Komunitas Jawi Di Mekkah Abad Ke-19

Jawi adalah salah satu sistem penulisan tulisan Arab yang digunakan di Asia Tenggara, terutama di negara-negara seperti Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Sistem penulisan Jawi menggunakan aksara Arab dengan beberapa modifikasi dan tambahan untuk mengakomodasi bunyi-bunyi bahasa-bahasa setempat. Jawi telah digunakan secara luas di masa lalu, terutama sebelum adopsi sistem penulisan Latin, tetapi penggunaannya telah berkurang seiring dengan perkembangan modernisasi dan pengaruh bahasa-bahasa asing.

Adapun Komunitas Jawi adalah istilah yang digunakan untuk umat Islam Nusantara dan Asia Tenggara yang tinggal dan belajar di Makkah, ini membuktikan bahwa semangat tholabul ‘ilmi menjadi salah satu aspek utama kehidupan bagi mereka. Jadi keberangkatan umat Islam Nusantara ke Mekkah bukan hanya dalam rangka menunaikan ibadah haji dari rukun Islam ke 5 saja, tetapi juga tholabul ‘ilmi, sehingga sekembalinya mereka ke tanah air membawa perubahan dan kemajuan  yang begitu besar dalam Transmisi nilai – nilai keislaman.

Fakta menunjukan bahwa Pada akhir abad ke 19 semakin banyak jumlah jama’ah haji dari Nusantara yang melahirkan peningkatan jaringan keilmuan dengan Timur Tengah yang membuat Islam di Nusantara semakin terintegrasi secara penuh dengan pusat Islam. Kemudian berpengaruh besar terhadap peradaban kemanusiaan, keummatan dan corak sejarah Nusantara untuk generasi selanjutnya sampai kini. Sehingga ingin saya katakan, “Merekalah Para Intelek (Ulama) dari Nusantara untuk Nusantara.”

Terbentuknya Komunitas Jawi,  Meningkatkan Jaringan Keilmuan di Nusantara. Makkah menjadi peranan penting sebagai “Jantung Kehidupan Keagamaan di Nusantara” (Snouck Hurgronje 1931 : 291).  Komunitas Jawi memperkuat jaringan yang makin intensif antara Asia Tenggara dan Timur Tengah. Sebagai bukti meningkatnya jaringan tersebut, dengan beredar luas buku – buku agama (kitab) dan meningkatnya permintaan pendapat hukum (fatwa) kepada ulama – ulama Makkah adalah diantara bukti meningkatnya jaringan tersebut. Pengalaman para ulama yang belajar di Makkah berdampak besar pada perkembangan ulama menjadi sebuah komunitas berbeda (distinct community), yang melalui cara itu mereka membangun otoritas keagamaan di antara umat Islam dunia. Itu yang kemudian menjadi bagian terpenting dari pengalaman menjadi para Ulama Nusantara menjadi Komunitas Jawi di Makkah, selain melaksanakan ibadah haji.

Ulama-Ulama Jawi

Dalam kaitan ini, diantaranya ialah : Nawawi Al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Abdul Ghani Sumbawa, Syekh Akhmad Khotib Sambas Kalimantan, Syekh Ahmad bin Zaid dari Solo Jawa Tengah, Yusuf Sumbulaweni, Nahwrawi, Abdul Hamid al-Daghestani, Mahfudz Termas, Pacitan Jawa Timur (1868-1919).

Nawawi Banten (Muhammad Nawawi Al – Bantanai, 1813 – 1897). Beliau tidak hanya mencicipi posisi intelektual terkemuka di Timur Tengah sebagai “Sayyid Ulama al-Hijaz” yang bertarap internasional, tetapi juga salah satu ulama paling penting yang berperan dalam proses transmisi Islam ke Hindia – Belanda. Karya – karyanya berpengaruh besar di Nusantara, bahkan menjadi materi utama yang dipelajari dalam pembelajaran di pesantren (Wijoyo 1997: 108 – 110), sehingga beliau diakui sebagai arsitek pesantren. Menjadi sumber intelektual bagi perkembangan diskursus Islam di Hindia Belanda abada 19.

Dari Komunitas Jawi inilah, di Tangan Nawawi dan Mahfudz, lahir sejumlah ulama terkemuka diantaranya seperti ; Kholil Bangkalan (w.1923) dari Madura, Hasyim Asy’ari (1871 – 1947) dari Jombang Jawa Timur, Wahab Hasbullah (1887-1943) dari Yogyakarta, Asnawi Kursus (1861 – 1959), Mu’amar bin Kiai Badawi dari Lasem, Ma’sum bin Muhammad Lasem dari Jateng, Kiai Abbas Buntet dari Cirebon Jawa Barat, KH Ahmad Dahlan. Sementara dari Banten kampung Halaman Nawawi juga penting disebutkan diantaranya Haji Ilyas dari Serang, Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin, K.H Mas Abdurahman dari Menes Pandeglang Pendiri Mathla’ul Anwar (MA:1916). Dimana kemudian mereka mentransformasikan spirit Nawawi dan Mahfudz ke dalam bentuk pengajaran di Pesantren yang mereka dirikan. Yang kelak akan mewarnai peradaban di Nusantara.

Seperti Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdatul Ulama (NU) pada 1926, menandai puncak solidaritas yang kuat diantara para ulama, KH Mas Abdurahman Mendirikan Mathla’ul Anwar (MA) pada 1916 di Menes Pandeglang – Banten, setelah sebelumnya KH Ahmad Dahlan mendirikan Mumahadiyah (MD) pada 1912.

Ada juga Zaenudin Sumbawa dari Nusa Tenggara yang juga tinggal di Makkah semasa dengan Nawawi, yang kemudian mendirikan Nahdatul Wathon (NW). Sebetulnya masih banyak yang belum di sebutkan yang kemudian menjadi kekuatan Kosmik yang bergerak dibidang dakwah, pendidikan dan sosial, seperti Persatuan Islam (Persis), Alkhaeriyah.  Bermula dari Komunitas Jawi itulah, kemudian bermunculan intelektual – intelektual (ulama nusantara) yang berpengaruh besar mewarnai corak sejarah peradaban sekaligus menjadi Benteng – Benteng kekutan Kosmik di Tanah Air dari abad 19 sampai saat ini.

Perkembangan Komunitas Jawi di Mekkah pada abad ke-19

Mekah, di paruh kedua abad 19, bagaikan “jantung kehidupan” bagi peradaban dan ilmu pengetahuan Islam di seluruh dunia. Selain sebagai tujuan ibadah haji, di masa itu Mekah menjadi pusat  penghasil utama ulama, bersamaan dengan kemunculannya sebagai tujuan belajar umat Islam. Kekuasaan Syarif Usman, penguasa Mekah yang representasi Kesultanan Ottoman Turki yang menguasai tanah Hijaz waktu itu, mendorong tumbuhnya iklim intelektual yang kondusif dimana ulama dari berbagai mazhab hukum Islam yang berbeda-beda dapat hidup. Situasi ini didukung pula perkembangan transportasi laut (dibukanya Terusan Suez dan produksi massal kapal uap) membuat para imigran dari penjuru dunia berdatangan ke kota suci umat Islam itu. Mereka mengisi hampir setengah penduduk Mekah yang mencapai 150.000 jiwa di masa itu. (Burhanudin 2012: 113).

Para ulama dari negeri-negeri Islam pun kemudian mendirikan halaqah (lingkaran pengajaran) di Masjidil Haram bagi rekan-rekan setanah-air mereka yang datang ke Mekah untuk menunaikan haji dan menuntut ilmu. Sedikitnya ada 120 halaqah di Mekah waktu itu, tempat para ulama mengajarkan kepada muridnya berbagai bidang ilmu pengetahuan Islam. Tidak terkecuali kalangan komunitas Jawi—kaum muslim yang berasal dari Hindia-Belanda dan kawasan Asia Tenggara lainnya– di kota suci umat Islam tersebut. Pengalaman komunitas Jawi menghadirkan bukti-bukti munculnya persepsi baru tentang Timur Tengah, khususnya Mekah, di tengah-tengah muslim Nusantara. Mereka yang belajar Islam bermula dari haji, yang menjadi bagian inheren di dalamnya. Mekah tidak lagi dimaknai sebagai pusat spiritual bagi kekuasaan politik bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara, tapi mulai dimaknai sebagai pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Di akhir abad 19 inilah komunitas Jawi menemukan bentuknya, dengan puluhan halaqah yang tersebar di penjuru Mekah. Christian Snouck Hurgronye, dalam salah satu tulisannya, menggambarkan fenomena itu:

“Hampir semua (ulama yang mengajar di Tanah Suci mencapai posisi demikian tinggi karena semata-mata belajar di Mekah…. Karir orang-orang terdidik ini kemudian membentuk bagian sangat penting dari sejarah koloni Jawi, dan menjadi karakteristik utamanya, karena banyak rakyat duduk bersimpuh di kaki mereka seraya memandangnya telah mencapai cita-cita tertinggi dari usaha mereka”. Benih pembentukan komunitas ulama Jawi itu sebenarnya disemai para ulama asal Nusantara di abad 17 (seperti Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf al-Sinkili, dan Muhammad Yusuf Al Maqassari) serta di abad 18 (Syaikh Abd al-Shamad al-Palimbani, Kemas Fakhr al Din, Syihab al Din, dan Muhammad Arsyad al Banjari).

