Komunikasi Antar Pribadi

Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid, dan sebagainya. Ciri-ciri komunikasi diadik adalah pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak dekat, mengirimkaan dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal. Prasyarat bagi komunikasi interpersonal ialah membangun hubungan komunikatif diantara para interaktan.

Steward & D’Angelo (Harapan & Ahmad, 2014:4) memandang komunikasi antarpribadi berpusat pada kualitas komunikasi yang terjalin dari masing-masing pribadi. Hubungan ini dibentuk dari struktur maksud interpretif dan maksud ekspresif yang berbalas-balasan (reciprocal expressive and interpretive intentions) diantara para interaktan. Maksud ekspresif ialah tujuan dari satu pihak (sumber) untuk menyampaikan (menjadikan dapat dimengerti) suatu keadaan batin kepada pihak kedua (penerima), sedangkan maksud interpretif ialah tujuan dari penerima untuk memahami ekspresi pihak sumber lain. Jadi hubungan komunikatif terjadi ketika (a) sumber bermaksud menyampaikan suatu keadaan batin kepada penerima, (b) penerima menangkap maksud ekspresif pihak sumber dan mengisyaratkan maksud penyeimbang untuk memerhatikan ekspresi pihak sumber, dan (c) pihak sumber mengerti bahwa maksud ekspresifnya telah ditangkap dan diterima oleh penerima.

Setelah memiliki hubungan komunikatif, para interaktan dapat bertukar pesan dalam upaya menciptakan makna-makna yang dimengerti bersama dan mencapai tujuan-tujuan sosial. Makna adalah keadaan batin (pikiran, gagasan, kepercayaan, perasaan, dll) yang diupayakan komunikator untuk diungkapkan atau disampaikan. Pesan adalah kumpulan ekspresi perilaku, biasanya terdiri dari simbol-simbol yang dimengerti bersama, diproduksi dalam upaya untuk menyampaikan suatu keadaan batin.

Tubbs & Moss (2000:201) Komunikasi yang berlangsung dalam hubungan interpersonal, dimana dalam hal ini hubungan persahabatan, berbeda-beda dalam hal keluasaan (breadth), dan kedalaman (depth). Keluasaan menunjukkan variasi topik yang dikomunikasikan. Sedangkan kedalaman merujuk pada keintiman apa yang dikomunikasikan. Keintiman yang dikomunikasikan dapat dilihat dari kualitas-kualitas yang menyertai komunikasi interpersonal dalam hubungan persahabatan.

Bochner & Kelly (DeVito,1997:259) menyatakan ada lima kualitas umum yang menyertai komunikasi interpersonal dalam hubungan persahabatan, yaitu

a.     Keterbukaan (openness)

Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama komunikator dalam komunikasi interpersonal harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi. Dalam hal ini yang bertindak sebagai komunikator dan orang yang diajak berinteraksi adalah para masyarakat yang terlibat dalam ikatan persahabatan itu sendiri. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Aspek ketiga adalah menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran. Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang dilontarkan komunikator adalah memang miliknya dan ia bertanggung jawab atasnya.

b.    Empati (empathy)

Henry Backrack mendefinisikan empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang dan melalui kacamata orang lain tersebut. Berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang lain yang mengalaminya, berada di tempat yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama. Untuk dapat berempati kita harus memahami keinginan, pengalaman, dan kemampuan orang lain. Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.

c.     Dukungan (supportiveness)

Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita dapat memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap deskriptif, spontan dan profesional. Deskriptif berarti menyampaikan perasaan dan persepsi tanpa menilai. Bersikap spontan berarti bersikap jujur dan terbuka dalam berkomunikasi. Sedangkan profesionalis berarti bersikap tentatif dan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskannya.

d.    Sikap positif (positive-ness)

Sedikitnya ada dua cara untuk mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal, yaitu menyatakan sikap positif dari diri sendiri dan kemudian membawanya dalam interaksi dengan orang lain sehingga tercipta suasana yang positif (menyenangkan) dalam berkomunikasi.

e.     Kesamaan (equality)

Kesamaan adalah keseimbangan kedudukan antara pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. Pihak-pihak yang berkomunikasi sama-sama bernilai dan berharga serta mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Penulis: Tasya Nur Amalya

Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *