahagiaan siswa. Pendidikan yang berfokus pada kesehatan mental dapat membantu membangun generasi yang lebih seimbang dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
penulis : Muhammad Jad Miqdad

Leave a Reply