Tradisi itu dilanjutkan pula oleh ulama-ulama Jawi yang bermukim di Mekah pada awal abad 19, seperti: Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Ghani Bima, dan Syaikh Ahmad bin Zaid. Yang paling berpengaruh dari ulama Jawi di abad 18 itu adalah Syaikh Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789). Tokoh ini lahir di Palembang, dari ayah seorang sayid (berasal dari Sana’a, Yaman) dan ibu berdarah Palembang. Sejak kedatangannya di Mekah, al-Palimbani belajar dari ulama-ulama terkemuka Mekah di masa itu. Menurut Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII atau XVIII: “Mengingat jenis ulama dengan siapa dia belajar, pendidikan al-Palimbani sangat tuntas, dia pasti mempelajari ilmu-ilmu seperti hadis, fikih, syariat, tafsir, kalam, dan tasawuf. Al-Palimbani tampaknya mempunyai kecenderungan kuat terhadap mistisisme, dan jelas mempelajari tasawuf terutama dengan al-Sammani, yang darinya dia juga mengambil tarekat Khalwatiyah dan Sammaniyah”. (Azra 2013: 325)

Sejak kedatangannya di Mekah, Syaikh Abd al-Shamad al-Palimbani tidak pernah pulang ke tanah kelahirannya. Meski begitu, ia tetap menaruh perhatian besar terhadap Islam dan kaum muslimin di wilayah Indonesia. Bersama ulama Jawi semasanya, ia juga aktif berkecimpung dalam komunitas Jawi di Mekah dengan mengajar dan menulis cukup banyak kitab. Karya al-Palimbani yang paling terkenal adalah kitab Fadha’il al-Jihad, yang menguraikan keutamaan-keutamaan perang suci menurut Al-Qur’an dan Hadits. Kitab itu juga mewajibkan bagi kaum muslim melancarkan perang suci melawan kaum kafir, terutama kaum penjajah kolonial. Al- Palimbani mengakhiri kitab Fadha’il al-Jihad dengan sebuah doa pendek yang akan membuat kaum mujahidin (orang-orang yang melakukan jihad) kebal tak terkalahkan. (Azra 2013: 374) Kitab Fadha’il al-Jihad ini kemudian disiarkan lewat murid-murid al-Palimbani di berbagai wilayah Nusantara, dan kemudian menginspirasi kaum muslim untuk berjihad melawan kolonialisme Belanda. Hikayat Perang Sabil, syair penyemangat untuk para pejuang saat Perang Aceh (1873-1904), juga terinspirasi dari Fadha’il al-Jihad.

Di paruh kedua abad 19, tokoh yang berperan penting dalam perkembangan komunitas Jawi di Mekah itu adalah Syaikh Nawawi al-Bantani(1813-1897) dan muridnya, Syaikh Mahfudz Tremas (1868-1919). Syaikh Nawawi al-Bantani lahir di Tanara, sebuah desa di Banten, tahun 1813. Ia diasuh kedua orangtuanya dalam pendidkan Islam yang taat. Terutama dari ayahnya, Umar bin Arabi –seorang penghulu yang masih keturunan Sultan Maulana Hassanuddin, yang termasyhur di abad 17- Nawawi memperoleh dasar-dasar ilmu keislaman yang mumpuni. Sebagaimana tradisi santri, Nawawi muda juga belajar berkeliling kepada ulama-ulama terkemuka setempat. Sejak mua, ia memang haus akan ilmu keislaman. Untuk memenuhi dahaga akan ilmu itu, di usia 15 tahun, Nawai melakukan ibadah haji dan menuntut ilmu ke Hijaz.

Di sana ia berguru pada ulama-ulama besar di Makkah dan Madinah. Tiga tahun kemudian, ia pulang kampong ke halamanny. Dia berbekal ilmu keislaman yang diperoleh di Hijaz, Syaik Nawawi mengabdikan diri mengajar para santri di tanah kelahirannya. Syaikh Nawawi al-Bantani kembali menetap di Mekah pada tahun 1855, hingga akhir hayatnya (di tahun 1897). Ia menjadi salah seorang ulama Jawi yang paling terkenal di Haramain. Kali ini, ia belajar kepada sejumlah ulama terkenal di Haramain dan Mesir. Diantaranya: Syekh Ahmad Nahrawi, Syaikh Sayyid Ahmad Al-Dimyati, Syaikh Sayyid Ahmad Dahlan, Syekh Abdul Hamid al-Digitstani. Sehingga pemikirannya juga banyak dipengaruhi ulama-ulama Mesir. Di Madinah ia belajar kepada Syaikh Muhammad Khatib Al-Hambali, ia juga belajar kepada sejumlah ulama Syiria Beliau juga belajar kepada ulama Nusantara yang mukim di Mekah, antara lain: Syaikh Ahmad Khatib Sambas dan Syaikh Abdul Ghani Bima. Kemudian antara tahun 1860-1870, Syekh Nawawi mengajar di Masjidil Haram, sambal dalam waktu senggang menulis buku-buku. Baru, setelah tahun 1970 ia memusatkan aktifitasnya untuk menulis kitab-kitab berbagai ilmu keislaman. Hing Kemasyhuran Syaikh Nawawi al-Bantani meluas di seluruh dunia Arab. Karya-karyanya banyak beredar tertutama di negara-negara yang menganut paham syafi’iyyah. Kitab tafsirnya Marah al-Labid yang terbit di Kairo sangat terkenal dan diakui ketinggian mutunya karena memuat persoalan-persoalan penting hasil diskusi perdebatannya dengan ulama-ulama Al- Azhar. Pada kitab tafsir cetakan Kairo itu dipajang julukan namanya” Sayyid Ulama Hijaz”.

Ketika kitab tafsir ini dicetak pada tahun 1887, tafsir ini masih diajarkannya lansung kepada murid-muridnya, yang kelak menjadi ulama-ulama terkemuka di Nusantara, seperti: KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Khalil Bangkalan, Madura, KH. Asnawi dari Caringin. Dalam pengantarnya Nawawi mengatakan bahwa ia butuh waktu lama membangun keberanian untuk menulis tafsir ini sekalipun dorongan yang bertubi-tubi datang dari berbagai pihak. Ia khawatir terjerumus pada ancaman Nabi yang mengatakan “barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan ra’yunya, maka silahkan mengambil tempat di neraka”. Setelah berhasil membangun keberanian, Nawawi akhirnya memutuskan untuk menulis tafsir ini. Ia menyebutnya sebagai upaya meneladani para ulama’ salaf yang senantiasa  menulis dan membukukan pemikiran-pemikirannya. Menurut Johns, Syekh Nawawi menggunakan metode tafsir tradisional yang banyak memakai hubungan (munasabat) ayat dengan ayat atau surat dengan surat yang terdapat dalam Alqur’an. Marah Labid diakui memberikan kontribusi kepada kekayaan intelektual di dunia Islam. Berkaitan dengan tradisi pesantren di Nusantara, Nawawi memilki kedudukan istimewa dalam kaitan perkembangan intelektual dan produksi ulama. Kitab-kitabnya sangat terkenal dan menjadi sumber bagi pembentukan diskursus Islam berbasis pesantren. Beberapa diantaranya masih menjadi bahan penting bagi pengajaran di pesantren. Mengikuti jejak gurunya, Syaikh Mahfudz Tremas kelahiran Desa Tremas, Pacitan, di tahun 1868 menghabiskan hidupnya di Mekah, memberi pengajaran terutama kepala ulama Jawi di halaqah di Masjidil Haram. Ia juga menjadi guru spiritual para ulama pesantren. Meski dikenal sebagai ahli hadits terutama hadits Buhkhari Mahfudz Tremas juga memiliki pengetahuan mendalam dalam ilmu tafsir, fiqh, tasawuf, dan sebagainya. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari Nusantara, tapi juga dari negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Selatan (terutama India). Kemashyuran Syaikh Mahfudz Tremas tampak ketika ia wafat, di tahun 1919, ribuan kaum muslim menshalatkan dan mengantarkan jenasahnya ke sebuah pemakaman keluarga di Mekah. Pesantren yang didirikannya di Tremas, Pacitan, tercatat sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia, dan hingga kini masih berdiri. Syaikh Nawawi al Bantani dan Syaikh Mahfudz Tremas diakui berperan penting dalam proses transmisi Islam di Nusantara. Mereka juga meletakkan dasar bagi terciptanya jaringan ulama di Jawa dan wilayah lain di Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi komunitas ulama. Selain membangun pesantren, komunitas ulama Jawi ini memiliki hubungan kuat dalam bidang spiritual maupun intelektual.

Penulis: Rafli Januardi


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *